Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rupiah Melemah, Rakyat Kecil Kian Terhimpit

Monday, May 25, 2026 | Monday, May 25, 2026 WIB



Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)


Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar kembali menjadi kabar yang meresahkan masyarakat (tempo.co, 16/5/2026). Ketika dolar semakin menguat, harga bahan baku, pangan, hingga energi ikut melonjak. Dampaknya langsung dirasakan rakyat kecil. Harga kebutuhan hidup naik, biaya transportasi meningkat, sementara penghasilan banyak keluarga tetap atau bahkan menurun.


Di tengah kondisi ini, masyarakat menengah-bawah menjadi pihak yang paling terpukul. Nelayan mengeluh harga solar subsidi semakin sulit dijangkau. Pedagang kecil kesulitan membeli bahan baku. Banyak keluarga akhirnya terpaksa mencari jalan pintas melalui pinjaman online demi memenuhi kebutuhan harian (finansial.bisnis.com, 3/3/2026).


Ironisnya, di saat rakyat makin terhimpit, pemerintah justru menilai kondisi ekonomi masih aman (nasional.kompas.com, 16/5/2026). Padahal di lapangan, masyarakat sedang berjuang keras agar dapur tetap mengepul.


Sebagai pendidik generasi, kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Ketika ekonomi keluarga terguncang, anak-anak sering menjadi korban yang paling terdampak. Banyak orang tua mengalami stres, konflik rumah tangga meningkat, bahkan tidak sedikit anak yang harus menahan keinginan sekolah atau memenuhi kebutuhan dasarnya karena kondisi ekonomi keluarga yang memburuk.


Jika situasi ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa tumbuh dalam tekanan ekonomi yang berkepanjangan, kehilangan rasa aman, bahkan terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural.


Allah Swt. berfirman:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS Al-Baqarah: 276)

Ayat ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang dibangun di atas praktik ribawi tidak akan membawa keberkahan bagi kehidupan manusia.


Rapuhnya Sistem Ekonomi Kapitalisme


Pelemahan rupiah hari ini memang dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi global, termasuk konflik internasional seperti perang AS-Iran yang memengaruhi pasar dunia. Namun masalah ekonomi Indonesia sebenarnya jauh lebih mendalam daripada sekadar gejolak global.


Sistem ekonomi kapitalisme membuat negeri ini sangat bergantung pada dolar dan pasar internasional. Ketika dolar naik, ekonomi nasional ikut terguncang. Harga barang meningkat karena banyak kebutuhan industri dan energi masih bergantung pada impor.


Akibatnya, rakyat kecil harus menanggung dampak yang sangat besar dari sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ciptakan.

Hal yang lebih menyedihkan, solusi yang diambil sering kali tidak menyentuh akar persoalan. Pemerintah lebih sibuk menjaga stabilitas angka ekonomi makro dibanding melihat penderitaan nyata masyarakat. Padahal rakyat tidak hidup dari statistik. Rakyat hidup dari harga beras, minyak goreng, BBM, dan kebutuhan harian yang terus naik.


Dalam sistem kapitalisme, negara juga cenderung melepaskan tanggung jawab kesejahteraan kepada mekanisme pasar. Ketika harga melonjak, masyarakat dipaksa bertahan sendiri. Akibatnya, banyak orang akhirnya bergantung pada utang dan pinjaman online.


Data terbaru menunjukkan nilai pinjaman pinjol masyarakat Indonesia terus meningkat tajam hingga puluhan triliun rupiah. Ini menjadi tanda bahwa banyak keluarga sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.


Kapitalisme juga melahirkan sistem ekonomi berbasis riba yang memperbesar ketimpangan sosial. Orang kaya semakin kuat karena memiliki modal, sedangkan rakyat kecil semakin sulit keluar dari tekanan ekonomi.


Dampaknya bagi generasi muda sangat serius. Anak-anak tumbuh dalam suasana penuh kecemasan ekonomi. Tidak sedikit remaja yang akhirnya kehilangan fokus belajar karena harus membantu ekonomi keluarga. Sebagian lainnya mudah tergoda jalan instan demi mendapatkan uang cepat, mulai dari judi online, penipuan digital, hingga praktik kriminal lainnya.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka bangsa ini akan menghadapi generasi yang lelah secara mental, rapuh secara ekonomi, dan kehilangan harapan terhadap masa depan.


Sistem Ekonomi Islam yang Menjamin Kesejahteraan


Islam memiliki sistem ekonomi yang berbeda secara mendasar dengan kapitalisme. Dalam Islam, kesejahteraan rakyat bukan diserahkan pada pasar bebas, tetapi menjadi tanggung jawab negara.


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)


Karena itu, pemimpin dalam Islam wajib memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan melindungi rakyat dari kesengsaraan hidup.

Sistem ekonomi Islam juga tidak menjadikan riba sebagai fondasi ekonomi. Islam menerapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak yang lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulasi global seperti sistem uang kertas hari ini.


Selain itu, Islam mengatur distribusi kekayaan secara adil. Negara wajib menjaga stabilitas harga, melarang penimbunan dan monopoli, serta memastikan sumber daya alam dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan korporasi atau oligarki.

Dalam Islam, kebutuhan pokok masyarakat seperti pangan, energi, pendidikan, kesehatan, dan keamanan menjadi tanggung jawab negara. Dengan begitu, rakyat tidak dipaksa bertahan sendiri di tengah krisis ekonomi.


Islam juga melarang praktik ekonomi yang menzalimi rakyat, termasuk riba dan eksploitasi utang yang menjerat masyarakat kecil. Dengan sistem ini, ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan angka, tetapi benar-benar menghadirkan kesejahteraan nyata.

Sebagai pendidik generasi, kita tentu berharap anak-anak tumbuh dalam kondisi yang tenang, sehat, dan memiliki harapan masa depan yang baik. Namun hal itu sulit diwujudkan jika sistem ekonomi yang diterapkan justru terus melahirkan ketimpangan dan kesengsaraan.


Oleh karena itu, persoalan pelemahan rupiah dan beratnya beban hidup rakyat tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan tambal sulam. Dibutuhkan perubahan sistemik menuju penerapan Islam secara kaffah, termasuk dalam pengelolaan ekonomi negara. Hanya dengan sistem Islam, kesejahteraan rakyat tidak lagi menjadi janji politik semata, tetapi benar-benar diwujudkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update