Oleh. Maya Herlinawati
(Muslimah Peduli Umat)
Situasi di Gaza masih menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengakui bahwa militer Israel saat ini telah menguasai sekitar 60% wilayah Gaza. Ia juga mengungkapkan rencana untuk memperluas penguasaan tersebut hingga mencapai 70% guna mewujudkan proyek yang disebut “Israel Raya”.
Rencana Israel untuk memperluas dan merampas tanah Palestina hingga 70% di Jalur Gaza memicu kekhawatiran bagi warga Palestina yang tinggal di sekitar kawasan pembatas yang disebut “garis kuning”.
Garis kuning merupakan penanda batas yang memisahkan wilayah di bawah kendali militer Israel di Gaza Timur dengan zona pergerakan bebas warga Palestina di sisi barat.
Demi mewujudkan ambisi Israel Raya, entitas Zionis terus memperluas wilayahnya melalui berbagai agresi yang oleh sebagian pihak disebut sebagai genosida. Warga Gaza kini terjebak di area yang sangat sempit, tanpa lagi memiliki tempat untuk mengungsi.
Serangan tembakan Israel ke arah rumah-rumah warga Palestina semakin mengancam keselamatan jiwa. Tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman di seluruh wilayah Gaza.
Lingkungan permukiman kini telah hancur akibat perang. Bangunan-bangunan yang tersisa hanyalah rumah-rumah yang rusak serta tumpukan puing yang berserakan.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, agresi dan kekerasan tetap berlangsung. Serangan tersebut telah menewaskan sekitar 73 ribu warga Palestina dan melukai 173 ribu lainnya, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.
Entitas Zionis terus melancarkan serangan ke Gaza tanpa mengindahkan kesepakatan gencatan senjata. Tindakan tersebut dipandang sebagai bentuk kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan besar di muka bumi.
Hingga saat ini, belum terlihat kepedulian yang signifikan dari para penguasa negeri-negeri Muslim terhadap Palestina. Bahkan, Amerika Serikat dan sejumlah negara Muslim, termasuk Indonesia, disebut masih mendukung solusi dua negara.
Penderitaan Palestina pun tak kunjung berakhir, yang dinilai sebagai akibat dari lemahnya persatuan umat Islam serta sikap sebagian pemimpin Muslim yang dianggap tidak tegas.
Ambisi Israel Raya perlu dilawan dengan kekuatan politik, perjuangan, serta persatuan umat Islam.
Tegaknya sistem Khilafah disebut sebagai prioritas perjuangan umat Islam, karena dianggap sebagai wujud persatuan umat yang hakiki.
Khilafah diyakini akan menghapus sekat nasionalisme antarnegara Muslim dan menghentikan pengkhianatan para penguasa.
Dalam pandangan tersebut, Khilafah juga bertanggung jawab untuk mengirimkan kekuatan militer guna membela dan membebaskan wilayah kaum Muslim.
Hanya dengan tegaknya kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang menaungi umat Islam di seluruh dunia, persatuan tersebut dapat terwujud secara menyeluruh.
Allah Swt. berfirman:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 190)
Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.

No comments:
Post a Comment