Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tembok Membelah Gaza, Alarm Mengokohkan Penjajahan

Monday, August 10, 2026 | Monday, August 10, 2026 WIB



Oleh: Sartinah
(pegiat Literasi)

Zionis Yahudi makin beringas. Seolah tak puas mengintimidasi, menahan, membunuh, dan membombardir tanah Palestina, Israel bahkan terus berupaya mencaplok wilayah itu sedikit demi sedikit. Aneksasi dan genosida makin masif dilakukan di tengah perundingan damai yang terus berulang. Masifnya aneksasi mengakibatkan wilayah Palestina saat ini hanya tersisa 15 hingga 22 persen dari total luas wilayahnya sebelum tahun 1948.

Dahaga menjajah yang belum hilang, kembali dipuaskan. Diam-diam, Israel kembali membangun tembok tanah raksasa untuk memisahkan lebih dari 50 persen wilayah Gaza sebagaimana diungkap melalui citra satelit. Tembok raksasa tersebut memiliki panjang 23 km yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Tembok pembatas yang terdiri atas tanggul tanah dan parit disebut telah melampaui “garis kuning” yang seharusnya menjadi batas antara Palestina dan wilayah yang dikuasai Israel. (Aljazeera.com, 23-7-2026)

Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan bahwa di Khan Younis, tembok pemisah tersebut telah melewati “garis kuning” sepanjang 400 meter. Sementara di satu titik di daerah Rafah, tembok pemisah tersebut mencapai sekitar 1.300 meter di luar dari garis tersebut. Tembok pemisah yang telah dibangun selama beberapa bulan terakhir tersebut telah membelah komunitas Palestina yang infrastruktur, rumah, dan lahan pertaniannya telah hancur sejak genosida tahun 2023 lalu.

Ambisi Zionis atas Palestina

Pembangunan tembok yang membelah Gaza adalah wujud nyata pencaplokan wilayah oleh Zionis Israel. Pembangunan tersebut diklaim untuk memperkuat kontrol keamanan, mencegah keluar masuknya kelompok militan, dan mematenkan pembagian wilayah tersebut demi melindungi militer dari ancaman dan serangan pihak lain.

Proyek pembangunan tembok pemisah tersebut makin memperkuat kekhawatiran internasional dan para analis. Bagaimana tidak, tindakan yang dilakukan Zionis Israel telah mengarah pada aneksasi, pencaplokan wilayah, dan penguasaan permanen atas sebagian besar wilayah Palestina. Hal ini sangat berdampak terhadap rakyat Palestina. Di antara beberapa dampaknya adalah terjadinya penyempitan ruang hidup bagi warga Palestina. Adanya tembok raksasa tersebut membuat warga Palestina makin terdesak ke jalur sempit di kawasan pesisir. 

Pembangunan tembok tersebut juga telah menyebabkan pergeseran batas, yakni dengan mundurnya penanda garis batas secara bertahap. Keberadaan tembok pembatas tersebut sejalan dengan wacana kelompok garis keras Zionis Israel yang berencana membangun permukiman ilegal lainnya di wilayah sebelah utara Gaza.

Proyek pembangunan tersebut telah memicu kekhawatiran internasional bahwa apa yang dilakukan Zionis Israel telah memutus total struktur demografi internal wilayah Gaza. Selain itu, terdapat indikasi bahwa Israel tidak hanya melakukan aktivitas militer di Gaza, tetapi berniat membentuk zona kontrol tetap atas wilayah Palestina.

Kemerdekaan Semu Palestina

Jika menyaksikan ambisi Zionis Israel yang terus menganeksasi wilayah Palestina, dapat dipastikan bahwa entitas penjajah tersebut tidak akan memberikan kemerdekaan bagi wilayah itu. Publik tentu belum lupa saat AS dan Israel membentuk Board of Peace (BoP) dan “New Gaza” dengan dalih ”perdamaian”. Banyak pihak menilai gagasan yang tertuang dalam BoP adalah harapan untuk kemerdekaan Palestina.

Alih-alih memerdekakan Palestina, BoP justru dinilai sebagai legitimasi pendudukan baru atas wilayah Palestina. Anggapan ini didasarkan pada beberapa alasan mendasar, seperti absennya representasi Palestina dalam badan tersebut, langkah awal BoP justru lebih memfokuskan pada pembangunan infrastruktur keamanan atau pos militer ketimbang membangun hunian bagi warga sipil yang terdampak.

Satu hal yang pasti, tidak adanya peta jalan (roadmap) yang jelas dalam kerangka awal BoP mengenai kedaulatan penuh atas Palestina. Hal ini memicu kekhawatiran banyak pihak bahwa wilayah Palestina dikendalikan oleh pihak asing. Atas dasar itu, BoP dan New Gaza hanyalah propaganda yang menipu untuk menguasai Palestina. Badan tersebut tidak akan menyampaikan kemerdekaan Palestina selama diinisiasi oleh pihak penjajah. Berharap kemerdekaan Palestina dari penjajah Israel sama seperti mimpi di siang bolong.

Urgensi Persatuan Umat

Penjajahan atas Palestina tidak akan berakhir selama umat masih berharap pada solusi perdamaian dari negara-negara Barat. Di sisi lain, BoP yang disebut sebagai badan perdamaian yang mengawasi proses stabilisasi, bantuan kemanusiaan, dan pemulihan infrastruktur di Gaza, sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap kaum Muslim dan rakyat Palestina.

Badan perdamaian (BoP) tersebut tidak pernah menyelesaikan masalah mendasar Palestina, bahkan gagal menghentikan agresi Zionis Israel. Karena itu, umat Islam tidak boleh tertipu dengan propaganda negara kafir melalui BoP dan New Gaza. Umat Islam juga tidak boleh mengharap kemerdekaan Palestina dari Zionis Israel dan AS, apalagi berdamai dengan mereka.

Berdamai dengan negara yang secara terang-terangan memerangi umat Islam atau kafir harbi fi’lan (seperti Israel) adalah haram. Hal yang harusnya dilakukan oleh umat Islam bukanlah berdamai dengan Zionis Israel, tetapi menegakkan jihad untuk melawan dan memerangi mereka. Berjihad memerangi Zionis Israel adalah fardu kifayah atas seluruh umat Islam. Allah Swt. berfirman dalam surah At-Taubah: 123, “Hai orang-orang yang beriman, perangilah rang-orang kafir (yakni harbi fi’lan) yang ada di sekitar kalian dan hendaknya mereka merasakan kekerasan dari kalian.”

Namun, ketiadaan institusi Khilafah mengakibatkan umat Islam tidak mampu menegakkan jihad secara sempurna. Jihad memerangi Zionis Israel hanya dilakukan oleh faksi-faksi perlawanan bersenjata yang ada di sana, seperti Hamas, Jihad Islam Palestina, dan faksi lainnya. Sementara itu, para penguasa negeri-negeri Muslim memilih tetap diam.

Nyaris tak ada aksi nyata yang dilakukan para penguasa Muslim terhadap Zionis Israel. Tindakan diplomatik yang dilakukan hanya sebatas mengecam tanpa langkah militer atau boikot total. Bahkan, di antara mereka masih ada yang tetap menormalisasi hubungan dengan Israel, seperti UEA, Mesir, Maroko, Sudan, dll. Ini adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap umat Islam. Bungkamnya para penguasa negeri Muslim justru makin memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.

Karena itu, sudah saatnya umat Islam fokus pada perjuangan menegakkan kembali Khilafah. Menegakkan Khilafah menjadi perkara yang sangat urgen saat ini. Hal ini karena hanya Khilafah merupakan satu-satunya institusi yang akan menjadi junnah bagi rakyat Palestina dan seluruh umat Islam. Hanya Khilafah pula yang akan mengerahkan militer untuk berjihad memerangi entitas Zionis Israel.

Hanya saja, untuk menegakkan kembali Khilafah dibutuhkan persatuan umat. Hal ini karena persatuan umat di bawah naungan Khilafah adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di bawah naungan Khilafah, umat Islam akan bersatu, tidak mudah dipecah belah, ditipu, dan dijajah. Demikianlah solusi Islam untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update