Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi AKI Tinggi Saat Jumlah Dokter Kandungan Surplus

Friday, July 10, 2026 | Friday, July 10, 2026 WIB



Penulis Nanih Nurjanah 
Komunitas Muslimah Coblong

Nusantaranews.net, dilansir dari Koranindo Pos, Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mengungkapkan keprihatinannya terkait angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, dalam peringatan Hari Kartini di Rumah POGI, Pegangsaan, Menteng, pada Selasa (21/4/2026).

Prof. Budi menjelaskan bahwa berdasarkan data yang ia peroleh, angka kematian ibu mencapai 189 kasus per 100.000 kelahiran. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. ”Di sisi lain, setiap tahun lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21.000 kematian. Itu setara dengan satu perempuan meninggal setiap 25 menit,” ungkapnya.

Prof. Budi melanjutkan, kondisi tersebut diperparah oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, kesenjangan wilayah, norma sosial, stigma, hingga kekerasan berbasis gender yang membatasi perempuan dalam memperoleh layanan kesehatan reproduksi. ”Akibatnya, banyak kasus terdeteksi terlambat dan sudah mencapai tahap komplikasi,” jelasnya.

Tragedi di Balik Surplus Tenaga Medis

Sangat ironis ketika tragedi kematian ibu terus berulang di tengah surplusnya jumlah dokter kandungan di Indonesia. Masalah utamanya bukan sekadar kurangnya tenaga medis, melainkan distribusi yang timpang. Mayoritas dokter kandungan terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah pelosok, khususnya wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), minim akses tenaga medis.

Kesenjangan ini terjadi karena tingkat kesejahteraan dan fasilitas di daerah terpencil tidak mampu menandingi kota besar. Dampaknya, ibu hamil di daerah terpencil harus menempuh perjalanan ekstrem—melewati hutan atau menyeberangi sungai tanpa jembatan—untuk mencapai fasilitas kesehatan. Tidak jarang, ibu meninggal dalam perjalanan karena tidak tersedianya ambulans atau akses jalan yang memadai.

Kegagalan Sistem Kapitalisme

Tingginya AKI merupakan indikator bahwa negara gagal menjalankan kewajibannya dalam melindungi nyawa ibu. Dalam sistem kapitalisme, kesehatan sering kali diposisikan sebagai komoditas yang berorientasi pada keuntungan (profit-oriented), bukan pelayanan dasar rakyat. Negara hanya berperan sebagai regulator, bukan sebagai pengurus (ra’in) bagi rakyatnya.

Pola kapitalistik ini menciptakan tiga masalah utama:

  1. Sentralisasi Tenaga Medis: Dokter menumpuk di kota karena insentif dan fasilitas yang lebih menjanjikan.

  2. Abai terhadap Pelosok: Daerah terpencil tidak mendapatkan insentif yang cukup, sehingga minim tenaga kesehatan.

  3. Infrastruktur yang Tidak Ekonomis: Pembangunan jalan, jembatan, dan sarana ambulans di pelosok sering terabaikan karena dianggap tidak menguntungkan secara finansial.

Islam: Solusi Sistemik bagi Nyawa Ibu

Dalam pandangan Islam, kesehatan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Islam memegang prinsip bahwa nyawa manusia adalah kewajiban negara untuk dilindungi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Imam (Khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR Bukhari).

Negara dalam sistem Khilafah akan menerapkan langkah-langkah strategis:

  • Pemerataan Fasilitas & Nakes: Negara menjamin ketersediaan rumah sakit, puskesmas, dan tenaga medis yang tersebar merata hingga ke pelosok. Pendanaannya diambil dari Baitulmal, sehingga layanan kesehatan diberikan secara gratis bagi rakyat.

  • Infrastruktur sebagai Penunjang: Pembangunan jalan dan jembatan ke daerah terpencil dilakukan sebagai kewajiban negara untuk menjamin akses layanan kesehatan, meskipun proyek tersebut tidak menguntungkan secara ekonomi.

  • Pendampingan Proaktif: Negara memberikan edukasi dan pendampingan bagi ibu hamil melalui bidan desa dan posyandu yang aktif hingga tingkat RT.

  • Sanksi Tegas: Islam menerapkan sanksi bagi pejabat yang lalai. Jika terjadi kematian karena kelalaian negara dalam menyediakan akses, hal tersebut dianggap sebagai kejahatan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

Kematian ibu saat melahirkan memang merupakan musibah, namun jika hal tersebut terjadi karena tidak adanya dokter, akses jalan, dan sarana kesehatan padahal negara memiliki kekayaan SDA, maka itu adalah bentuk pengabaian sistemik. Sudah saatnya kita memperjuangkan perubahan sistem pendidikan dan kesehatan, dari sistem kapitalis yang rusak menuju sistem Islam yang memuliakan nyawa manusia.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update