Oleh Heni Ummu Faiz
Ibu Pemerhati Umat
Anak hari ini sedang dibombardir dua arus yang sama-sama merenggut arah hidupnya. Yang pertama, budaya freestyle tanpa batas, yang mengagung-agungkan kebebasan tanpa tanggung jawab. Yang kedua, pendidikan berbasis sekularisme, yang secara perlahan mencabut nilai agama dan moral dari ruang belajar anak. Keduanya terlihat menarik di permukaan, tapi jika dibiarkan, yang tersisa hanya generasi yang pandai bergaya, tapi tumpul dalam berpikir dan kosong dalam tujuan.
1. Freestyle: Kebebasan Tanpa Rem yang Merenggut Nyawa
Freestyle awalnya hanya soal ekspresi kreatif. Tapi ketika dipahami sebagai hidup tanpa aturan, ia berubah jadi racun. Faktanya, tren ini sudah merenggut nyawa anak-anak di Indonesia.
Mei 2026 lalu, Hamad Izan Wadi (8 tahun), siswa kelas 1 SD di Lombok Timur, meninggal setelah lehernya patah saat meniru aksi freestyle yang viral di TikTok dan game Free Fire. Kasus serupa menimpa siswa TK berinisial F di daerah yang sama, juga meninggal karena cedera fatal tulang leher akibat meniru gerakan salto dari media sosial.
Bahkan anak yang tidak ikut melakukan pun bisa jadi korban. Di Toraja Utara, bocah 10 tahun berinisial J tewas ditabrak pengendara moge yang pamer freestyle lepas setir di kecepatan tinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebebasan tanpa kompas moral bukan kemerdekaan, tapi jalan pintas menuju kehancuran diri. Anak didorong "jadi diri sendiri" tanpa diajarkan batas, tanggung jawab, dan akibat. Hasilnya, banyak yang terjebak pada hedonisme, validasi medsos, dan keputusan impulsif yang merenggut masa depan.
2. Sekularisme: Pendidikan Tanpa Jiwa yang Melumpuhkan Arah*
Di sisi lain, sekularisme masuk lewat sistem pendidikan dengan janji "netral" dan "rasional". Namun, netralitas itu sering berarti menyingkirkan agama dan nilai moral absolut dari ruang kelas. Anak diajarkan sains, logika, dan etika sekuler, tetapi tidak diberi kerangka nilai yang lebih tinggi dari sekadar kepentingan pribadi dan materi.
Dampaknya terlihat dari data global dan nasional. Laporan UNESCO Global Education Monitoring Report berulang kali mencatat kenaikan kasus bullying, depresi remaja, dan krisis makna hidup di negara-negara dengan sistem pendidikan sekuler penuh. Di Indonesia, penelitian dari UIN Syarif Hidayatullah 2023 menemukan bahwa siswa di sekolah umum tanpa pendidikan agama yang kuat cenderung lebih permisif terhadap perilaku berisiko seperti seks bebas, narkoba, dan kekerasan.
Akibatnya, pendidikan menghasilkan kepala yang cerdas tapi hati yang kosong. Anak tahu cara menghitung, tapi tidak tahu untuk apa hidupnya. Ia bisa berdebat, tapi tidak punya pegangan saat diuji moralitasnya. Pendidikan jadi mesin pencetak pekerja, bukan pencetak manusia utuh.
Khatimah: Kembalikan Kompas pada Anak
Dua racun ini bekerja bersama. Freestyle merusak arah hidup anak lewat budaya, sekularisme merusak lewat sistem pendidikan. Kalau dibiarkan, kita akan mencetak generasi yang bebas tapi tanpa arah, pintar tapi tanpa nilai.
Solusinya bukan melarang secara brutal tetapi memberikan ilmu pengetahuan tentang berbagai bahayanya. Solusinya adalah mengembalikan kompas moral dan agama ke dalam hidup anak, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik. Anak butuh kebebasan, tapi kebebasan yang dibimbing. Mereka butuh ilmu, tapi ilmu yang diikat oleh tujuan hidup yang lebih tinggi. Terlebih nilai-nilai Islam (syariat Islam) kian disingkirkan. Peran-peran utama seperti pendampingan orang tua yang kian menipis, peran masyarakat dari hari ke hari memudar lebih bersifat individualis dan yang paling berperan penting adalah negara. Negara memiliki peran untuk menindak tegas berbagai konten negatif dengan memblokir secara permanen. Tak peduli yang menonton nya anak-anak atau kah dewasa selama membahayakan dan negatif harus ditindak tegas. Namun, pertanyaannya apakah dengan sistem sekarang yakni sekuler kapitalis mampu menyelesaikan masalah ini. Jawabannya kembali kepada syariat Islam yang diterapkan secara kafah.
Alhasil, kalau bukan Islam kafah yang menjaga arah mereka, siapa lagi?
Wallahualam bissawab.
.jpeg)
No comments:
Post a Comment