Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengokohkan Ketahanan Gen Z di Tengah Badai Depresi

Saturday, July 18, 2026 | Saturday, July 18, 2026 WIB





Oleh Rika Kamila, S. Ag.
Aktivis Muslimah

Nusantaranews.net, Menurut LaporanThe Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey, generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang memiliki keunikan tersendiri salah satunya generasi ini memiliki kesadaran yang tinggi akan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya (self-awareness) dan lingkungan disekitarnya. 

Generasi  Z  tumbuh  di  era  yang  ditandai  dengan  perubahan  sosial dan ekonomi yang cepat. Mereka menyaksikan berbagai peristiwa penting dunia, seperti krisis ekonomi  global  2008,  pandemi  COVID-19,  dan  perang  Rusia-Ukraina. 

Perubahan-perubahan  ini  menimbulkan  ketidakpastian  dan  kecemasan  bagi  generasi  Z. Hasil  survei Deloitte  pada  tahun  2023 dengan  jumlah responden sebanyak 14.483 orang Gen Z dari 44 negara menunjukkan bahwa kekhawatiran utama Gen Z adalah biaya hidup (53%). Kekhawatiran lainnya adalah pengangguran (22%), perubahan iklim (21%), kesehatan  mental  (19%),  dan  keamanan  pribadi  (17%). Oleh karena itu, tekanan yang dirasakan pada sebagian besar aspek terpenting kehidupan membuat generasi Z dikenal pula dengan masalah kesehatan mentalnya. 

Faktor penyebab utamanya antara lain tekanan media sosial dan digital, pengaruh budaya, serta standar hidup yang tidak realistis yang memicu kecemasan dan rendah diri. Maraknya cyberbullying, tuntutan prestasi yang tinggi, kurangnya dukungan dari keluarga, konflik keluarga, serta gaya hidup yang tidak sehat seperti sering begadang dan minim aktivitas fisik, semakin memperburuk kondisi tersebut.

Faktor-faktor di atas tertuju pada akar masalah sistem kehidupan yang dibentuk oleh peradaban kapitalisme dan sekulerisme. Sekulerisme adalah pemisahan nilai spiritual/agama dari kehidupan sehari-hari. Ia menyutradarai krisis eksistensial dan jati diri generasi Z. Ketika nilai-nilai agama dibatasi pada ranah pribadi/privat, generasi berpotensi mengalami krisis identitas yang ditandai dengan hilangnya pegangan nilai. Tanpa pondasi nilai moral yang ada pada agama, nilai benar-salah menjadi relatif yang mana mudah membawa mereka ke dalam tren global yang belum tentu sehat bagi mental dan jiwanya. 

Kemudian, disorientasi hidup akan mewarnai generasi Z, di mana standar sukses diartikan sempit, mereka diarahkan kepada validasi duniawi, yang apabila tidak tercapai dapat memicu kecemasan, depresi, hingga perasaan hampa. 

Kapitalisme sebagai sebuah sistem hidup yang membutuhkan konsumen aktif agar roda ekonomi ‘mereka’ (pemilik modal) terus berputar turut menargetkan generasi Z. Dengan memanfaatkan rasa ingin tahu dan kebutuhan pengakuan diri Gen Z, mereka membuat standar/nilai yang bertumpu pada apa yang dimiliki seperti pakaian, gawai, kendaraan atau apapun yang dapat ditampilkan, terutama di media sosial. Dihembuskan pula gaya hidup hedonis (menikmati hiburan, kepuasan instan, dan tren konsumtif) yang menjebak generasi Z untuk mengejar kesenangan jangka pendek.

Belum lagi, Generasi Z kembali diposisikan sebagai generasi yang gagal menghadapi realitas. Dari mimbar politik, tudingan bahwa anak muda terlalu rapuh, terlalu mudah menyerah, atau terlalu sibuk mengeluh terus diulang seperti dogma yang tidak pernah diuji. 

Padahal, realitas generasi Z memang dihadapi dengan peluang ekonomi menyempit, utang publik membengkak, harga aset melonjak tak terjangkau, dan struktur kekuasaan terkonsentrasi di tangan generasi yang lebih tua. Akhirnya, mereka bukan hanya “anak muda” secara biologis, tetapi “korban struktural” dari rezim kebijakan yang membebani masa depan mereka demi kepentingan masa lalu.

Kelemahan yang dirasakan Generasi Z hari ini sebagai tanda bahwa ia memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang sedang terjadi disekitarnya. Muncul pula dari Generasi Z ini sikap kritis mempertanyakan urgensi dari sebuah kebijakan yang lahir di sekitar mereka. Belum lagi, jiwa sosial kepedulian yang dicerminkan oleh Generasi Z ini cukup tinggi. Dari gambaran tersebut, Generasi Z justru berpotensi melahirkan kehidupan yang lebih baik dan menjadi motor perubahan selama ia diarahkan dengan pola pikir dan pola sikap yang tepat.

Dunia hari ini sedang mencatat berbagai krisis multidimensi yang akut—mulai dari degradasi moral, ketimpangan ekonomi yang ekstrem, hingga krisis kesehatan mental yang melanda generasi muda. Peradaban sekuler-materialistik gagal memberikan ketenangan jiwa dan keadilan sosial bagi manusia. Islam bukan sekadar agama ritual (hubungan manusia dengan Tuhan), melainkan sebuah sistem kehidupan (way of life) yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, keadilan akan tegak dan kezaliman akan runtuh. Rahmat (kasih sayang dan kebaikan) ini tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi juga oleh non-Muslim, bahkan berdampak positif pada kelestarian alam.

Islam memberikan kepastian hukum yang adil di dunia dan kejelasan visi hidup untuk di akhirat, sehingga mendatangkan ketenangan hakiki (thuma'ninah) dalam jiwa manusia. Karakter mereka dibentuk oleh integrasi yang utuh antara pola pikir (Aqliyyah) dan pola sikap (Nafsiyyah) yang bersumber dari akidah Islam. Mereka adalah manusia yang bertakwa, berintegritas tinggi, jujur, dan memiliki etos juang yang besar. Mereka tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Lahirlah ilmuwan-ilmuwan besar yang sekaligus ulama, seperti Ibnu Sina (pakar kedokteran dan hafidz Al-Qur'an), Al-Khwarizmi (penemu aljabar), hingga Al-Biruni. Mereka menguasai sains dan teknologi untuk kemaslahatan umat, bukan untuk keserakahan.

Negara wajib meriayah (mengurus) seluruh urusan rakyatnya. Jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar—seperti sandang, pangan, papan, serta fasilitas publik gratis berkualitas seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan—diberikan secara adil tanpa memandang kasta sosial atau agama. Negara bertindak sebagai perisai yang melindungi darah, harta, kehormatan rakyat, serta menjaga kesucian akidah masyarakat dari pemikiran-pemikiran yang merusak. Dengan support system negara yang kuat ini, kesejahteraan bukan lagi fasilitas mewah bagi segelintir orang, melainkan hak yang dirasakan oleh seluruh umat.

Maka, Generasi Z hari ini perlu menjauhi sifat kelalaian, kesenangan hedonistis, dan sikap apatis. Terus peduli dan memikirkan urusan umat (ihmâm bi amril muslimîn). Kemudian, menjadikan Islam sebagai pandangan hidup yang menuntun setiap aktivitas mereka. Memulai dengan mempelajari, mendakwahkan, dan memperjuangkan Islam agar kembali menjadi sistem kehidupan. Dengan sistem hidup Islam, In Syaa Allah terwujud kehidupan yang sejahtera, damai, dan tenteram. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update