Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi
Tempe merupakan salah satu makanan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menjadi sumber protein yang terjangkau, tempe juga telah lama menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu, keberadaan tempe sebagai pangan rakyat kini menghadapi tantangan yang serius. Kenaikan harga kedelai impor membuat para perajin tempe dan tahu semakin terhimpit, sementara daya beli masyarakat juga terus mengalami penurunan.
Belakangan ini, harga kedelai impor mengalami kenaikan seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada para perajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Sebagaimana diberitakan sejumlah media, banyak pedagang dan perajin terpaksa melakukan berbagai cara untuk mempertahankan usahanya. Ada yang memperkecil ukuran tempe, ada pula yang mengurangi jumlah produksi agar harga jual tidak melonjak terlalu tinggi.
Kondisi ini diungkapkan salah satu pedagang di Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Menurutnya, ketika harga kedelai naik, para pengrajin tempe biasanya mengurangi ukurannya. Dengan begitu, harga tempe tetap terjangkau bagi masyarakat.(kumparan.com)
Langkah tersebut memang dapat menjadi solusi sementara. Namun, dalam jangka panjang, keadaan ini tentu merugikan banyak pihak. Perajin memperoleh keuntungan yang semakin kecil, sementara masyarakat mendapatkan produk dengan ukuran yang lebih sedikit. Pada akhirnya, kebutuhan pangan masyarakat menjadi semakin sulit dipenuhi secara layak.
Kesulitan para perajin tidak hanya disebabkan oleh kenaikan harga kedelai. Harga plastik kemasan yang juga mengalami kenaikan turut menambah beban biaya produksi. Akibatnya, para pelaku usaha kecil harus menghadapi tekanan berlapis. Di satu sisi mereka harus membeli bahan baku dengan harga yang lebih mahal, sementara di sisi lain mereka harus mempertahankan harga jual agar tidak kehilangan pelanggan.
Realitas ini menunjukkan bahwa usaha kecil sangat rentan terhadap perubahan ekonomi. Ketika harga bahan baku naik, mereka tidak memiliki banyak pilihan selain mengurangi kualitas, memperkecil ukuran produk, atau mengurangi produksi. Kondisi seperti ini tentu tidak sehat bagi keberlangsungan usaha rakyat yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.
Bahaya Ketergantungan Produk Impor
Persoalan yang lebih mendasar adalah ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor yang masih sangat tinggi. Padahal, kebutuhan kedelai nasional mencapai jutaan ton setiap tahun dengan nilai impor yang mencapai triliunan rupiah. Ketika pasokan dunia terganggu atau nilai tukar rupiah melemah, dampaknya langsung dirasakan oleh para perajin dan konsumen di dalam negeri.
Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa kemandirian pangan Indonesia masih jauh dari harapan. Negara yang memiliki lahan luas dan sumber daya alam melimpah seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Namun kenyataannya, berbagai kebutuhan strategis masih bergantung pada produk impor. Akibatnya, stabilitas harga dalam negeri sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang tidak dapat dikendalikan.
Kapitalisme menjadi Akar Penyebab Naiknya Harga Kedelei
Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu pelemahan rupiah juga memperlihatkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan saat ini. Dalam sistem ini, nilai mata uang sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar, aktivitas spekulasi, dan kekuatan ekonomi global. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga barang impor otomatis meningkat. Rakyat kecil yang tidak memiliki daya tahan ekonomi yang kuat menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Di sisi lain, sistem kapitalisme juga cenderung menjadikan negara berperan sebagai regulator, bukan pengurus langsung kebutuhan rakyat. Akibatnya, perlindungan terhadap pelaku usaha kecil sering kali tidak optimal. Ketika harga bahan baku melonjak, para perajin harus berjuang sendiri menghadapi berbagai kesulitan. Negara belum mampu memberikan solusi yang benar-benar menyentuh akar persoalan.
Kenaikan harga kedelai dan plastik kemasan juga menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat. Padahal, usaha kecil seperti perajin tahu dan tempe memiliki kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat serta penyerapan tenaga kerja. Jika sektor ini terus tertekan, bukan hanya perajin yang dirugikan, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada produk mereka.
Aturan Islam mampu Mengatasi Berbagai Persoalan
Dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan manusia Islam memiliki konsep yang sempurna, termasuk dalam masalah ekonomi. Peran negara menjadi penting, karena negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan menciptakan kondisi ekonomi yang stabil. Hal ini ditegaskan melalui hadis Nabi saw. :"Imam( Pemimpin) adalah raa'in (pengurus). Ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari)
Salah satu aspek penting dalam sistem ekonomi Islam adalah penggunaan mata uang yang berbasis emas dan perak. Sistem ini diyakini mampu menjaga kestabilan nilai mata uang karena memiliki nilai intrinsik yang jelas. Dengan demikian, mata uang tidak mudah mengalami gejolak akibat spekulasi maupun tekanan pasar global. Stabilitas nilai mata uang akan membantu menjaga kestabilan harga berbagai kebutuhan pokok, termasuk bahan pangan.
Selain itu, Islam memiliki kebijakan yang mendorong terwujudnya kemandirian pangan. Negara akan mengoptimalkan pengelolaan sektor pertanian melalui berbagai mekanisme yang telah diatur dalam syariat. Lahan-lahan pertanian yang terbengkalai akan dihidupkan dan dimanfaatkan secara produktif. Negara juga akan memberikan dukungan yang memadai kepada para petani agar produksi pertanian meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dengan kebijakan seperti itu, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap. Produksi kedelai dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga kebutuhan industri tahu dan tempe tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga pasar internasional. Kemandirian pangan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan ekonomi negara.
Lebih dari itu, politik ekonomi Islam berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu. Negara tidak sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi atau peningkatan angka investasi, tetapi memastikan bahwa setiap warga negara dapat memperoleh kebutuhan hidupnya dengan layak. Dalam kerangka ini, perajin kecil akan mendapatkan perlindungan sehingga tidak mudah terpuruk akibat tekanan ekonomi.
Persoalan kenaikan harga kedelai impor yang menekan perajin tempe pada hakikatnya bukan sekadar masalah perdagangan atau nilai tukar mata uang. Persoalan ini menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam sistem ekonomi yang membuat rakyat terus berada dalam posisi rentan. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup berupa langkah-langkah sementara, melainkan perubahan mendasar menuju sistem yang mampu mewujudkan stabilitas ekonomi, kemandirian pangan, dan perlindungan nyata bagi rakyat. Hal ini hanya mungkin terwujud dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, sementara para perajin kecil dapat menjalankan usahanya dengan lebih tenang dan sejahtera.
Wallahua'lam bissawab.

No comments:
Post a Comment