Oleh: Yuni Hidayati
Gaza, kota yang sudah sedemikian lamanya menanggung kekerasan dari zionis. Zionis laknatullah tidak memandang usia untuk menyerang warga Gaza, mulai dari anak-anak kecil, remaja, orang tua, bahkan hewan dan bangunan di kota Gaza ikut jadi korban zionis.
Seperti yang diberitakan oleh BBC NEWS INDONESIA, pada 29 Mei 2026. Bahwa, kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespon penderitaan yang luar biasa itu dengan diam.
Salah satunya adalah Adam. Sebelum perang terjadi, Adam adalah anak yang ceria dan banyak bicara. Namun saat usianya menginjak lima tahun, dia mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia.
"Tidak ada satupun anak di Gaza yang tidak trauma," kata psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, ke BBC Mundo.
Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontieres (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik.
Enam bulan pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut dan "serangan-serangan Israel terus berlanjut secara rutin," kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, April silam.
Di Gaza, anak-anak hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dam berlangsung lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi.
Faktor-faktor itu membuat tingkat stres dan dampak pada sistem saraf anak-anak sangat luar biasa.
Reaksi dari tekanan itu berbeda di masing-masing anak. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak. Dan, penderitaan seperti itu bisa dideteksi.
Namun, ada anak-anak yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya. Seolah-olah sistem saraf mereka berkata: "Saya tidak kuat lagi".
Akhirnya, cara yang dilakukan untuk melindungi diri mereka adalah dengan menarik diri. Dan, bahasa adalah bagian dari hal itu.
Bagi anak-anak itu, diam menjadi cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia, yang tidak berhenti membuat mereka menderita dan sakit.
Jadi diam bukan pilihan yang disadari, melainkan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem. Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental.
Dunia tak mampu menghentikan kejahatan zionis, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa muslim justru melakukan penghianatan terhadap muslim Palestina. Umat Islam adalah umat yang terbesar, namun sayang saat ini umat Islam kehilangan perisai yang melindungi yaitu Khilafah Islamiyyah.
Derita anak-anak Palestina harus segera di akhiri, tak sekedar di terapi, tapi negri mereka harus di bebaskan dari zionis Israel. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fisabilillah. Untuk itu di butuhkan instusi Khilafah untuk menurunkan bala tentaranya demi membebaskan Palestina. Oleh karena itu, kesadaran perjuangan menegakkan Khilafah sangat penting untuk pembebasan Palestina dan persatuan umat muslim seluruh dunia.
Wallahu a'lam bishawab.

No comments:
Post a Comment