Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesepian di Tengah Keramaian: Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme

Thursday, October 08, 2026 | October 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T16:06:36Z


Oleh Samudra Ode

Berita duka kembali menyelimuti generasi muda. Di Malang, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. Kasus lain terjadi di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, ketika seorang pria ditemukan meninggal dunia yang diduga akibat bunuh diri. Sebelum meninggal, ia sempat mengunggah pesan perpisahan di media sosial dan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. (Kompas, 10-09-2026)

Data dari hotline pencegahan bunuh diri mencatat bahwa klien yang menghubungi layanan tersebut sepanjang periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026 didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Data ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental menjadi perhatian serius, khususnya di kalangan generasi muda.

Potret Buram Kapitalisme

Generasi zaman sekarang hidup dalam dunia yang serba terhubung. Mereka memiliki ribuan teman di media sosial dan menerima notifikasi tanpa jeda, tetapi tidak sedikit yang justru merasakan kesepian di dunia nyata. Fenomena ini memperlihatkan sebuah ironi: ketika hubungan digital semakin luas, kedekatan emosional antarmanusia belum tentu semakin kuat.

Persoalan ini tidak cukup dipandang sebagai masalah individu yang kurang kuat iman atau tidak mampu menghadapi tekanan hidup. Ada lingkungan sosial dan sistem kehidupan yang turut membentuk cara manusia memandang dirinya, menentukan standar keberhasilan, serta menyikapi kegagalan dan penderitaan.

Sistem sekularisme-kapitalisme telah memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Sekularisme menempatkan agama sebatas urusan pribadi dan ritual, sementara kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan politik berjalan dengan standar yang tidak menjadikan agama sebagai landasan utama. Akibatnya, generasi dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi kehilangan pegangan yang kokoh ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Ketika akidah tidak lagi dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan, tekanan hidup dapat terasa semakin berat. Seseorang mungkin memiliki pencapaian akademik, pekerjaan, atau pengakuan sosial, tetapi tetap merasa hampa ketika seluruh pencapaian tersebut tidak memberikan ketenangan batin dan makna hidup yang mendalam.

Sekularisme juga memengaruhi cara masyarakat memandang penderitaan. Kesulitan sering kali dianggap sebagai penghalang kebahagiaan, sedangkan kegagalan dipandang sebagai bukti ketidakmampuan diri. Padahal, dalam Islam, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Kehidupan merupakan tempat manusia menjalankan amanah, berikhtiar, dan menghadapi berbagai ujian dengan tetap berpegang pada petunjuk Allah.

Di sisi lain, kapitalisme membentuk standar keberhasilan yang cenderung berorientasi pada pencapaian duniawi, seperti prestasi, karier, materi, dan pengakuan sosial. Masyarakat didorong untuk terus bersaing dan membuktikan keberhasilan melalui ukuran-ukuran tersebut. Ketika seseorang merasa tertinggal dari orang lain, muncul perasaan gagal yang dapat menggerus penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Budaya individualistik yang berkembang dalam sistem ini turut memperberat keadaan. Keberhasilan dianggap sebagai pencapaian pribadi, sedangkan kegagalan sering kali dibebankan kepada individu. Setiap orang dituntut untuk mandiri, kuat, produktif, dan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Akibatnya, orang yang sedang menghadapi kesulitan dapat merasa harus menanggung bebannya tanpa bantuan orang lain.

Media sosial memperkuat tekanan tersebut. Budaya positivity dan glorifikasi pencapaian mendorong orang untuk terus menampilkan kebahagiaan, produktivitas, penghasilan, pendidikan, dan kemenangan. Namun, di balik unggahan yang terlihat inspiratif, seseorang bisa saja menyimpan kesedihan dan pergulatan batin yang tidak diketahui orang lain.

Ketika kehidupan orang lain tampak selalu lebih baik, seseorang dapat terjebak dalam kebiasaan membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketertinggalan kemudian dianggap sebagai kegagalan, sementara kegagalan dipersepsikan sebagai hilangnya keberhargaan diri. Dalam kondisi seperti ini, hubungan digital yang ramai belum tentu mampu menghadirkan dukungan emosional yang dibutuhkan.

Kondisi tersebut juga dapat terjadi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Kesibukan mengejar target ekonomi terkadang mengurangi waktu untuk membangun kedekatan emosional dalam keluarga. Hubungan antartetangga pun dapat menjadi semakin renggang ketika kepedulian sosial tergantikan oleh kesibukan masing-masing. Masyarakat mungkin hidup berdekatan secara fisik, tetapi belum tentu hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

Karena itu, persoalan kesepian tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta setiap individu untuk berpikir positif atau menjadi lebih kuat. Dibutuhkan lingkungan sosial yang mendukung, keluarga yang peduli, masyarakat yang memiliki ikatan kuat, serta sistem kehidupan yang memberikan ruang bagi manusia untuk menjalani hidup secara bermakna.

Melalui sistem pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalistik, negara berpotensi membentuk individu yang lebih berorientasi pada pencapaian material dan persaingan. Pendidikan yang hanya menekankan prestasi akademik tanpa pembinaan akidah yang memadai dapat mengabaikan kebutuhan spiritual generasi. Sementara itu, persaingan ekonomi yang tidak disertai perlindungan sosial yang memadai dapat memperbesar tekanan hidup bagi sebagian masyarakat.

Dengan demikian, kesepian di tengah keramaian bukan semata-mata persoalan individu. Fenomena ini juga mengajak kita mengevaluasi sistem kehidupan yang membentuk pola pikir, hubungan sosial, dan standar keberhasilan manusia.

Islam sebagai Solusi

Islam memandang akidah sebagai fondasi kehidupan. Islam tidak sekadar mengajarkan manusia untuk berpikir positif ketika menghadapi masalah, tetapi juga memberikan pandangan yang menyeluruh tentang tujuan hidup, makna ujian, dan hubungan manusia dengan Allah SWT.

Seorang muslim tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, tidak menganggap kesulitan sebagai tanda bahwa hidupnya sia-sia, dan tidak memandang kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga. Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, bersabar, mencari pertolongan, dan tetap berpegang pada ketentuan Allah.

Allah SWT berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (TQS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan memiliki ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran dan ikhtiar. Namun, kesabaran bukan berarti seseorang harus memendam kesedihan atau menghadapi masalah sendirian. Tangisan boleh hadir, rasa lelah boleh dirasakan, dan pertolongan boleh dicari. Meminta bantuan ketika menghadapi persoalan merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga diri dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Allah SWT juga berfirman:

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir." (TQS. Yusuf: 87)

Keyakinan terhadap rahmat Allah menjadi salah satu sumber kekuatan spiritual bagi seorang muslim ketika menghadapi masa-masa sulit. Islam melarang bunuh diri dan mengajarkan umatnya untuk menjaga kehidupan. Namun, penguatan iman juga perlu disertai kepedulian nyata, pendampingan, dan bantuan yang tepat bagi orang yang sedang mengalami tekanan psikologis.

Selain membangun individu yang berakidah kuat, Islam juga membangun ikatan keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah dan ukhuwah. Tidak seharusnya seseorang dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri ketika orang-orang di sekitarnya mampu memberikan dukungan.

Persaudaraan sesama muslim digambarkan oleh Rasulullah SAW laksana satu tubuh. Apabila satu bagian merasakan sakit, bagian tubuh lainnya turut merasakannya. Gambaran ini bukan sekadar ungkapan persaudaraan, melainkan dorongan untuk mewujudkan kepedulian dalam kehidupan nyata.

Ikatan sosial yang kokoh mendorong keluarga, tetangga, kerabat, dan komunitas untuk saling menjenguk, menolong, mendengarkan, serta menguatkan. Dengan demikian, hubungan antarmanusia tidak hanya didasarkan pada kepentingan ekonomi atau keuntungan pribadi, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan syariat untuk peduli terhadap sesama.

Dalam perspektif Islam kaffah, nilai-nilai tersebut tidak hanya dibangun melalui kesadaran individu, tetapi juga didukung oleh sistem pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan yang berlandaskan akidah Islam. Khilafah, dalam pandangan politik Islam yang diperjuangkan penulis, diposisikan sebagai institusi negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam pengaturan kehidupan.

Sistem pendidikan berbasis akidah Islam diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian Islam, akhlak yang baik, serta kesadaran akan tanggung jawabnya kepada Allah, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ilmu tidak dipisahkan dari nilai dan tanggung jawab moral.

Keberhasilan seseorang pun tidak semata-mata diukur berdasarkan nilai akademik, pekerjaan, jabatan, atau pendapatan. Ketakwaan, akhlak, kemanfaatan bagi orang lain, serta kemampuan menjalani kehidupan sesuai tuntunan Allah menjadi bagian penting dalam memandang keberhasilan.

Di bidang ekonomi, Islam menekankan tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan mewujudkan kesejahteraan. Pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta distribusi kekayaan yang adil menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih sejahtera.

Dengan adanya dukungan keluarga, kepedulian masyarakat, pendidikan berbasis akidah, dan kebijakan negara yang memperhatikan kesejahteraan rakyat, tekanan kehidupan tidak semestinya dibiarkan menjadi beban yang harus ditanggung setiap individu sendirian.

Pada akhirnya, kesepian di tengah keramaian menjadi pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya membutuhkan koneksi digital, pencapaian materi, dan pengakuan sosial. Manusia juga membutuhkan makna hidup, kedekatan dengan Allah, hubungan sosial yang tulus, serta sistem kehidupan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar dan mendorong kepedulian terhadap sesama.

Islam menawarkan pandangan hidup yang menempatkan akidah sebagai fondasi, ukhuwah sebagai penguat hubungan sosial, dan penerapan syariat sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan. Dengan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai landasan, persoalan kesepian dan tekanan hidup dapat dihadapi secara lebih menyeluruh, tanpa mengabaikan kebutuhan individu akan dukungan psikologis dan pertolongan profesional.

Wallahu a'lam.
×
Berita Terbaru Update