Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z di Persimpangan Peradaban: Mengurai Krisis, Menjemput Kebangkitan

Friday, July 03, 2026 | Friday, July 03, 2026 WIB




Oleh Annisa Nurul Khalifah
Mahasiswi dan Pemerhati Remaja

Nusantaranews.net, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa Gen-Z lahir antara tahun 1997 hingga 2012, mencakup sekitar 27,94% dari total populasi atau sekitar 74,93 juta jiwa. Jumlah populasi yang tak sedikit terlebih generasi inilah yang menjadi harapan bagi kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Gen-Z menjadi tumpuan untuk menjemput generasi emas, namun alih-alih memiliki kekuatan untuk kemajuan peradaban nyatanya Gen-Z adalah generasi yang banyak memiliki kecemasan hingga gangguan mental.

Berdasarkan survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z Indonesia, 60% Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan prospek karier, stabilitas ekonomi, dan kondisi global. Dan dampaknya adalah mood swing (62%), gangguan tidur (50%), serta kecemasan berlebih (38%) (Husein, 2026). Adapun menurut Akbar (2024) Indonesia mulai mengahadapi fenomena “Generasi Cemas” (anxious generation). Peningkatan kecemasan dan depresi pada anak serta remaja dipengaruhi oleh tekanan akademik, media sosial, kondisi ekonomi, dan dampak pandemi. Para ahli menegaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh faktor individu sekaligus lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan nasib peradaban jika generasinya lemah begini? Sejatinya generasi saat ini bukanlah lemah, mereka hanya kebingungan dan hilang arah ditengah rusaknya peradaban itu sendiri. Seperti yang kita tahu sistem yang diterapkan saat ini adalah sekularistik kapitalistik, sistem dimana generasi diberi kebebasan sebebas-bebasnya tanpa pengawasan. Alhasil gen-z jadi hilang arah tanpa riayah dari negara yang seharusnya merangkul mereka agar bisa mengelola potensi pun emosi. Saat ini generasi muda lebih banyak mendapatkan tekanan dari generasi di atasnya dan mendapatkan stigma-stigma buruk, inilah yang membuat mental mereka tidak stabil. Belum lagi faktor krisis peradaban lainnya yang membuat beban pikiran mereka semakin bertambah.

Namun, masih ada harapan untuk memberi jalan generasi muda bangkit kembali. Karena kecemasan yang ditambah dengan sikap kritis generasi muda bisa menjadi titik tolak kebangkitan peradaban. Yang mereka perlukan saat ini adalah sistem yang membawa ketenangan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Maka tak lain dan tak bukan sistem yang dimaksud adalah sistem Islam. Sistem yang rahmatan lil alamin ini akan membina serta mengarahkan potensi generasi muda agar lebih powerful.

Hal ini telah terbukti pada zaman keemasan Islam. Selain memiliki keimanan yang kuat banyak muncul ilmuan-ilmuan dan tokoh-tokoh penting yang bermunculan saat itu. Misalnya Muhammad Al-Fatih yang telah menaklukan konstantinopel pada usia 21 tahun, atau Ibnu Sina dengan berbagai temuannya yang menjadi dasar keilmuan saat ini. Hal ini tak lepas dari peran negara yang akan terus menjamin dan merangkul generasinya untuk tetap berada dalam koridor keimananya dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Tak ada yang namanya kebingungan atau hilang arah, karena sistem yang digunakan adalah sistem yang benar dan pasti membawa keberkahan bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, menjemput kebangkitan peradaban dengan membangun generasi emas tidak cukup hanya dengan memperbaiki kualitas individu, tetapi juga memerlukan sistem yang mampu mengarahkan seluruh potensi generasi menuju kemaslahatan umat dan peradaban. Dalam perspektif Islam, potensi itu hanya dapat berkembang secara optimal melalui penerapan sistem kehidupan yang berlandaskan syariat, di mana negara berperan sebagai pelindung, pembina, dan penjamin kesejahteraan masyarakat.

Wallahu alam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update