Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Wednesday, September 30, 2026 | September 30, 2026 WIB Last Updated 2026-09-29T20:25:42Z



Oleh : Wanti (Aktivis Muslimah)

Kasus percobaan bunuh diri di kalangan remaja kembali mencuat. Seorang mahasiswa berusia 19 tahun dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang identitasnya disingkat RR diduga telah berusaha untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai enam gedung kampus pada 10 September 2026. Tindakan ekstrem RR terjadi di pagi hari Kamis di gedung Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan UB. Dari rekaman CCTV, diketahui bahwa RR memasuki gedung sekitar pukul 08.26 WIB dan menuju ke lantai enam. Dari balik jendela, mahasiswa lain sempat melihat dan berusaha menghentikannya untuk tidak melompat. Kapolsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta, menyebutkan bahwa korban mengalami patah tulang di beberapa bagian, termasuk kaki, tangan, bahu, dan rahang. Penyelidikan yang dilakukan polisi terhadap saksi-saksi, termasuk teman kuliah, dosen, serta pacar korban, mengungkapkan bahwa tindakan berbahaya ini dipicu oleh masalah asmara. Diketahui bahwa RR dan kekasihnya mengalami perselisihan akibat kecemburuan setelah RR menemukan bahwa pacarnya menjalin hubungan dengan pria lain .

Selain itu, seorang pria yang dikenal dengan inisial FS, berusia 30 tahun, ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di area GBK, Jakarta Pusat, pada hari Minggu pagi, 06 September 2026. Peristiwa ini menarik banyak perhatian karena sebelumnya, pria tersebut pernah mengunggah pesan perpisahan dan memberikan sumbangan sebesar Rp40 juta kepada komunitas yang berfokus pada kesehatan mental, serta tempat penampungan hewan, dengan harapan dapat memberikan makanan dan kehidupan yang lebih baik untuk kucing dan anjing liar. Tujuan dari donasi tersebut adalah agar kelompok-kelompok yang menerima dapat membantu dalam memberikan perawatan yang layak bagi hewan-hewan yang membutuhkan.

Insiden ini kembali menggaris bawahi pentingnya upaya pencegahan bunuh diri, terutama mengingat bahwa masalah kesehatan mental semakin sering dikeluhkan oleh generasi muda. Direktur Layanan Kesehatan untuk Kelompok Rentan di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Imran Pambudi, memperingatkan agar isu bunuh diri tidak dijadikan berita utama yang berpotensi memicu tindakan serupa oleh individu lain. Imran juga menyatakan bahwa terdapat layanan gratis yang dapat diakses masyarakat, yakni hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id .Layanan kesehatan mental ini memberikan dukungan psikologis awal serta informasi bagi mereka yang mengalami stres, keputusasaan, atau dorongan untuk mengakhiri hidup .

Adapun data yang diperoleh dari layanan hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id menunjukkan bahwa mayoritas klien yang menghubungi adalah mereka yang berusia antara 21 sampai 30 tahun. Dari 31 Juli 2025 sampai 31 Juli 2026, tercatat 15.979 permintaan layanan, dan di antara jumlah itu, 3.036 orang dinyatakan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Kelompok usia 21 hingga 30 tahun menyumbang 54,08 persen dari total permintaan, diikuti oleh mereka yang berusia antara 11 hingga 20 tahun dengan presentase 33,04 persen. Layanan ini bahkan telah dijangkau oleh anak-anak berusia 8 hingga 10 tahun. Masalah yang sering dialami oleh generasi muda cenderung berkaitan dengan perasaan kesepian .

Jika diteliti lebih jauh, fenomena kesepian yang dirasakan oleh generasi muda saat ini di tengah kerumunan tidak bisa dipisahkan dari sistem kehidupan yang ada. Dalam kerangka pemisahan agama dari kehidupan sehari-hari, generasi muda kehilangan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tantangan hidup. Ketika kebahagiaan hanya diukur berdasarkan pencapaian akademik, jumlah pengikut di media sosial, atau keberhasilan materi, banyak remaja merasa tidak bernilai jika mereka tidak memenuhi standar tersebut. Tanpa adanya iman sebagai perisai, tantangan hidup menjadi terasa berat dan bisa berujung pada keputusasaan .


Di pihak lain, dalam struktur yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, kapitalisme membentuk masyarakat yang bersifat individualis. Setiap orang didorong untuk berjuang sendiri untuk meraih keberhasilan pribadi. Budaya yang menekankan citra kebahagiaan yang tidak nyata dan pencapaian individu di media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu menunjukkan keteguhan dan keceriaan. Akibatnya, banyak yang ragu untuk berbagi berbagai kesulitan karena takut dianggap lemah. Relasi dalam keluarga dan komunitas semakin menjauh, Perasaan kesepian pun semakin meluas, meskipun di antara mereka yang secara materi berada dalam kecukupan dan dikelilingi oleh banyak teman di dunia maya. Namun, mereka sebenarnya merasa tidak memiliki tempat untuk berpegang.

Semua keadaan ini merupakan dampak dari penerapan Sekularisme-Kapitalisme oleh suatu negara. Negara yang menjalankan sistem pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan dan menerapkan ekonomi yang berfokus pada keuntungan material pada akhirnya menghasilkan individu yang lemah dan masyarakat yang tidak peduli. Ketika pendidikan terfokus hanya pada kecerdasan intelektual tanpa penekanan pada akidah dan mental, generasi tersebut akan dengan mudah terjatuh saat menghadapi kegagalan. Saat ekonomi ditekankan pada kompetisi bebas, rasa solidaritas dan dukungan satu sama lain akan semakin memudar .

Islam mengembangkan keyakinan sebagai perlindungan jiwa sejak awal .Seorang pemeluk agama Islam menyadari bahwa hidup merupakan ujian dari Allah Subahanahu wa ta'ala, sehingga kesulitan tidak dianggap sebagai sesuatu yang final. Kepercayaan bahwa mengakhiri hidup sendiri adalah dosa yang serius dan bahwa bertahan dalam kesulitan merupakan bentuk ibadah dianggap sebagai penguat saat menghadapi tantangan dalam hidup. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang mengakhiri hidupnya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat". (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menekankan bahwa tindakan mengakhiri hidup sendiri merupakan perbuatan yang dilarang dalam agama Islam .Kehidupan adalah amanah dari Allah Subhanahu Wa ta'ala dan hanya Dia yang memiliki hak untuk menentukan akhir hidup seseorang. Hadits ini juga berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa tidak peduli seberapa besar masalah yang dihadapi, mengakhiri hidup bukanlah solusi, melainkan akan membawa kesulitan yang lebih besar di kehidupan setelah mati .

Selain itu, agama Islam membangun ikatan yang kuat antara individu, keluarga, dan masyarakat yang didasarkan pada keyakinan. Karena itu, tidak ada individu yang dibiarkan menghadapi tantangan hidup sendirian atau merasakan keterasingan. Dalam pandangan ini, keluarga lebih dari sekadar tempat tinggal, melainkan juga menjadi sumber kasih, perlindungan, nasihat, dan dukungan. Masyarakat pun memiliki kewajiban untuk saling peduli melalui berbagai cara, seperti memberikan bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan atau yang sangat memerlukan bantuan .

Penerapan prinsip-prinsip Islam secara menyeluruh memerlukan peran aktif dari pemerintah. Negara Khilafah menerapkan sistem Islam secara komprehensif. Pemerintahan menerapkan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah, di mana pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan individu yang memahami bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selain itu, sistem ekonomi Islam yang ada dapat memberikan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan. Dengan demikian, akan terbentuk individu yang tangguh dan komunitas yang saling menjaga, bukan generasi yang lemah dan merasa terasing.

Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini tidak terpisah dari penerapan kehidupan sekuler. Dari situ, dibutuhkan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk membentuk generasi yang kuat. Semua itu hanya bisa dicapai jika sistem yang ada menjadikan aturan-Nya sebagai acuan dalam hidup.

Wallahu'alam bisshawab


×
Berita Terbaru Update