Oleh Rukmini
Aktivis Muslimah
Dunia sedang menyaksikan pembunuhan masa kecil secara massal. Bukan di ruang sidang, bukan di balik pintu tertutup, tapi terang-terangan di depan mata kita semua. Tangis anak-anak Gaza tidak selalu terdengar. Sebagian sudah berubah jadi sunyi yang lebih menusuk daripada jeritan. Di antara puing rumah, tumpukan jenazah keluarga, dan dentuman bom yang tak pernah berhenti, masa kecil mereka dirampas paksa sebelum sempat merasakan utuh arti "bermain" dan "berlari".
Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, berkata ke BBC: setiap anak di Gaza terluka jiwanya. Lebih dari satu juta anak menderita trauma berat karena perang yang tak kunjung usai. Ini bukan sekadar angka di laporan PBB. Ini luka kolektif yang sedang diwariskan ke satu generasi penuh.
Traumanya begitu dalam sampai sebagian anak Gaza kehilangan suara. Mereka membisu. Bukan karena tak bisa bicara, tapi karena rasa takut, kehilangan, dan tekanan psikologis sudah menghancurkan batas ketahanan jiwa anak-anak.
Penderitaan sunyi ini tidak jatuh dari langit. Ia adalah buah dari kekerasan brutal yang terus berlangsung—serangan yang mencabut nyawa, meratakan rumah, membumihanguskan sekolah dan rumah sakit, menghancurkan ruang aman yang seharusnya melindungi anak. Ketika ledakan jadi musik pengantar tidur dan kematian jadi hal lumrah, yang hancur bukan hanya beton. Yang remuk adalah tubuh dan mental manusia.
Apa yang menimpa Gaza membuktikan satu hal: perang modern bukan cuma merebut tanah, tapi membunuh daya hidup sebuah bangsa. Anak-anak yang kehilangan orang tua, putus sekolah, dan hancur mentalnya, akan menanggung risiko panjang: gangguan psikologis seumur hidup, kesulitan bersosialisasi, sampai kehilangan rasa aman paling dasar terhadap kehidupan. Luka ini akan bertahan jauh lebih lama dari reruntuhan gedung yang viral di TV.
Ironisnya, dunia yang teriak paling kencang soal HAM ternyata tumpul saat Gaza dibantai. Kecaman, sidang PBB, forum diplomatik, bantuan kemanusiaan—semua datang. Tapi semuanya gagal memutus rantai penderitaan yang terus berulang. Makanan dan obat memang vital, tapi itu cuma perban untuk luka tembak. Selama sumber penyakitnya—kekerasan dan penjajahan—tidak dicabut, maka pendarahan akan terus terjadi.
Situasi ini juga menampar keras negara-negara Muslim. Di tengah genosida yang sudah puluhan tahun, respon yang muncul masih jauh dari kata memadai. Solidaritas simbolik, pernyataan politik, doa bersama—semua baik. Tapi itu belum menjawab kebutuhan paling mendasar rakyat Gaza: perlindungan nyata, rasa aman, dan kebebasan hidup tanpa ancaman bom setiap saat.
Karena itu, penderitaan anak Gaza tidak bisa direduksi jadi "masalah trauma yang butuh terapi". Terapi psikologis penting, iya. Tapi itu cuma mengobati gejala. Luka anak Gaza hanya akan sembuh total kalau akarnya dibabat habis: hentikan kekerasan, akhiri penjajahan, runtuhkan sistem yang terus melahirkan penderitaan.
Tangis Gaza bukan cuma ujian untuk Palestina. Ia adalah cermin yang memaksa kita bercermin: masih adakah nurani yang hidup di dada kita untuk menghentikan ini? Atau dunia sudah terlalu nyaman hidup berdampingan dengan darah dan air mata?
Gaza hari ini bukan "berita luar negeri" yang bisa di-skip. Gaza adalah barometer kemanusiaan. Jika jeritan anak-anak yang membisu saja tidak sanggup mengguncang dunia, maka yang terluka bukan cuma Gaza. Yang sedang sekarat adalah nurani peradaban manusia itu sendiri.
Penderitaan anak-anak Gaza harus dihentikan sekarang juga. Mereka tidak hanya butuh sesi konseling pasca trauma. Mereka butuh tempat yang benar-benar aman. Mereka butuh lingkungan bebas dari cengkeraman penjajahan zionis Israel. Tanpa itu, semua terapi akan sia-sia.
Kejahatan zionis tidak boleh dibiarkan terus berkuasa. Umat Islam hari ini dalam kondisi yatim—tanpa pelindung, tanpa komando, tanpa kekuatan militer yang siap membela darah saudaranya. Di titik inilah khilafah menjadi jawaban paling relevan dan paling ditakuti musuh Islam. Hanya kekuatan Daulah Islam yang punya legitimasi, kekuatan, dan keberanian untuk menghadapi entitas penjajah zionis secara langsung.
Zionis hanya tunduk pada kekuatan. Diplomasi tanpa pasukan, kecaman tanpa tentara, tidak akan membuat penjajah bergeser sejengkal pun. Kejahatan mereka harus dilawan dengan jihad fi sabilillah—perang suci untuk membebaskan tanah, melindungi nyawa, dan mengembalikan kehormatan umat. Khilafah akan memobilisasi tentaranya, menggerakkan seluruh sumber daya negara, dan memimpin langsung pembebasan Palestina. Tidak ada lagi Gaza yang dikepung, tidak ada lagi anak-anak yang lahir di bawah bayang-bayang bom.
Hanya dengan tegaknya khilafah, Gaza bisa benar-benar bernapas. Hanya dengan itu, masa kecil anak-anak Palestina bisa dipulihkan. Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment