Oleh : Kiki Puspita
Ntah sampai kapan penderitaan bagi masyarakat Palestina ini berakhir. Lagi-lagi jalur Gaza kembali menghadapi serangan besar yang menyebabkan ribuan warga sipil kehilangan nyawa, luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal mereka. Kekejaman yang dilakukan oleh Israel sangatlah mengerikan. Mereka tidak hanya melakukan kekejaman terhadap warga Palestina yang masih hidup saja, namun warga Palestina yang sudah meninggal juga tak luput dari kezaliman yang mereka lakukan.
Para pemukim ekstremis Israel telah memaksa warga Palestina untuk menggali kembali kuburan seorang pria di tanah Palestina di Tepi Barat bagian Utara. Warga tersebut dipaksa untuk memindahkan jenazah tersebut ke lokasi lain dengan alasan kuburan tersebut terlalu dekat dengan pemukiman Israel. Insiden menegangkan itu terjadi pada hari Jumat. Para tentara militer Israel atau IDF hanya berdiri dan menyaksikan kejadian ini. (SINDOnews..com).
Israel juga telah memperluas wilayah pendudukannya di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59% wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan akan dimulainya kembali genosida di wilayah Kantong Palestina itu. Hal ini dilaporkan oleh Radio Angkatan Darat Israel, Minggu (3/5).
Di sisi lain, para jurnalis yang bertugas meliput kondisi di Gaza juga menghadapi resiko yang sangat besar. Kepala HAM PBB Volker Türk mengatakan, perang yang hingga kini masih berlangsung di Gaza telah menjadi jebakan maut bagi media. OHCHR (Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia)
telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023, ketika Zionis Israel mulai meluncurkan agresi ke Gaza. Selain itu, sejumlah besar jurnalis juga mengalami luka-luka selama melakukan peliputan di wilayah kantong tersebut, katanya. (antaranya..com).
Banyak anak-anak Palestina yang menjadi korban akibat runtuhnya bangunan, ledakan bom, hingga kekurangan layanan kesehatan. Ditengah kondisi tersebut, banyak masyarakat di Gaza yang hidup di pengungsian juga sangat sulit untuk mendapatkan makanan dan air bersih. Puluhan warga di laporkan meninggal dunia. Jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka. (antaranews.com).
Konflik Palestina sendiri sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi persoalan internasional yang berkepanjangan. Berbagai upaya untuk gencatatan senjata dan diplomasi pun telah dilakukan, namun situasi di wilayah Palestina justru malah semakin memanas. Meskipun banyak pihak yang sudah menyerukan pemberhentian kekerasan dan pengecaman atas tindakan kezaliman yang dilakukan oleh Israel, serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan agar penderitaan masyarakat Gaza tidak semakin parah pun sudah dilakukan, tetap saja hingga saat ini konflik terus berlangsung.
Dalam ajaran islam, menolong orang yang tertindas dan menjaga persaudaraan sesama kaum muslim merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang telah dianjurkan. Islam mengajarkan pentingnya persatuan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang mereka. Hal ini sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surah Al-Hujarat ayat 10 "sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara". Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ukhuwah atau persaudaraan di antara pemimpin persatuan dan kepedulian menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai persoalan lainnya termasuk tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina saat ini.
Dibutuhkan solusi yang menyentuh akar persoalan sekaligus mampu memberikan perlindungan hakiki bagi kaum muslim dan rakyat tertindas di Palestina. Islam mengajarkan bahwa kaum muslim adalah satu tubuh yang saling terikat oleh akidah dan persaudaraan. Ketika satu bagian umat terluka, maka bagian lainnya wajib peduli dan membantu. Rasulullah saw. bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina seharusnya dirasakan oleh seluruh kaum muslim di dunia. Islam tidak membenarkan sikap diam terhadap kezaliman dan penjajahan.
Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk memiliki kepedulian nyata terhadap nasib Palestina, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, dakwah, pendidikan politik umat, maupun upaya membangun persatuan kaum muslim. Salah satu masalah besar umat Islam hari ini adalah perpecahan. Negeri-negeri muslim berdiri sendiri-sendiri dengan kepentingan nasional masing-masing sehingga kekuatan umat tercerai-berai. Padahal musuh yang dihadapi memiliki dukungan politik, ekonomi, teknologi, dan militer yang sangat besar.
Nasionalisme dan batas-batas negara yang diwariskan penjajah telah membuat ukhuwah Islamiah melemah. Akibatnya, penderitaan Palestina sering hanya direspons dengan pernyataan belasungkawa dan kutukan tanpa tindakan strategis yang mampu menghentikan agresi. Dalam Islam, persatuan umat merupakan kewajiban. Allah Swt. berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan kaum muslim di bawah satu visi perjuangan Islam. Persatuan tersebut bukan sekadar slogan emosional, melainkan harus diwujudkan dalam kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang mampu melindungi umat dari penjajahan dan penindasan. Karena itu, sebagian umat Islam memandang bahwa solusi hakiki bagi Palestina membutuhkan kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan negeri-negeri muslim dan mengerahkan potensi umat secara bersama-sama.
Dalam sejarah Islam, institusi kepemimpinan umat pernah menjadi pelindung wilayah-wilayah kaum muslim dan menjaga kehormatan mereka dari agresi musuh. Ketika umat bersatu, musuh sulit melakukan penjajahan dan penindasan seperti yang terjadi saat ini. Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya jihad sebagai bentuk pembelaan terhadap kaum tertindas dan penjagaan terhadap tanah kaum muslim. Jihad dalam Islam bukan tindakan brutal tanpa aturan, tetapi perjuangan yang memiliki hukum dan tujuan yang jelas, yakni menghilangkan kezaliman dan melindungi manusia dari penindasan. Allah Swt. berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim…’” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan penjajahan terus berlangsung tanpa perlawanan. Membela rakyat tertindas merupakan bagian dari ajaran Islam. Namun perjuangan tersebut harus berada dalam koridor syariat dan dilakukan dengan kepemimpinan yang benar, bukan tindakan individual yang justru menimbulkan kerusakan lebih besar.
Di sisi lain, Islam juga mengatur pentingnya meriayah atau mengurus rakyat dengan penuh tanggung jawab. Jika Palestina terbebas dari penjajahan, maka tugas berikutnya adalah membangun kembali kehidupan masyarakat dengan adil dan manusiawi. Islam memiliki aturan yang menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti keamanan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Anak-anak Palestina yang kehilangan keluarga dan rumah harus mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kehidupan yang layak agar mereka dapat tumbuh sebagai generasi yang kuat dan bermartabat.
Islam juga menolak segala bentuk rasisme dan dehumanisasi. Dalam Islam, semua manusia memiliki kehormatan sebagai ciptaan Allah. Membunuh anak-anak, wanita, orang tua, tenaga medis, maupun menghancurkan rumah ibadah dan fasilitas umum merupakan tindakan yang dilarang. Bahkan dalam peperangan, Islam memiliki aturan yang ketat agar tidak melampaui batas dan tidak menyakiti pihak yang tidak terlibat perang.
Pada akhirnya, solusi Islam terhadap Palestina tidak berhenti pada rasa simpati semata, tetapi menuntut adanya persatuan umat, kepedulian nyata, perjuangan melawan penjajahan, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan politik dan sosial. Umat Islam dituntut untuk kembali membangun ukhuwah Islamiah dan menyadari bahwa kemerdekaan Palestina merupakan tanggung jawab bersama seluruh kaum muslim di dunia.
Waulohualam bi ash-shawaab.

No comments:
Post a Comment