Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatwa Bukan Urusan Chatbot

Saturday, July 18, 2026 | Saturday, July 18, 2026 WIB




Oleh Rukmini 
Aktivis Muslimah



Nusantaranews.net, Dulu kalau bingung hukum, kita ke ustadz. Duduk, ngaji, tanya, dapat jawaban plus nasihat.  Sekarang cukup ketik. “Hukum pacaran apa?” “Boleh kredit motor?” 3 detik keluar. Lengkap ada dalil, ada ayat, ada kesimpulan. Praktis? Iya. Aman? Belum tentu.

Kementerian Agama sendiri sudah mengingatkan. AI keagamaan memang sedang naik daun di kalangan anak muda. Tapi AI hanya alat bantu. Bukan pengganti ulama. Bukan tempat rujukan fatwa. Setiap jawabannya wajib dicek ulang. Sayangnya peringatan itu sering diabaikan. Banyak yang sudah menganggap AI=Ustadz Digital. Padahal yang sedang kita hadapi bukan soal teknologi. Ini soal agama. Soal halal-haram. Soal surga-neraka. republika.co.id (Kamis, 02/07/2026)

Jika salah sejak awal, maka generasi setelah kita akan belajar Islam dari algoritma, bukan dari wahyu. Faktanya hari ini AI memang gampang diakses. Jawabannya cepat, rapi, dan terkesan ilmiah. Kemenag bilang AI boleh dipakai untuk cari referensi dan merangkum. Tapi tidak untuk memutuskan hukum.

Karena ilmu Islam itu tidak sesederhana mengetik pertanyaan. Ilmu Islam ada teksnya, ada konteksnya, ada metodologinya, ada hikmahnya. Ada pertimbangan maslahat dan mafsadah. Ada kehati-hatian seorang ulama yang takut salah bicara di hadapan Allah. Itu semua tidak ada di dalam mesin. 

Ini yang berbahaya.

Pertama, AI tidak bisa dipercaya 100%. AI bekerja dengan menyedot data dari internet. Lalu merangkum. Masalahnya, internet isinya campur aduk. Ada tafsir lurus. Ada tafsir liberal. Ada hadis sahih. Ada hadis palsu. Jika AI mengambil dari sumber yang bengkok, maka keluarannya juga bengkok. Jangankan untuk berfatwa. Untuk jadi sumber informasi saja AI belum layak. Karena ia tidak bisa membedakan mana wahyu mana opini.

Kedua, AI tidak punya akal dan tidak punya iman. Ulama berfatwa bukan cuma karena pintar. Tapi karena dia faqih, berakal, dan takut kepada Allah. Saat menghalalkan dan mengharamkan, ada beban tanggung jawab di pundaknya. Ada rasa takut keliru lalu menyesatkan umat. Mesin tidak punya itu. Mesin tidak salat. Mesin tidak sujud. Mesin tidak akan ditanya Allah di akhirat. Yang lebih ngeri: algoritma AI dibuat manusia. Diawasi negara. Diatur kebijakan. Artinya jawaban AI bisa disetel. Topik sensitif bisa “dilunakkan”. Hukum Islam bisa dibelokkan agar “aman” dan “inklusif”. Agama jadi produk yang bisa disesuaikan pesanan.

Ketiga, ini upaya menggeser ulama secara halus.
Pelan-pelan umat dicekoki narasi: “Ke ulama kelamaan. Tanya AI saja lebih cepat.” “Ulama bisa bias. AI lebih netral.” 

Padahal Allah sudah berfirman jelas: "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". QS. An-Nahl: 43. 

Ahli zikir itu ulama, bukan chatbot, bukan server. Jika kita biarkan, 10 tahun lagi anak-anak kita tidak kenal guru. Yang mereka kenal hanya aplikasi.

Lalu bagaimana Islam yang benar menyikapinya?

Pertama, tegaskan sumber hukum Islam. 
Hukum dan fatwa dalam Islam hanya diambil dari 4 sumber: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Digali lewat ijtihad oleh orang yang memenuhi syarat. Bukan dengan cara mengetik di kolom pencarian.

Kedua, kembalikan otoritas fatwa kepada ulama. Yang berhak berfatwa adalah ulama yang faqih fid diin. Berakal, baligh, adil, paham dalil, paham ushul fiqh, paham kondisi umat, dan punya wara’. Fatwa bukan barang dagangan cepat saji. Fatwa adalah keputusan hukum dari Allah yang disampaikan oleh manusia. Ulama menyampaikan fatwa dengan bersandar pada dalil syar’i dan dengan rasa takut kepada Allah semata. Bukan karena rating. Bukan karena cuan.

Ketiga, letakkan AI pada tempatnya: sebagai alat bantu. Boleh pakai AI untuk cari 5 ayat tentang sabar. Pakai AI untuk merangkum isi kitab. Pakai AI untuk bikin daftar referensi. Tapi setelah itu wajib tabayyun. Wajib tanya ke guru. Wajib dicek oleh ulama. Jangan pernah jadikan jawaban AI sebagai pegangan final. Karena platform digital tidak berakal. Tidak punya kesadaran. Tidak punya iman. Mustahil ia bisa menggantikan posisi ulama.

Keempat, jaga umat dari sekularisasi agama. Ketika agama diserahkan ke teknologi, maka agama akan diatur oleh teknologi. Standarnya bukan halal-haram lagi. Tapi “sesuai kebijakan”. “Ramah algoritma”. “Tidak melanggar community guideline”. 

Itu bukan Islam. Itu Islam versi Silicon Valley.

Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai memajukan kebodohan. Boleh pakai AI, tapi jangan sampai AI yang memakai kita. Selama masih ada ulama yang hidup, selama masih ada majelis ilmu, maka ke sanalah kita kembali. Karena agama ini dijaga dengan sanad. Disampaikan dari hati ke hati. Dari guru ke murid, bukan dari server ke layar. Jangan gadaikan akhirat kita demi kepraktisan 3 detik. Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update