Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Aktivis Perempuan Global Flotilla Di Lecehkan: Puncak Runtuhnya Batas Moral Israel

Wednesday, June 10, 2026 | Wednesday, June 10, 2026 WIB

 


Oleh: suryani


Fakta: bbc com - Para aktivis dan relawan pro-Palestina menyatakan telah mengalami perlakuan tidak manusiawi selama ditahan militer Israel. Mereka dideportasi setelah flotilla yang mereka tumpangi menuju Gaza dicegat pasukan Israel di perairan internasional. Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci "perlakuan mengerikan" terhadap warganya. Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah warga mereka mengalami cedera. Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 menyatakan "setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual" serta perlakuan keji lainya. Otoritas penjara Israel menolak tuduhan tersebut tidak benar, seraya mengklaim semua tahanan "ditahan sesuai hukum".


Analisis:


Tindakan pelecehan terhadap aktivis perempuan dalam misi global flotilla memerlukan analisis yang membedah aspek politik, psikologi, dan hukum internasional. Ketika tindakan ini terjadi ia bukan sekedar pelanggaran hukum humaniter biasa, melainkan sebuah serangan yang menyasar aspek paling mendasar dan martabat manusia.


Akar paling mendasar dari segala bentuk kekerasan dan konflik adalah proses menganggap pihak lain termasuk mereka yang bersolidaritas dengan korban sebagai sub manusia. Artinya ketika negara memandang aktivis kemanusiaan sebagai warga sipil yang di lindungi melainkan sebagai ancaman keamanan. Dalam psikologis kolonial, kekerasan fisik dan seksual sering kali digunakan untuk menegaskan dominasi dan kekuasaan mutlak yang dianggap menantang.


Perempuan aktivis sengaja ditargetkan karena ada asumsi patriarki bahwa menyerang kehormatan dan tubuh perempuan adalah cara paling efektif untuk menghukum dan membungkam gerakan perlawanan non kekerasan.


Dan tindakan pelecehan tidak ragu di lakukan oleh zionis karena selama bertahun-tahun pelanggaran hukum internasional yang terjadi di wilayah tersebut jarang mendapatkan sanksi nyata dari badan dunia yaitu PBB akibat veto politik dari negara-negara sekutu. Ketika prajurit tahu bahwa negara akan selalu dilindungi secara geopolitik rasa takut terhadap akuntabilitas hukum lenyap. Ketidak pedulian terhadap hukum internasional ini menular menjadi ketidakpedulian terhadap norma moral dan dasar.


Pelecehan terhadap aktivis perempuan Global Flotilla bukan sekadar ekses dari sebuah operasi militer, melainkan gejala dari sistem yang mengabaikan hukum internasional secara total. Ketika batas moral ini dilanggar tanpa konsekuensi, dunia sedang menyaksikan runtuhnya standar etika global, di mana kekuatan fisik dan politik mengalahkan keadilan dan kemanusiaan.



Kontruksi islam:


Dalam konstruksi pemikiran Islam, tindakan kekerasan, intimidasi, dan pelecehan—terutama yang menyasar perempuan dan aktor kemanusiaan di wilayah konflik—dipandang sebagai pelanggaran teologis dan kemanusiaan yang sangat berat. Islam memiliki kodifikasi hukum perang (Fiqh al-Jihad) dan etika sosial yang sangat ketat, yang justru diletakkan sebagai batas moral agar manusia tidak jatuh ke dalam derajat kebinatangan saat berkonflik.


Satu-satunya solusi hakiki yang dapat membebaskan tanah Palestina adalah jihad dan khilafah. Jihad adalah melakukan perang di jalan allah dengan tujuan merampas atau mengambil kembali apa yang menjadi hak kaum muslim termasuk tanah sedangkan Khilafah ialah merujuk pada sistem pemerintahan islam global yang di pimpin oleh seorang khilafah, yang bertujuan untuk memelihara agama dan mengatur urusan dunia berdasarkan syariat. 


Bahwasanya masalah palestina tidak akan terselesaikan selama umat islam masih terpecah-pecah dalam negara bangsa, umat islam harus bersatu dalam memperjuangkan kemerdekaan dan tanah kaum muslimin oleh karenanya yang menjadi satu-satunya solusi dalam membebaskan tanah palestina yaitu merampasnya kembali dari tangan penjajah dengan cara jihad atau perang di jalan allah SWT.


Itu dapat dilakukan jika khilafah bisa ditegakkan seluruh umat muslim bersatu memilih pemimpin dikuatkan oleh akidah islam membangkitkan islam kaffah dan menerapkan aturan islam bisa terlaksana. Namun saat ini kita masih dibawah sistem kapitalisme yang mendorong kemerosotan berfikir bagi umat, sehingga tidak memikirkan untuk bangkit membawa perubahan ke yang lebih baik. Sistem islam pernah diterapkan hanya saja telah runtuh, dan saat itu negara islam menjadi negara yang terdepan jauh dari kata tertinggal dan mampu menaklukkan negara besar pada saat itu, sekarang kebutuhan akan khilafah sangat mendesak untuk membebaskan palestina.


Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update