Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BoP dan New Gaza adalah Tipuan: Palestina Hanya Merdeka dengan Sistem Islam

Friday, August 07, 2026 | Friday, August 07, 2026 WIB



Oleh Rukmini 
Aktivis Muslimah




Nusantaranews.net, Mereka belum selesai membom. Sekarang mereka membangun. Citra satelit terbaru, Selasa 21 Juli 2026, membongkar proyek rahasia Zionis Israel: tembok tanah raksasa sepanjang 23 km yang membelah lebih dari separuh Jalur Gaza. Tembok itu tidak dibangun di garis batas. Ia dibangun di tengah-tengah. Melintasi permukiman Palestina yang sudah diratakan bom. Melintasi kamp pengungsi. Melintasi sisa-sisa rumah 2 juta jiwa yang terkurung. Ini bukan tembok keamanan. Ini tembok penjajahan. Ini adalah pengumuman resmi bahwa Israel tidak pernah berniat keluar dari Gaza. Bahwa "gencatan senjata", "BoP", "New Gaza" hanyalah kosmetik di atas luka. Associated Press melaporkan proyek ini dikerjakan diam-diam dalam beberapa bulan terakhir. 23 kilometer. Membelah Gaza utara dan selatan. Tujuannya jelas: memperluas pemisahan. Memecah Gaza menjadi kantong-kantong kecil yang mudah dikontrol. Membuat 2 juta penduduk Palestina hidup dalam penjara yang lebih kecil lagi di dalam penjara besar. news.republika.co.id, Kamis (23/07/2026)

Ini pola lama Zionis. Pertama hancurkan, lalu sekat, lalu klaim. Tepi Barat sudah begitu. Sekarang giliran Gaza. Setelah dibombardir habis-habisan, giliran tanahnya dicaplok dengan beton dan tanah urug.

Dunia? Sibuk bicara "solusi dua negara". Sibuk bahas "rekonstruksi Gaza". Sibuk jual mimpi "BoP-Better of Palestine" dan "New Gaza" yang katanya akan membawa kesejahteraan. Padahal di lapangan, Israel sedang membangun tembok permanen. 

Pembangunan tembok ini menelanjangi kebohongan besar:

Pertama, Israel tidak akan pernah memberi kemerdekaan pada Palestina. Titik. Sejarah 75 tahun sudah membuktikan. Setiap kali ada perundingan, balasannya adalah permukiman baru. Setiap kali ada gencatan senjata, balasannya adalah aneksasi baru. Tembok 23 km ini adalah tanda tangannya.

Kedua, narasi "BoP" dan "New Gaza" adalah propaganda untuk melenakan. Tujuannya mengalihkan perhatian dunia dari pendudukan menjadi "pembangunan". Seolah masalah Palestina adalah kemiskinan, bukan penjajahan. Seolah solusinya adalah bantuan, bukan kemerdekaan. Ini tipuan. Kemerdekaan tidak akan pernah lahir dari tangan penjajah.

Ketiga, berharap pengakuan negara Palestina dari Israel adalah kebodohan politik. Penjajah tidak akan pernah mengakui yang dijajahnya merdeka. Itu bunuh diri bagi mereka. Selama ada Zionis, tidak akan ada Palestina merdeka. Selama ada penjajahan, tidak akan ada damai.

Inilah wajah asli entitas Zionis: serigala yang memakai jas diplomat. Tangan kanannya menandatangani perjanjian, tangan kirinya membangun tembok.

Umat Islam sudah terlalu lama tertipu. Sudah terlalu lama percaya pada solusi sekuler: PBB, Dewan Keamanan, konferensi damai, negara donor. Hasilnya? Gaza makin kecil, korban makin banyak, tembok makin panjang.

Islam punya jawaban yang berbeda. Jawabannya bukan meja perundingan. Jawabannya adalah pembebasan:

Pertama, secara hukum syara: berdamai dengan Zionis haram. Palestina adalah tanah wakaf umat Islam. Tidak boleh diserahkan sejengkal pun. Menyerahkan kepada penjajah sama dengan mengkhianati darah para syuhada. Allah berfirman: “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” [QS. Al-Baqarah: 120]. Jadi opsi "damai" dengan Zionis sudah tertutup dari awal.

Kedua, secara kewajiban: jihad melawan Zionis adalah fardhu kifayah.
Ketika tanah kaum Muslimin dijajah dan umatnya dibantai, maka wajib bagi kaum Muslimin untuk mengangkat senjata mengusirnya. Ini bukan "terorisme". Ini pembelaan diri. Ini perintah agama. Tapi hari ini jihad tidak bisa ditegakkan secara sempurna. Kenapa? Karena tidak ada yang memimpin.

Ketiga, sebab utama kekalahan: tidak adanya sistem Islam.
Lihatlah para penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka sibuk menjaga kursi, menjaga normalisasi, menjaga bantuan dari Amerika. Mereka mengkhianati Gaza dengan bungkam. Mereka memblokir tentaranya untuk bergerak. Mereka lebih takut pada sanksi Barat daripada azab Allah.

Inilah akibat tidak adanya sistem Islam. Tidak ada negara yang menyatukan 2 miliar umat Islam. Tidak ada Khalifah yang menjadi junnah-perisai-bagi rakyatnya. Jika ada sistem Islam hari ini, tentara dari Mesir, Yordania, Turki, Pakistan sudah bergerak. Tembok 23 km itu akan dirobohkan dalam seminggu.

Karena itu, tugas kita sekarang bukan lagi demo basa-basi. Bukan lagi donasi tanpa henti. Tugas kita adalah menyadarkan umat: bahwa satu-satunya jalan membebaskan Palestina adalah menegakkan sistem Islam. 

Di bawah sistem Islam, umat bersatu, tidak ada pecah belah Suni-Syiah, Arab-Ajam, Baitul Maqdis akan dibebaskan, Gaza akan utuh kembali, dan Zionis akan diusir ke tempat asalnya.

Tembok 23 km itu adalah tantangan. Tantangan bagi seluruh umat Islam. 

Selama kita masih berharap pada BoP dan New Gaza, maka tembok itu akan jadi 46 km, 100 km. Selama kita masih percaya penguasa saat ini, maka Gaza akan terus terkepung.

Cukup sudah. Saatnya umat bangkit dengan aqidah dan persatuan. Saatnya kita menuntut tegaknya sistem Islam yang akan menjadikan darah Palestina berharga kembali. Karena Palestina tidak akan merdeka dengan resolusi. Palestina hanya akan merdeka dengan bendera tauhid berkibar di atasnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update