Oleh
Deni Marliani, S.Pd (Pegiat Literasi)
Setelah lebih dari 2,5 tahun pemboman terus-menerus, warga Gaza kini menghadapi krisis tempat tinggal yang semakin parah. Skala kerusakan fisik diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar, tetapi kenyataannya diukur dalam hal kemanusiaan: rumah tangga tanpa air atau listrik; anak-anak tidur di tenda yang robek; dan tikus berkembang biak di bawah reruntuhan di dekatnya. Lebih dari 92 persen rumah telah rusak atau hancur akibat perang Israel.
Dilansir dari Repbulik.Co.Id (23/7/2026), militer Israel terus mengembangkan pengaruhnya di Jalur Gaza hingga ratusan meter melewati yang dikenal sebagai "Garis Kuning". Dengan langkah ini, area yang berada di bawah kontrolnya kini mencapai sekitar 65 persen dari luas total Jalur Gaza.
Dalam laporan media dijelaskan bahwa perluasan ini sebagian besar berbentuk tanggul tanah dan jaringan parit yang menjangkau beberapa kilometer ke dalam area Jalur Gaza. Surat kabar tersebut melaporkan bahwa angkatan bersenjata Israel telah membangun sedikitnya tiga basis baru di Jalur Gaza dalam bulan-bulan terakhir, yang mencakup satu basis di daerah kamp pengungsi di bagian tengah, satu lagi di sisa-sisa Bani Suheila, dan satu lagi di dekat laut serta batas Mesir.
Israel dengan sembunyi-sembunyi mendirikan dinding tanah besar yang memisahkan Jalur Gaza. Penduduk Palestina semakin terjepit ke area sempit di tepi laut. Dinding tersebut dibangun setelah ada laporan yang menunjukkan bahwa Israel terus mengambil alih sebagian wilayah Gaza dengan menarik kembali marker garis kuning sejak akhir tahun 2025. Di pertengahan tahun 2026, beberapa menteri ekstremis Israel mengumumkan rencana untuk mendirikan permukiman ilegal di utara Gaza. (Kompas/id/21/7/2026).
*Utopis : Kemerdekaan di BoP dan New Gaza*
Membangunan tembok yang membagi Gaza menegaskan ambisi entitas Zionis Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza hingga tak bersisa. Jika kita melihat track record, Israel sudah sering kali menyatakan kesediaan untuk melakukan gencatan senjata. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Ketika gencatan senjata disepakati di pagi hari, pada malam harinya, Palestina sudah kembali diserang. Sangat mengecewakan. Pernyataan dan kesepakatan yang dibuat dengan pihak zionis Yahudi tersebut tidak ada artinya. Israel jelas tak akan pernah memberikan kemerdekaan pada rakyat Palestina sekalipun dunia menentang.
Oleh karena itu, apa yang kita harapkan dengan adanya BoP dan New Gaza ini? Apakah hanya akan menambah angka korban dari genosida yang sedang berlangsung di Palestina? Genosida yang, secara tidak langsung, dipersembahkan oleh dukungan Indonesia dan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Padahal, sebagian besar warga Indonesia sangat mendukung penuh upaya pembebasan untuk Palestina. Sayangnya, dunia terlalu naif, percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Gencatan Senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel melanggengkan penjajahan di Palestina.
Dunia Islam saat ini tidak memiliki daya untuk melawan pengaruh negara-negara besar yang mendukung Israel. Situasinya semakin buruk, beberapa negeri muslim bahkan mulai menjalin hubungan resmi dengan Israel. Para pemimpin negeri-negeri muslim tidak memiliki keberanian untuk melawan negara penjajah seperti AS-Israel, dengan dalih untuk menjaga stabilitas wilayah dan menghindari konflik yang lebih besar. Mereka bahkan bersedia untuk terlibat dalam BoP. Kemana hilangnya para pemimpin negeri-negeri muslim? Dengan jumlah dan kekuatan angkatan bersenjata yang besar, serta potensi sumber daya alam yang melimpah, tentu saja Israel merupakan persoalan kecil jika mereka bersatu di bawah satu komando seorang pemimpin.
*Tinjaun Islam*
Karena itu, umat Islam tidak dapat lagi bergantung pada dunia internasional, termasuk para pemimpin mereka yang seringkali menggunakan isu Palestina hanya untuk kepentingan citra. Dan memang, pada akhirnya, persatuan kaum Muslim menjadi sesuatu yang sangat jarang terjadi saat ini. Umat Islam tak boleh tertipu dengan propaganda negara kafir (BoP dan New Gaza). Berdamai dengan entitas Zionis Israel haram. Menegakkan jihad melawan entitas Zionis Israel hukumnya fardhu kifayah atas seluruh umat Islam.
Sikap umat Islam harus tegas, zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Gencatan senjata terjadi bukan karena adanya tekanan dari Trump kepada Netanyahu, melainkan karena pihak Zionis tidak mampu mengalahkan masyarakat Gaza. Ini adalah kenyataan, ketahanan warga Gaza meski mengalami kelaparan, dibunuh, serta kehilangan banyak pemimpin perjuangan yang syahid, mereka tetap berjuang dan mempertahankan tanah mereka, yang telah membuat pihak Zionis ketakutan.
Oleh karena itu, umat Islam yang kini menyadari bentuk propaganda Barat seharusnya turut menyuarakan kebenaran. Mereka perlu terlibat langsung untuk memberikan pencerahan kepada umat, termasuk dalam membentuk opini publik yang mengedepankan kebenaran. Umat harus paham bahwa Palestina tidak akan meraih kebebasan selama masih ada yang mendukung agenda Amerika, apalagi jika negara-negara Muslim tetap berada di bawah pengaruhnya.
Palestina baru bisa bebas jika umat muslim di seluruh dunia menyadari bahwa kita saat ini terpecah menjadi banyak negara dengan pemimpin masing-masing. Umat perlu bersatu di bawah satu komando, di mana segala aktivitas berjalan berdasarkan hukum Allah, bukan berorientasi pada kepentingan sempit seperti yang dilakukan banyak negara Muslim saat ini.
Kita juga harus malu jika tidak meneladani ketahanan masyarakat Gaza. Mereka berjuang mempertahankan kehormatan umat Islam, melindungi tanah para Nabi, dan menjaga kiblat pertama dari kendali Zionis. Mereka berjuang dengan segenap jiwa, raga, keluarga, dan harta. Pembebasan Palestina hanya akan tercapai jika umat Muslim menyadari potensi masing-masing dan pentingnya bersatu di bawah naungan Daulah Islamiyah.
Ketiadaan Khilafah menyebabkan umat Islam tak bisa menegakkan jihad secara sempurna. Umat harus terus diingatkan terkait pengkhianatan penguasa muslim, serta mengajak umat fokus pada perjuangan menegakkan Khilafah yang akan menjadi junnah bagi rakyat Palestina dan seluruh umat Islam. Persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di bawah Khilafah umat Islam tidak akan mudah tertipu, dipecah belah dan dijajah. Wallahu alam bishshowab.

No comments:
Post a Comment