Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak

Tuesday, May 19, 2026 | Tuesday, May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-19T09:18:47Z

 


Oleh: Ummu Irsyad (Relawan Opini) 


Peristiwa tragis kembali mengguncang masyarakat. Dua anak di Lombok Timur dilaporkan meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online. Salah satunya masih duduk di bangku TK, sementara lainnya masih berstatus siswa SD. Aksi berbahaya itu diduga terinspirasi dari gerakan ekstrem yang muncul dalam game online seperti Garena Free Fire serta berbagai konten viral di media sosial (radarsampit.jawapos/12/05/26). 


Kasus ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah alarm keras bahwa anak-anak hari ini hidup di tengah arus digital yang sangat deras, sementara kemampuan mereka untuk memilah mana yang aman dan berbahaya belum terbentuk sempurna. Di saat teknologi berkembang begitu cepat, pendampingan terhadap anak justru sering kali tertinggal.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung meniru apa yang mereka lihat. Ketika sebuah aksi dianggap keren, lucu, atau viral, mereka akan terdorong untuk mencobanya tanpa memahami risiko. Nalar anak belum matang. Mereka belum mampu memperhitungkan akibat fatal dari sebuah tindakan. Karena itu, membiarkan anak mengakses media digital tanpa pengawasan sama saja membuka pintu bahaya.


Fenomena ini juga menunjukkan bahwa banyak orang tua belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan digital anak-anak mereka. Tidak sedikit anak yang memegang gawai berjam-jam tanpa kontrol. Game online, video pendek, hingga media sosial menjadi “pengasuh kedua” yang perlahan membentuk cara berpikir dan perilaku mereka. Akibatnya, anak lebih banyak belajar dari algoritma dibandingkan dari orang tua.

Padahal, dunia digital hari ini dipenuhi konten yang mengejar viralitas, bukan keselamatan.


 Konten ekstrem sering dipromosikan karena dianggap mampu menarik perhatian dan meningkatkan jumlah penonton. Anak-anak yang belum mampu membedakan hiburan dan bahaya akhirnya menjadi korban.

Di sisi lain, lingkungan sosial juga ikut berperan. Banyak anak bermain tanpa pengawasan orang dewasa. Teman sebaya saling menantang untuk mencoba hal-hal berbahaya demi dianggap berani atau keren. Ketika lingkungan tidak memiliki kontrol yang kuat, perilaku berisiko mudah menyebar.

Negara sebenarnya telah memiliki berbagai regulasi perlindungan anak dan pengawasan media digital. Namun kenyataannya, konten berbahaya masih sangat mudah diakses oleh anak-anak. 


Pembatasan usia di berbagai platform sering kali hanya menjadi formalitas administratif yang mudah dilewati. Algoritma media sosial pun bekerja berdasarkan keuntungan dan tingkat keterlibatan pengguna, bukan berdasarkan keamanan generasi. Karena itu, semakin ekstrem dan viral sebuah konten, semakin besar peluang konten tersebut disebarkan secara masif kepada pengguna lain, termasuk anak-anak.


Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem sekuler kapitalisme yang menjadi dasar pengelolaan media dan teknologi saat ini. Dalam sistem kapitalisme, ukuran utama adalah keuntungan materi dan trafik pengguna. Perusahaan digital berlomba mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin demi meningkatkan iklan dan pendapatan. Akibatnya, aspek keselamatan moral dan psikologis anak sering kali berada di urutan belakang. Selama sebuah konten menghasilkan banyak penonton, klik, dan keuntungan, maka konten tersebut akan terus didorong oleh algoritma meskipun berpotensi membahayakan.


Di sisi lain, negara dalam sistem sekuler cenderung hanya berperan sebagai regulator yang terbatas, bukan pelindung penuh generasi. Negara sering kalah cepat dibanding derasnya arus industri digital global. Bahkan tidak jarang kebijakan yang dibuat lebih bersifat reaktif setelah muncul korban, bukan pencegahan sejak awal. Akibatnya, ruang digital menjadi sangat bebas tanpa filter yang benar-benar kuat untuk melindungi anak-anak dari konten berbahaya.

Karena itu, persoalan ini bukan hanya soal kurangnya pengawasan orang tua atau lemahnya aturan teknis, tetapi juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang menjadikan kebebasan dan keuntungan ekonomi sebagai prioritas utama dibanding keselamatan generasi. 


Islam memandang anak sebagai amanah besar yang wajib dijaga. Dalam syariat, anak yang belum balig belum dibebani hukum karena akalnya belum sempurna. Karena itu, orang dewasa memiliki tanggung jawab penuh untuk membimbing dan melindungi mereka dari segala bentuk bahaya. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”

(QS. At-Tahrim: 6)


Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan dan perlindungan anak bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga wajib memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman secara fisik, mental, dan akhlak.

Dalam Islam, pendidikan anak dibangun di atas tiga pilar utama: keluarga, masyarakat, dan negara.


Pertama, keluarga menjadi benteng utama. Orang tua harus hadir dalam kehidupan anak, mengenal apa yang mereka tonton, permainan apa yang mereka mainkan, dan siapa yang memengaruhi mereka. Pendampingan bukan berarti memusuhi teknologi, tetapi mengarahkan penggunaannya agar bermanfaat dan aman.


Kedua, masyarakat juga memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan yang sehat bagi anak-anak. Budaya saling mengingatkan dan peduli harus hidup kembali. Anak-anak tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri di tengah derasnya pengaruh media.


Ketiga, negara wajib menciptakan sistem yang melindungi generasi. Dalam pandangan Islam, negara tidak akan membiarkan konten berbahaya bebas menyebar hanya demi keuntungan industri digital. Negara akan menyaring informasi yang merusak, membatasi tayangan yang membahayakan anak, sekaligus memperbanyak konten edukatif yang membangun akhlak dan kecerdasan generasi.


Tragedi di Lombok Timur harus menjadi pelajaran besar. Jangan sampai anak-anak terus menjadi korban dari dunia digital yang tidak terkontrol. Teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi tanpa pendidikan, pengawasan, dan perlindungan yang kuat, teknologi justru bisa berubah menjadi ancaman.

Generasi masa depan tidak cukup hanya dibekali kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus dibangun dengan akhlak, pengawasan, dan lingkungan yang sehat. Sebab anak-anak bukan sekadar pengguna internet, mereka adalah amanah yang akan menentukan arah peradaban di masa depan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update