Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Suara Yang Dibungkam: Potret Derita Dan Trauma Bocah-bocah Gaza

Wednesday, June 10, 2026 | Wednesday, June 10, 2026 WIB

 


Oleh : Wanti (Pennulis Opini)

 

Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan ke BBC bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, misi kemanusiaan bersama MSF dijalankan demi mendampingi anak-anak Gaza yang kehilangan kemampuan bicaranya akibat trauma perang. Tragedi ini menyisakan luka mendalam; UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 20.000 anak tewas dan 41.000 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. Kementerian Kesehatan Gaza juga mengonfirmasi bahwa total korban tewas kini telah menembus angka 72.000 orang, yang sebagian besar merupakan warga sipil, sementara korban luka-luka melonjak hingga di atas 172.000 orang.

Anak-anak di Gaza terpaksa tumbuh dalam cengkeraman trauma mendalam akibat situasi konflik yang berkepanjangan dan penuh ketidakpastian. Rasa cemas yang konstan terhadap keselamatan diri, keluarga, serta orang-orang terdekat membuat mereka berada di bawah tekanan mental yang hebat. Kombinasi dari berbagai faktor inilah yang memicu tingkat stres ekstrem dan berdampak buruk pada sistem saraf mereka.

Salah satu dampak trauma menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara. Kehilangan kemampuan berinteraksi dan berbicara pada anak seperti Adam berdampak langsung pada berhentinya fase perkembangan mereka. Secara psikologis, anak berumur lima tahun membutuhkan komunikasi aktif dengan lingkungan sekitar—baik sesama anak-anak maupun orang dewasa. Interaksi ini berfungsi sebagai fondasi untuk proses belajar, penyelesaian masalah, serta internalisasi nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak yang terus menarik diri, tidak mengalami perkembangan, serta tidak berkomunikasi akibat mengalami tekanan mental ekstrem dalam jangka panjang berisiko mengalami dampak permanen di masa depan. Di wilayah konflik seperti Gaza, situasi lingkungan sangat kacau dengan kepanikan masal, tangisan, dan suara ledakan. Kondisi traumatis ini dapat memicu kelainan yang dikenal sebagai resignation syndrome (sindrom pengunduran diri). Akibatnya, anak-anak menjadi sepenuhnya apatis: mereka berhenti berbicara, menolak makan, tidak mau membuka mata, dan hampir tidak memberikan respons terhadap interaksi fisik.

Derita sunyi yang dialami anak2 Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza. Bagi anak-anak di Gaza, hilangnya suara mereka adalah tanda adanya luka batin mendalam yang dialami bersama akibat situasi perang yang kejam dan tak kunjung usai. Menyembuhkan kondisi ini membutuhkan lebih dari sekadar obat-obatan atau terapi psikologis; hal utama yang mereka butuhkan adalah penghentian kekerasan secara total dan ruang hidup yang aman untuk tumbuh kembali.

Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental. Kondisi di Gaza mengindikasikan adanya hubungan timbal balik antara kerusakan fisik dan tekanan mental. Ketika infrastruktur fisik hancur, tekanan psikologis yang berat langsung melanda masyarakat; sebaliknya, kondisi mental yang runtuh membuat mereka kesulitan untuk bangkit dan melakukan rekonstruksi. Pola pembatasan ruang hidup serta tekanan psikis inilah yang menjadi fokus investigasi lembaga hukum internasional, termasuk Mahkamah Internasional (ICJ), guna membuktikan ada atau tidaknya unsur "niat genosida" (genocidal intent) berdasarkan hukum humaniter internasional.

Dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina. Sistem kapitalisme yang diberlakukan di dunia hari ini telah menunjukkan pengkhianatan nyata terhadap nasib anak-anak Palestina. Jangankan hak atas makanan, pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan perlindungan atas kekerasan, hak hidup saja mereka tidak mendapatkan jaminan. Betapa banyak anak-anak Palestina yang menjadi korban penjajahan entitas Yahudi, tetapi AS sebagai negara adidaya hari ini justru abai terhadap kondisi tersebut.

Umat Islam kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam. sejak Khilafah Islam (Khilafah Utsmaniyyah) runtuh pada 1924, entitas Yahudi merampas Tanah Palestina secara ilegal dari kaum muslim. Atas bantuan Barat, bumi Palestina pun jatuh ke tangan Zion*s Yahudi. Tepatnya pada 1948, mereka menduduki lebih dari setengah wilayah Palestina dan mengusir warga Palestina secara paksa. Sejak saat itu, bombardir dan pembantaian terus dilancarkan oleh entitas Yahudi laknatullah. Hadirnya “Negara Yahudi” sejatinya tidak bisa dilepaskan dari upaya meruntuhkan Khilafah Islam yang merupakan perisai umat Islam. Dukungan Barat atas pendirian “negara” tersebut sejatinya memiliki tujuan politik, yakni menjaga eksistensi sistem kapitalisme di dunia Islam.

Oleh karena itu akar persoalan Palestina bukan pada persoalan kemanusiaan semata, bukan hanya derita sunyi cukup diterapi, bukan pula masalah bangsa yang terusir, apalagi sekadar masalah perbatasan dua negara. Akar persoalan Palestina adalah keberadaan entitas Yahudi di negeri yang diberkahi itu dengan sistem kapitalisme sebagai penjaganya yang telah mengholocaust benih generasi Muslim yang sangat ditakuti.

Derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tak sekedar diterapi, tapi negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Islam secara tegas melarang segala bentuk penjajahan dan tindakan semena-mena. Hal ini berlandaskan pada hadis qudsi riwayat Muslim, di mana Allah SWT menyatakan telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya dan bagi seluruh hamba-Nya, serta melarang mereka untuk saling menzalimi. Berpijak pada prinsip tersebut, aksi pendudukan serta perampasan hak atas tanah air yang terjadi di Palestina dikategorikan sebagai bentuk kezaliman nyata yang wajib diakhiri.

Ikatan antara sesama Muslim diibaratkan layaknya satu kesatuan tubuh, di mana rasa sakit yang dialami oleh satu bagian akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lainnya. Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa kaum mukmin itu saling mengasihi dan menyayangi bagaikan satu tubuh; jika satu bagian sakit, bagian lain pun ikut terjaga dan demam. Atas dasar solidaritas keimanan inilah, kepedihan yang menimpa anak-anak di Palestina turut menjadi kedukaan mendalam bagi seluruh umat Islam di dunia.

Bumi Syam, khususnya Palestina, kedudukannya sangat agung dalam ajaran Islam. Wilayah ini merupakan tempat berdirinya Masjidil Aqsa, yang historisnya adalah kiblat pertama bagi umat Islam sekaligus lokasi peristiwa agung Isra Mi'raj. Oleh karena itu, upaya menjaga dan membebaskan tanah suci ini dari cengkeraman penjajahan menjadi sebuah tanggung jawab bersama (fardhu kifayah) bagi kaum Muslim secara global.

Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu dibutuhkan institusi Khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Khilafah Islamiyah sejatinya adalah institusi pempersatu kaum muslimin sedunia, yang memiliki kekuatan ekonomi, hukum dan politik internasional sehingga dunia Islam tidak lagi tunduk pada tekanan politik dari Barat dan kuat dalam membela hak-hak saudara mereka di seluruh penjuru negeri muslim, termasuk Palestina. Khilafah Islamiyah akan menjadi sebuah solusi yang permanen bagi Palestina sehingga memiliki hak penuh untuk hidup selayaknya manusia dan mendapatkan perubahan nyata karena hak untuk hidup dalam damai adalah hak setiap manusia yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun.

Tanpa Khilafah Islamiyah maka komunitas internasional, khususnya negara-negara yang memiliki pengaruh besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, akan terus mendukung kebijakan yang hanya menguntungkan Yahudi Israel dan tidak akan mampu bekerja menuju perdamaian yang benar-benar adil dan berkelanjutan. Mengusir Zionis Yahudi dari tanah Palestina bukan hanya menjadi tanggung jawab umat Islam tetapi juga tanggung jawab semua orang yang peduli pada keadilan dan hak asasi manusia. Adalah kewajiban kita untuk terus menyuarakan ketidakadilan ini dan mendesak tindakan nyata dari dunia Islam untuk menyuarakan persatuan di bawah naungan institusi internasional Khilafah Islamiyah. 

Kesadaran perjuangan menegakkan Khilafah sangat penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Dalam sejarah, khilafah memiliki tradisi militer yang kuat yang dapat digunakan untuk melindungi wilayah Islam dan membebaskan tanah yang diduduki. Khilafah memiliki potensi untuk menyatukan negara-negara muslim di bawah satu kepemimpinan dan menghilangkan fragmentasi politik yang sering menjadi kelemahan dalam membela Palestina. Selain itu, khilafah menjamin hak-hak dasar setiap individu, termasuk perlindungan bagi warga Palestina dari diskriminasi dan kekerasan. Khilafah dapat membangun aliansi internasional yang kuat untuk menekan Israel dan negara pendukungnya melalui diplomasi yang berorientasi pada keadilan.

Melalui pendidikan, dakwah, dan kampanye global, umat Islam harus disadarkan tentang pentingnya khilafah dan jihad dalam membela Palestina. Negara-negara muslim perlu memperkuat kerja sama politik untuk mendukung gagasan khilafah dan melawan dominasi pro-Israel. khilafah menawarkan sistem politik yang dapat menyatukan umat Islam dan memberikan perlindungan yang efektif bagi Palestina. Konsep ini memerlukan kesadaran kolektif, kerja sama strategis, dan komitmen jangka panjang dari seluruh umat Islam. Dengan begitu, khilafah dan jihad dapat mewujudkan solusi yang berkelanjutan.

Wallahualam bissawab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update