Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Emas atau Indonesia Cemas? Alarm untuk Masa Depan Umat

Wednesday, July 08, 2026 | Wednesday, July 08, 2026 WIB




Oleh: Neny Nuraeny 
Pendidik Generasi 

Sebagaimana dikutip dari Trito.id. Indonesia sedang menghadapi darurat kesehatan mental pada generasi muda. Hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 yang disampaikan Budi Gunadi Sadikin menunjukkan hampir 10% atau sekitar 700 ribu anak mengalami gejala gangguan kesehatan jiwa, dengan 4,4% mengalami kecemasan dan 4,8% mengalami depresi. Temuan ini menguatkan data sebelumnya, di mana Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat 7,28% anak mengalami masalah kesehatan mental, dan lebih dari 62% di antaranya juga mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena survei I-NAMHS 2022 mengungkap 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara tren percobaan bunuh diri pada anak meningkat tajam dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023. Tragisnya, tekanan hidup bahkan telah merenggut nyawa anak-anak, seperti kasus di Kabupaten Ngada di mana seorang siswa SD diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah. Ini menjadi alarm bahwa tanpa solusi mendasar, mimpi Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi bayang-bayang “Indonesia Cemas.”

Saat Muda Kehilangan Arah

Meningkatnya angka kecemasan dan depresi pada anak serta remaja bukan sekadar persoalan individu, namun juga cerminan dari krisis yang sedang melanda kehidupan hari ini. Tekanan ekonomi keluarga, ketidakstabilan sosial, beban akademik, derasnya arus informasi digital, hingga maraknya kekerasan fisik maupun verbal menjadi faktor yang terus menekan kondisi mental generasi muda. Mereka tumbuh di tengah dunia yang penuh tuntutan, tetapi minim ruang aman untuk bertumbuh dan didengar. Wajar jika banyak dari mereka akhirnya merasa cemas, kehilangan arah, bahkan putus asa.

Lebih dari itu, potensi besar generasi muda sebagai aset umat justru dilemahkan oleh peradaban sekuleristik kapitalistik yang mendominasi kehidupan. Sistem ini membentuk pola pikir bahwa nilai diri ditentukan oleh materi, pencapaian, popularitas, dan validasi manusia. Akibatnya, generasi muda terus dipaksa mengejar standar hidup yang melelahkan, sementara ruhiyah dan jati diri mereka diabaikan. Mereka dijejali hiburan tanpa batas, budaya instan, dan gaya hidup bebas yang perlahan merusak fitrah serta menjauhkan mereka dari tujuan hidup yang hakiki. Inilah yang membuat banyak pemuda kehilangan pegangan, padahal Allah Swt telah menetapkan bahwa hidup bukan sekadar mencari kesenangan dunia, tetapi beribadah dan tunduk pada aturan Nya.

Di sisi lain, abainya kepengurusan negara terhadap generasi membuat masalah ini makin kompleks. Negara belum hadir secara utuh sebagai pelindung dan pembina generasi, bahkan sering kali hanya bergerak ketika masalah sudah membesar. Ironisnya, alih-alih dirangkul dan dipahami, generasi muda justru kerap diberi stigma negatif oleh generasi di atasnya, dianggap lemah, manja, atau terlalu sensitif. Padahal, kecemasan dan sikap kritis yang mereka miliki sejatinya bisa menjadi peluang besar untuk perubahan. Kegelisahan itu dapat menjadi titik kesadaran untuk bangkit, mencari solusi yang lebih mendasar, dan kembali pada sistem hidup yang sahih, yang mampu menjaga akal, jiwa, dan masa depan mereka secara menyeluruh.

Jalan Keluar Menuju Generasi Emas

Islam memandang krisis mental yang menimpa generasi hari ini bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi buah dari kehidupan yang jauh dari aturan Allah. Karena itu, solusi Islam tidak berhenti pada penanganan gejala, tetapi menyentuh akar persoalan. Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd : 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hakiki tidak lahir dari materi, popularitas, atau pencapaian duniawi, melainkan dari kedekatan dengan Allah dan penerapan aturan Nya dalam kehidupan. Inilah mengapa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin hadir membawa ketenangan, keselamatan, dan keberkahan hidup bagi umat manusia secara menyeluruh.


Sejarah telah membuktikan, ketika Islam diterapkan secara kaffah, lahirlah generasi-generasi tangguh yang berkepribadian Islam dan unggul dalam berbagai bidang ilmu. Sosok seperti Muhammad Al-Fatih, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, hingga Salahuddin al-Ayyubi adalah bukti bagaimana Islam membentuk pemuda dengan visi hidup yang jelas. Menjadi hamba Allah sekaligus pengemban peradaban. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan generasi bukan hanya tugas keluarga, tetapi juga tanggung jawab negara dan masyarakat.


Dalam Islam, negara hadir sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) umat, yang menjamin kebutuhan pokok, keamanan, pendidikan, dan kesehatan secara adil. Hanya dengan sistem yang berlandaskan syariat, tekanan hidup yang kerap menjadi pemicu kecemasan dapat diminimalisir karena negara memastikan keadilan,  distribusi kesejahteraan dan penjagaan moral masyarakat. Di sinilah pentingnya menyadarkan pemuda hari ini untuk tidak larut dalam kecemasan, tetapi bangkit mengemban mabda Islam dan peduli terhadap kondisi umat. Sebab masa depan emas tidak akan lahir dari generasi yang sibuk bertahan sendiri, melainkan dari generasi yang sadar akan perannya dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11). Maka, kebangkitan generasi adalah kunci agar Indonesia Emas bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar menjadi kenyataan yang diberkahi.

Wallahu a'lam bishawaab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update