Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pasien BPJS dibully, Bukti Sistem Kesehatan Nirempati

Thursday, August 20, 2026 | August 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T13:18:09Z


Oleh. Novi Ummu Mafa

Baru-baru ini viral unggahan keluhan dari seorang pasien BPJS di media Thread. Unggahan itu berisi kelurahan dari pasien BPJS bernama Yusrizal Tri Chaerawan, yang harus menunggu sekitar delapan jam di IGD (instalasi gawat darurat) untuk mendapatkan ruang rawat inap. (Suara.com, 5/8/2026).

Kasus ini menjadi viral karena unggahannya mendapatkan komentar yang tidak layak serta minim empati dari sejumlah akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan.

Meskipun BPJS telah berjalan selama 12 tahun lamanya, masalahnya masih sama saja dan terus ada. Dari masalah besarnya iuran bulanan, buruknya pelayanan kesehatan,  korupsi, diskriminasi pelayanan,dan lain sebagainya. Maka tak heran semacam Kasus Yurizal ini akan tetap terus bermunculan di negeri ini. 

Potret Sistem Kapitalis

Inilah potret rusaknyaa penerapan sistem kapitalis. Kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar rakyat hanya dijadikan sebagai komoditas bisnis. Negara bertindak hanya sebagi regulator, bukan sebagai pelayan kebutuhan rakyatnha.

Dalam sistem kapitalis, kualitas layanan kesehatan ditentukan oleh seberapa besar atau banyaknya uang yang mampu dibayar. Sistem kapitalis sekuler memisahkan agama dari kehidupan, sehingga melahirkan oknum nakes dan dokter yang nirempati. Mereka memiliki ilmu yang tinggi, tetapi minim akhlak.

Dokter maupun oknum nakes yang berkomentar kurang pantas pada unggahan almarhum Yurizal telah melakukan permintaan maaf, dan mendapatkan sanksi dari instansi tempat mereka bekerja serta sanksi sosial dari masyarakat. Tapi hal ini sejatinya bukanlah solusi yang hakiki.

Sistem Islam Menjamin Kesehatan

Kesehatan dalam Islam adalah hak dasar bagi semua rakyat. Haram untuk dikomersialisasi dan tidak boleh ada diskriminasi dalam bentuk apapun. Negara wajib menyediakan pelayanan kesehatan yang merata, maksimal dan mudah diakses di seluruh masyarakat. Pasien juga tidak dibedakan berdasarkan status sosial maupun kemampuan atau kelas ekonomi, semua memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sejarah mencatat pada abad ke-14. Rumah Sakit Bimaristan Al Mansuri, memberikan pelayanan pengobatan seperti, obatan-obatan, rawat inap, makanan, hingga perawatan pasca pengobatan dilakukan tanpa memungut biaya sepeserpun.

Negara Islam menyediakan rumah sakit keliling untuk membantu pasien di daerah terpencil maupun yang terkena bencana. Rumah sakit Islam juga melayani siapa saja, baik muslim maupun non muslim serta tamu (bukan penduduk daulah islam). Semua itu dilakukan karena satu prinsip. Yakni menjaga jiwa manusia adalah amanah, dan hal itu merupakan salah satu tujuan penerapan syari'at Islam.

Islam juga memiliki sistem pendidikan yang melahirkan generasi berkepribadian Islam. Faqih fiddin dan menguasai berbagai ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan. Pada masa kejayaan Islam lahir para ilmuwan maupun praktisi kesehatan terkemuka yang menjadi rujukan dunia seperti Ibnu Shina. Dalam Islam adab lebih utama dari ilmu, sehingga para nakes dituntut memiliki sikap yang baik, sopan santun serta menghormati menjaga kehormatan pasien.

Dalam sistem Islam pendidikan dijamin penuh oleh negara sehingga masalah biaya tidak akan menjadi beban bagi para peserta didik. Pelajar hanya fokus belajar dan memperdalam ilmunya.

Semua ini disediakan oleh negara melalui kas baitul mal. Sumbernya berasal dari diantaranya fa'i, kharaj, zakat, jizyah serta pengelolaan harta yang merupakan kepemilikan umum (air, padang rumput dan api) hal ini berdasarkan hadis nabi saw. Sehingga tidak ada yang namanya komersialisasi maupun diskriminasi layanan kesehatan.

Semua mekanisme ini hanya bisa dilakukan ketika sistem Islam diterapkan dalam segala aspek kehidupan manusia. Dengan penerapan sistem Islam secara Kaffah tentunya.

Wallaahu a'laam bisshawaab.
×
Berita Terbaru Update