Oleh: Yuni Hidayati
Kemampuan kecerdasan buatan AI menghasilkan gambar, teks, hingga video yang menyerupai karya manusia diperkirakan akan semakin sulit dibedakan di masa depan. Karena itu masyarakat diminta tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dan tetap bersikap kritis terhadap setiap informasi yang dihasilkannya.
Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, menyampaikan kedepannya akan semakin sulit membedakan hasil karya AI dan bukan AI secara kasatmata. Beliau juga mengingatkan AI masih bisa salah, jangan jadikan acuan utama.
"Tapi kalau sekarang, kalau kita sering menggunakan sebuah AI tool, biasanya kita semakin familiar dengan ciri-ciri output dari AI tool tersebut," kata Ayu kepada Republika, Selasa (30/6/2026).
Ayu mengatakan, cara kerja AI Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan lain-lain disebut sebagai next token prediction, yaitu setiap kata di-generate berdasarkan nilai probabilitas. Karena itu, ada yang menyebutnya sebagai stochastic parrot, seperti burung beo yang dapat menjawab karena latihan.
Sesungguhnya, AI adalah platform digital berupa kecerdasan buatan yang memberi pengguna informasi berdasarkan data dan informasi di internet, padahal tidak semua informasi di internet itu benar. Artinya, jangankan menjadi rujukan agama dan dimintai fatwa. Bahkan AI tidak bisa dijadikan sumber informasi yang terpercaya.
Hukum dan fatwa dalam Islam bersumber dari Al-Qur'an, Sunah, Ijmak dan Qiyas yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Maka merujuk hukum Islam/agama dan meminta fatwa hukum haruslah kepada ulama yang berakal dan faqih fid din.
Platform digital yang tidak berakal dan tidak memiliki kesadaran tidak akan bisa menggantikan posisi ulama dalam berfatwa atau rujukan agama. Karena ulama memberi informasi hukum atau fatwa dengan bersandar pada dalil syar'i dan rasa takut ke pada Allah SWT.
Wallahu a'lam bishawab.

No comments:
Post a Comment