Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wibawa Guru Direndahkan, Buah Sistem Pendidikan Kapitalisme Sekuler

Thursday, May 14, 2026 | Thursday, May 14, 2026 WIB

Wibawa Guru Direndahkan, Buah Sistem Pendidikan Kapitalisme Sekuler

Oleh Fina Fadilah Siregar
 (Aktivis Muslimah) 

Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas.


Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.

Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan terkait kronologi insiden itu.


"Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan," kata Dedi dalam keterangannya pada Detik Jabar, Sabtu (18/4/2026).


Dedi menuturkan, orang tua dari para siswa telah dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah sendiri telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Selama masa tersebut, siswa diminta menjalani pembinaan di rumah.


"Pihak sekolah sudah memanggil orang tua siswa, selanjutnya sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari, anak itu mendapat bimbingan di rumah," lanjut dia. (Detik Jabar, 18/4/2026).


Namun, Dedi menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia justru mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku.


"Tapi saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membelrsihkan toilet," tegasnya. (Detik Jabar, 18/4/2026).


Pelecehan guru di Purwakarta adalah cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan "viralitas" dan "keren-kerenan" di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru.


Kejadian ini adalah bukti lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa merasa "berani" melakukan hal tersebut? apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat lsalah karena takut dituntut jika menegurnya?


Di satu sisi, pemerintah sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila". Kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas, namun tidak memberikan nilai-nilai kebaikan. 


Inilah buah dari pendidikan sekuler kapitalis. Guru yang sejatinya adalah orang yang berjasa yang telah mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, malah wibawanya direndahkan. Rasa hormat yang seharusnya ditanamkan kepada guru, hilang begitu saja akibat sistem yang rusak. 


Hal ini sungguh berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam, kurikulum harus dibangun berlandaskan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat.


Dalam IsIam,  negara harus menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. Sehingga para generasi memiliki kepribadian Islam dalam dirinya. 


Penerapan sistem sanksi dalam Islam berfungsi sebagai penebus (jawabir) dosa bagi pelaku dan pencegah (zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat. 


Dalam Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara, sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat.


Oleh sebab itu, hanya Islamlah satu-satunya sistem yang dapat menuntaskan berbagai problematika kehidupan, termasuk dalam hal rasa hormat kepada guru. Tak ada sistem lain yang dapat menyelesaikannya secara tuntas. Semua ini dapat terwujud apabila syariat IsIam diterapkan secara kaffah dalam Negara Daulah Khilafah Islamiyyah. 


Wallahu a'lam bishshowaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update