Oleh: Hanna Az-zahra Spd
Praktisi pendidikan
Pemuda selalu menjadi penentu arah perubahan peradaban di setiap fase dalam sejarah. Rasulullah saw. membangun dakwah Islam bersama para pemuda yang menjadikan akidah Islam sebagai orientasi hidup mereka. Karena itu, kondisi generasi muda hari ini bukan sekadar potret sebuah kelompok usia, melainkan cerminan masa depan umat. Ketika pemuda Muslim mengalami krisis, yang terancam bukan hanya kehidupan mereka sebagai individu, tetapi juga harapan lahirnya generasi pengemban kebangkitan Islam. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, Generasi Z justru dikenal sebagai generasi yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini. Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada bersama Kementerian Kesehatan RI menemukan bahwa 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir, sementara 5,5% atau sekitar 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental yang memenuhi kriteria diagnosis klinis.
Gangguan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder), diikuti gangguan perilaku, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), depresi, serta gangguan stres pascatrauma (PTSD). Fakta ini diperkuat oleh survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats yang menunjukkan bahwa 60% Gen Z Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan mereka, terutama terkait karier, kondisi ekonomi, dan kemampuan mencapai kehidupan yang layak.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, generasi muda menghadapi persoalan serupa. Ketidakpastian ekonomi global, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatnya biaya hidup, hingga derasnya arus media sosial telah menciptakan tekanan yang tidak ringan.
Media sosial bahkan melahirkan budaya perbandingan sosial yang membuat banyak anak muda merasa tertinggal, tidak cukup berhasil, atau tidak cukup bahagia dibandingkan orang lain. Namun menariknya, di balik meningkatnya kecemasan tersebut muncul gejala baru berupa resistensi. Banyak anak muda mulai mempertanyakan ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik kemanusiaan, hingga berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Bahkan di berbagai belahan dunia, Gen Z menjadi kelompok yang aktif menyuarakan isu keadilan sosial dan kemanusiaan.
Kegelisahan yang semula bersifat personal perlahan berkembang menjadi kesadaran bahwa ada persoalan yang lebih besar di balik berbagai krisis yang mereka alami.
Fenomena generasi cemas tidak lahir dalam ruang hampa. Ia merupakan konsekuensi dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Krisis ekonomi, keluarga, pendidikan, sosial, dan moral saling berkaitan serta membentuk tekanan yang dirasakan generasi muda. Akar persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dominasi sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Dalam sistem ini, manusia didorong untuk mengejar keuntungan, prestasi, dan pengakuan tanpa dibekali pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Islam menjelaskan bahwa sekularisme menjadikan manfaat sebagai standar perbuatan manusia. Akibatnya, ketika harapan duniawi tidak tercapai, banyak orang mudah terjerumus pada kecemasan, frustrasi, bahkan kehilangan makna hidup.
Bagi Gen Z Muslim, persoalan ini menjadi lebih kompleks. Mereka hidup di tengah masyarakat Muslim, tetapi dibesarkan dalam sistem pendidikan, ekonomi, media, dan budaya yang berlandaskan sekularisme. Islam sering kali diposisikan sebatas urusan ibadah ritual, sementara cara pandang terhadap kesuksesan, kebahagiaan, dan masa depan dibentuk oleh nilai-nilai kapitalisme. Akibatnya, tidak sedikit pemuda Muslim yang mengalami krisis identitas, mereka mengenal Islam sebagai agama yang diyakini, tetapi memandang kehidupan dengan standar yang berbeda dari Islam. Di sisi lain, negara lebih banyak berperan sebagai regulator yang menjaga berjalannya sistem kapitalisme daripada sebagai ra'in yang mengurus kebutuhan generasi secara menyeluruh. Berbagai persoalan yang menimpa pemuda lebih sering dipandang sebagai masalah individu yang harus diselesaikan sendiri, sementara akar sistemik yang melahirkannya tetap dipertahankan.
Padahal, pemuda merupakan aset paling berharga bagi sebuah peradaban. Sejarah Islam menunjukkan bahwa banyak tonggak perubahan besar digerakkan oleh pemuda. Mus'ab bin Umair menjadi duta dakwah pertama Islam ketika masih muda. Usamah bin Zaid dipercaya memimpin pasukan besar pada usia belia. Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun.
Mereka bukan sekadar pemuda yang saleh secara pribadi, tetapi pemuda yang memiliki visi perubahan dan terikat kuat dengan Islam sebagai mabda kehidupan. Karena itu, krisis yang menimpa Gen Z Muslim hari ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan individu semata. Jika pemuda merupakan motor kebangkitan peradaban, maka melemahkan pemuda berarti melemahkan masa depan umat.
Islam hadir bukan hanya untuk memberikan ketenangan batin, tetapi juga sebagai solusi atas problem kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS Ar-Ra'd: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari materi, popularitas, ataupun validasi manusia, melainkan dari keimanan dan pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Islam membentuk manusia yang memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah sekaligus mengarahkan potensinya untuk berkontribusi bagi masyarakat. Karena itu, solusi atas krisis yang melanda Gen Z Muslim tidak cukup berupa penguatan mental semata, tetapi harus dimulai dari pembentukan kepribadian Islam yang kokoh dan cara pandang hidup yang bersumber dari akidah Islam.
Lebih dari itu, Islam juga menawarkan solusi sistemik. Allah Swt. mengabadikan kisah Ashabul Kahfi dalam firman-Nya, "Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk" (QS Al-Kahfi: 13). Ketangguhan generasi Muslim tidak lahir secara kebetulan, tetapi dibentuk oleh sistem kehidupan yang menjadikan wahyu sebagai pedoman. Rasulullah saw. juga bersabda, "Imam adalah pemelihara (ra'in) dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya" (HR Bukhari dan Muslim). Dalam Islam, negara bertugas menjaga akidah umat, menyediakan pendidikan yang benar, menjamin kebutuhan dasar rakyat, serta menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi berkualitas.
Karena itu, problem kesehatan mental, krisis identitas, ketidakpastian masa depan, dan berbagai persoalan yang membelenggu Gen Z Muslim tidak dapat diselesaikan secara tuntas selama sistem sekuler kapitalistik tetap menjadi dasar kehidupan. Berbagai program yang ditawarkan hari ini umumnya hanya menyentuh gejala, sementara akar persoalannya tetap dibiarkan. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan, "Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit" (QS Thaha: 124). Ketika aturan Allah disingkirkan dari kehidupan, manusia akan terus dihadapkan pada berbagai krisis yang silih berganti.
Di sinilah gelombang resistensi yang mulai tumbuh di kalangan Gen Z Muslim menemukan momentumnya. Kegelisahan yang mereka rasakan seharusnya tidak berhenti pada keluhan atau kritik terhadap berbagai persoalan sosial, tetapi berkembang menjadi kesadaran bahwa akar kerusakan terletak pada sistem sekuler kapitalistik yang mendominasi kehidupan manusia. Kesadaran ini selanjutnya harus melahirkan kebangkitan pemikiran Islam, yaitu pemahaman bahwa Islam bukan sekadar agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, melainkan mabda yang memiliki seperangkat aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Dengan demikian, kebangkitan yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar kebangkitan moral ataupun spiritual individu, melainkan kebangkitan pemikiran yang mendorong lahirnya perjuangan untuk menghadirkan kembali Islam sebagai sistem kehidupan.
Gen Z Muslim tidak cukup hanya menjadi generasi yang sadar akan kerusakan sistem, tetapi harus menjadi generasi yang mengambil peran dalam dakwah dan perjuangan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Sebab, pemuda selalu menjadi ujung tombak perubahan. Dari krisis lahir kesadaran, dari kesadaran lahir resistensi terhadap sistem yang rusak, dari resistensi lahir kebangkitan pemikiran Islam, dan dari kebangkitan pemikiran itulah akan lahir generasi yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a'lam bishawab.

Jadilah seperti Umar bin Abdul Azis. Seorang Khalifah yang amanah, melarang keluarganya Bani Umayyah untuk tidak bermewah-mewahan menggunakan uang negara. Kisah hidupnya senantiasa dihiasi untuk memikirkan umat.
ReplyDeleteJadilah seperti Salman Al-Farisi. Seorang pemuda yang bergelora jiwanya berupaya selalu mencari kebenaran. Dari kejeniusanya ia mengusulkan strategi perang parit yang menghantarkan kemenangan dan menyebarkan agama Islam di Tanah Persia.
Jadilah seperti Zaid bin Haritsah, sahabat sekaligus anak angkat Rasul. Seorang yang memiliki jiwa amanah dalam setiap tugas, mulia akhlaknya hingga mendapat keistimewaan dengan disebut namanya dalam Al-Quran.
Jadilah seperti Shalahuddin. Seorang jenderal yang tidak gila kekuasaan dan menghormati murabbinya : Nuruddin Zanki. Dengan segala upayanya ia mempersatuan Beylik Suriah atas nama tauhid dan akhirnya membebaskan Baitul Maqdis yang mulia.
Dan, jadilah seperti Khalid bin Walid. Seorang Jenderal dengan Win Rate 100%, membebaskan Bumi Syam dengan pedangnya sehingga dijuluki Syaifullah, namun ketika pergantian pimpinan kepada Abu Ubaidah, ia dengan takzim menerimanya dan tetap berjihad untuk menegakan Kalimatullah.
Jadilah seperti mereka, para sahabat, mujahid, dan orang-orang sholeh terdahulu. Jadilah seperti mereka, teladan yang kita cari hari ini.