Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fenomena Lipstick Effect

Monday, June 08, 2026 | Monday, June 08, 2026 WIB



Oleh  Antarita Sari 

Aktivis Muslimah


Di era digitalisasi saat ini, muncul satu fenomena yang ternyata sudah pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini disebut Lipstick Effect. Suatu kondisi di mana masyarakat membeli barang "mewah" dengan harga terjangkau hanya untuk kepuasan emosional. Istilah Lipstick Effect ini muncul pada tahun 2001, saat mantan CEO Estée Lauder (merk kosmetik), Leonard Lauder, menyadari penjualan lipstik merah melonjak tajam saat terjadi resesi. (Sumber: treasury.id 21/10/2024)

Saat ini, lonjakan pembelian tidak hanya terjadi pada kosmetik saja. Tiket konser, kopi kekinian, fashion, item koleksi, langganan aplikasi, juga mengalami lonjakan yang sangat pesat.

Masih ingat dengan tren boneka Labubu? Saat itu banyak orang yang rela mengantre hanya untuk membeli boneka ini, padahal harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Fenomena ini disebabkan oleh pengaruh media sosial dan keinginan mengikuti tren.

Penerapan Sistem Kapitalis di Zaman Modern

Kapitalisme berhasil mengubah lipstick menjadi komoditas psikologis yang memberi dampak kebahagiaan. Konsumen pun di doktrin untuk berpenampilan lebih menarik menggunakan produk premium.

Ketika harga properti, otomotif, bahkan kebutuhan rumah tangga meningkat tajam, tidak sedikit masyarakat yang merasa tertekan. Belum lagi, ekonomi kapitalis memicu persaingan yang sangat ketat dan menekan stress pekerja. Sehingga untuk memuaskan diri, mereka rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli barang mewah terjangkau ini. Hal ini dilakukan semata-mata agar hidup tetap waras. Dengan dalih "Self Reward" dan tanpa pikir panjang, perilaku ini bisa membuat kantong jebol. Celakanya, banyak dari kawula muda yang justru melakukan tren ini. Disaat kondisi rupiah yang terus melemah, kondisi ini justru semakin masif.

Solusi Islam

Lantas, bagaimana cara Islam mengatasi fenomena ini? Islam mengajarkan kita untuk bersikap tawazun. Arti dari tawazun adalah prinsip keseimbangan yang menekankan pentingnya tidak berlebihan (ifrath) dan terlalu lalai (tafrith) dalam menjalani kehidupan. (Sumber: dompetdhuafa.org 16/11/2024)

Rasulullah pun telah mengajarkan kita bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik, antara lain :

1. Memisahkan uang sesuai dengan pos keuangan masing-masing 

Rasulullah saw. bersabda :

“Hamba berkata, ‘Harta-hartaku.’ Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim)

Rasulullah membagi 3 pengeluaran sederhana, yaitu untuk makan, sesuatu yang dikenakan, dan sedekah.

2. Menabung

Menyisihkan uang untuk dana darurat dan masa depan, adalah bentuk ikhtiar yang juga dianjurkan oleh Rasulullah.

Sabda Rasulullah saw. :

"Allah akan memberi rahmat bagi hambanya yang mencari rezeki yang halal dan menyedekahkan dengan kesengajaan, mendahulukan kebutuhan yang lebih penting, pada hari di mana ia dalam keadaan fakir dan memiliki hajat.” (HR. Muslim dan Ahmad)

3. Hidup sederhana

4. Sedekah (Sumber: jago.com 02/06/2026)

Pada akhirnya semua kembali pada masing-masing individu. Di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, masihkah kita perlu memenuhi keinginan hawa nafsu semata? Allah telah menjamin rezeki setiap umatnya. Namun, kebijaksanaan dalam mengelola rezeki secara syariah, dapat menolong kita dari keterpurukan ekonomi saat ini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update