Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rupiah Melemah, Kehidupan Rakyat Makin Terhimpit

Tuesday, June 02, 2026 | Tuesday, June 02, 2026 WIB

 



Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)


Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Depresiasi rupiah terhadap dolar membuat kondisi perekonomian negeri semakin mengkhawatirkan. Hal ini berdampak pada naiknya harga-harga bahan baku dan juga energi.


Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, harga kebutuhan pokok yang naik, biaya produksi meningkat, maraknya pemutusan hubungan kerja dan ongkos transportasi yang naik membuat kehidupan rakyat semakin terhimpit dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjaman online (pinjol) dan sebagainya demi bertahan hidup. 


Seperti yang dilansir finansial.bisnis.com (03/03/2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan oleh industri pinjaman online mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menuturkan outstanding pinjaman itu tumbuh 25,52% (year on year/YoY).


Sungguh memprihatinkan, meningkatnya data pinjol menjadi tanda nyata bahwa tekanan ekonomi telah mencapai level yang serius. Apalagi data pinjaman online yang terus meningkat menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi meminjam untuk kebutuhan sekunder, tetapi demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. 


Ironisnya, pemerintah memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman. Pernyataan bahwa masyarakat desa “tidak memakai dolar” memperlihatkan ketidakpekaan penguasabterhadap realitas ekonomi yang dihadapi rakyat. Padahal, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar berdampak langsung pada harga barang impor, bahan baku industri, hingga biaya energi yang akhirnya memengaruhi harga kebutuhan masyarakat secara luas.


Secara global, melemahnya nilai rupiah ini tidak lepas dari konstelasi politik Internasional (perang Amerika Serikat (AS) dan Iran) yang mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu pelemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini yang menjadi persoalan utama.


Alih-alih memberikan solusi nyata, berbagai kebijakan justru semakin menambah beban rakyat, termasuk meningkatnya utang negara yang pada akhirnya juga dibebankan kepada masyarakat melalui pajak maupun kenaikan harga berbagai layanan dan kebutuhan hidup. Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut, justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan (jumlah utang semakin melambung).


Dalam perspektif Islam, Sistem ekonomi Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, yakni dengan emas dan perak. Sehingga nilai uang tidak mudah dipermainkan oleh fluktuasi pasar maupun dominasi mata uang asing. Emas dan perak berpotensi mengurangi resiko inflasi, mencegah manipulasi ekonomi dan mengembalikan fungsi uang sebagai alat tukar yang adil bagi masyarakat. 


Selain itu, Islam memiliki mekanisme syariat dalam menjaga stabilitas harga dan keseimbangan ekonomi. Seperti diharamkannya praktik ribawi, karena yang menjadi salah satu sumber ketimpangan dan krisis ekonomi. Negara wajib menjamin distribusi kekayaan agar tidak hanya berputar di kalangan tertentu. Kepemilikan umum atas sumber daya strategis seperti energi dan tambang dikelola penuh oleh negara untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta asing dan aseng.


Pemimpin dalam perspektif Islam adalah sebagai ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung). Dimana kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab langsung negara. Seorang pemimpin tidak boleh abai terhadap penderitaan rakyat, apalagi menganggap kesulitan ekonomi sebagai sesuatu yang biasa.


Dari itu, persoalan pelemahan rupiah bukan hanya soal kurs mata uang, tetapi cerminan rapuhnya sistem ekonomi yang diterapkan hari ini. Selama kebijakan ekonomi masih tunduk pada sistem kapitalisme dan kepentingan pasar global, rakyat kecil akan terus menjadi pihak yang paling menderita.


Karena itu, dibutuhkan perubahan mendasar menuju sistem ekonomi yang benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat dan melindungi mereka dari kesengsaraan hidup. Islam menawarkan mekanisme yang tidak hanya berfokus pada angka pertumbuhan, tetapi memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara adil dan menyeluruh.


WalLaahu'alam bish-showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update