Oleh. Rahma
Salah satu makanan khas dan superfood asli Indonesia yang sering kita temui dalam hidangan sehari-hari adalah *tempe*. Makanan yang diolah dari kedelai difermentasi ini telah terbukti bisa dijadikan berbagai macam olahan lezat dan mempunyai banyak keistimewaan serta bermanfaat bagi kesehatan.
Namun sayang saat rupiah semakin melemah membuat harga bahan dasarnya yakni kedelai semakin melonjak. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi perajin tahu-tempe di berbagai daerah.
Berbagai siasat sudah dilakukan oleh para pedagang supaya bisa bertahan. Mulai dari memperkecil ukuran tempe sampai mengurangi keuntungan mereka. Seperti yang dialami oleh pedagang tempe asal Malang.
Bapak Taryono menyampaikan bahwa, dampak dari kenaikan harga bahan baku dan plastik membuat para perajin tempe berkurang labanya hingga 20 persen (Kompas, 20/5/2026).
Produksi tempepun terhambat dan berkurang. Hal tersebut semakin diperburuk dengan ikut naiknya harga plastik kemasan. Berbagai kenaikan tersebut menambah beban biaya usaha tahu-tempe. Imbasnya ketersediaan salah satu sumber pangan masyarakat inipun sulit terpenuhi.
Indonesia adalah salah satu negeri yang dianugerahi Allah swt dengan tanah yang sangat subur untuk pertanian, namun sayang kenapa Indonesia masih bergantung pada impor kedelai dari luar negeri yang jumlahnya sampai mencapai triliunan rupiah. Padahal tanah subur yang membentang luas di negeri ini merupakan modal besar untuk bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan rakyat.
Sistem Kapitalis Pemicu Rapuhnya Ketahanan Pangan
Naiknya harga kedelai yang disebabkan oleh gejolak pasar global karena ketegangan geopolitik ( konflik di Timur Tengah ) dan lemahnya nilai tukar rupiah sehingga harga kedelai impor melejit tambah mahal menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi Kapitalisme. Sistem pemerintahan yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil.
Sistem yang terbukti gagal dalam mewujudkan peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat.
Ketergantungan impor kedelai mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara. Dampak negatifnya adalah negara akan kesulitan mengontrol pasokan dan harga pangan dalam negeri.
Solusi Islam Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
Dalam sistem Pemerintahan Islam yang berlandaskan hanya pada syariat Islam, negara akan menetapkan politik ekonominya untuk menjamin pemenuhan seluruh kebutuhan individu rakyatnya.
Pemerintah akan hadir sebagai raa'in ( pengurus ) segala kebutuhan rakyat.
Khilafah menggunakan mata uang emas dan perak untuk mejaga nilai uang lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan.
Seluruh lahan pertanian akan dihidupkan dan dimaksimalkan oleh pemerintah untuk membangun produksi kedelai mandiri sehingga tidak bergantung pada impor dari negara lain.
Para petani kedelai akan disupport dan diperhatikan oleh negara dengan memberikan bimbingan bercocok tanam yang terbaik. Peralatan pertanian, pupuk dan semua komponen pendukung pertanian akan di support oleh negara semaksimal mungkin. Hal ini akan menjadi daya tarik bagi para petani untuk lebih produktif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi perajin kecil dari tekanan ekonomi.
Dalam Islam tidak diperbolehkan dan haram hukumnya bergantung pada negara asing karena akan menjadi celah untuk menguasai negeri muslim, sebagaimana firman Allah swt dalam QS. An Nisa ayat 141 yang artinya :
" Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang muslim."
Dalam sistem pemerintahan Islam tidak diperbolehkan pihak swasta mengelola pangan. Karena akan menjadi pemicu kebutuhan pangan di pasar akan dipermainkan oleh segelintir pengusaha yang hanya mementingkan keuntungan sepihak saja. Pemerintah yang harus mengendalikan pasokan pangan dari hulu sampai hilir.
Sehingga bisa dipastikan kebutuhan rakyat akan bisa dipenuhi secara mudah.
Berbagai upaya pemerintahan Islam tersebut akan mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh dalam sistem khilafah.
Wallahu A'lam Bishawab

No comments:
Post a Comment