Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)
Tragedi kemanusiaan di Palestina menyisakan trauma mendalam bagi anak-anak di Gaza. Dilasir dari BBC.com (29/05/2026), seorang Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma berat akibat konflik berkepanjangan. Salah satu dampaknya adalah kesulitan berbicara sebagai respons neurologis terhadap stres dan trauma yang parah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan Zionis sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Serangan-serangan Zionis terus menggempur Gaza. Sejak Oktober 2023, pasukan Zionis dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak Gaza. Hal ini menyebabkan 41.000 anak-anak terluka menurut UNICEF.
Diam yang menyelimuti anak-anak Gaza, bukan diam yang biasa. Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza. Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik, mental dan psikologis. Serangan yang terus berlangsung telah menghancurkan masa depan anak-anak Gaza juga merampas hak mereka untuk hidup dengan tenang.
Ironisnya, dunia menyaksikan dengan tangan yang nyaris terikat, gencatan senjata yang ada tidak benar-benar menghentikan kekerasan. Serangan terus berlanjut dan korban terus berjatuhan. Dunia benar-benar tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, berbagai lembaga internasional hanya mampu menawarkan bantuan kemanusiaan yang nilainya tidak sebanding dengan skala kehancuran yang terjadi.
Sementara itu yang lebih menyakitkan para penguasa muslim yang seharusnya menjadi garda terdepan pembelaan terhadap saudara mereka di Palestina, justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina. Alih-alih berdiri tegak membela sebagian justru memilih normalisasi. Pengkhianatan ini tidak hanya pada warga Palestina, melain kepada seluruh umat Islam.
Mengapa dunia Islam hari ini begitu lemahnya? Padahal dahulu Islam disegani dan ditakuti?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari satu fakta besar yang sering diabaikan , yakni umat Islam hari ini kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam. Khilafah Islam sebagai institusi yang selama berabad-abad menjadi pelindung, pemersatu dan penegak keadilan Islam di seluruh penjuru dunia telah runtuh lebih dari 1 abad yang lalu.
Tanpa pelindung, umat Islam hari ini terbagi-bagi menjadi puluhan nation-state yang masing-maaing sibuk dengan kepentingannya sendiri, dan mudah dikendalikan oleh kekuatan yang lebih besar dan tidak memiliki satu komando yang mampu menggerakkan kekuatan kolektif umat secara nyata.
Maka derita anak-anak di Palestina tidak cukup hanya direspon dengan terapi trauma atau bantuan psikologis. Tapi, negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Selama Gaza dan Palestina berada di bawah cengkraman penjajah, maka trauma akan terus bertambah dan luka akan terus menganga dan anak-anak akan kehilangan masa kecil mereka.
Oleh karena itu, Palestina perlu dukungan untuk memperoleh kemerdekaan dan hidup dengan aman di tanah mereka sendiri. Berbagai tindakan kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap rakyat Palestina merupakan bentuk penjajahan yang harus dihentikan. Selain itu, bagi umat Islam, perjuangan membebaskan Palestina merupakan bagian dari jihad fii sabilillah, yaitu perjuangan di jalan Allah untuk menolong kaum yang tertindas.
Di sisi lain, umat Islam saat ini kehilangan institusi pemersatu dan pelindung, yaitu Khilafah Islam. Karena itu, keberadaan institusi Khilafah diperlukan untuk menyatukan kaum muslimin serta memberikan dukungan nyata dalam upaya membebaskan Palestina.
Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya persatuan umat Islam dan perjuangan menegakkan kepemimpinan Islam merupakan satu-satunya jalan untuk mendukung pembebasan Palestina serta mempererat persatuan kaum muslimin di seluruh dunia.
WalLaahu a’lam bisshowab

No comments:
Post a Comment