Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Persatuan Umat Sedunia Membawa Kemenangan

Monday, May 25, 2026 | Monday, May 25, 2026 WIB



Oleh Umi Lia


Member Akademi Menulis Kreatif


Gaza terus diserang di tengah gencatan senjata yang belum berakhir. Entitas Yahudi berdalih melakukan serangan itu dengan target kelompok militan. Pada 8 Mei 2026, malam hari waktu setempat, IDF menyasar lewat udara sejumlah rumah warga hingga lima  di antaranya  hancur dan empat lainnya mengalami kerusakan berat. Empat orang termasuk seorang anak mengalami luka-luka, hal ini dibenarkan oleh pihak Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza.  Banyak pihak yang menyatakan kecewa terhadap tindakan Israel ini karena melakukan penyerangan  di tengah periode perjanjian damai, tanpa diketahui secara pasti siapa yang menjadi targetnya. (Metritvnews.com, 10/5/2026)


Kekejaman Zionis sangat mengerikan. Jika yang dijadikan target adalah kelompok militan, mengapa pemukiman warga yang dihancurkan? Mereka terus menyasar penduduk sipil hingga memakan korban yang tidak sedikit. Sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025 tercatat ada 850 korban tewas dan 2.433 luka-luka. Di antara mereka banyak anak-anak tubuhnya harus diamputasi karena luka yang parah akibat perang. Entitas Yahudi ini berusaha menutupi kejahatannya dari dunia, dengan membungkam para jurnalis. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mendesak untuk melakukan perlindungan bagi awak media yang meliput kejadian di wilayah konflik ini.  Badan dunia tersebut mengonfirmasi sampai saat ini sudah ada 300 korban wartawan yang meninggal dunia dan yang luka-luka lebih banyak lagi.


Sementara itu di Tepi Barat bagian Utara, pemukim ekstrimis Yahudi memaksa orang Palestina untuk membongkar kuburan seorang laki-laki agar dipindahkan karena lokasinya terlalu dekat dengan tempat tinggal mereka. Peristiwa ini terjadi Jumat, (8/5). Tentara IDF hanya berdiri menyaksikan kejadian tersebut. Sementara itu di Jalur Gaza, zionis terus memperluas wilayah pendudukan hingga mencapai 58% dan sedang mempersiapkan serangan di kantong Palestina tersebut. Militer Zionis memang diperintahkan untuk membunuh setiap laki-laki yang mereka temui di Gaza tanpa melihat usianya. Biadab sekali mereka, dan lebih kejam lagi para pemimpin muslim yang duduk bersama dengan mereka membahas perdamaian versi penjajah.


Entitas Yahudi tidak mengerti bahasa perdamaian. Yang mereka tahu adalah menggunakan senjata untuk membunuh orang-orang Palestina. Buktinya kesepakatan gencatan senjata selalu dilanggarnya, puluhan resolusi PBB diabaikannya karena merasa didukung Amerika. Kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusiaan (Global Sumud Flotilla) pun disita dan para aktivisnya ditangkap. Mereka terus memperluas wilayah pendudukan dengan membantai rakyat Gaza. Hingga saat ini korban mencapai 72.736 tewas dan 172.535 luka-luka termasuk anak-anak sejak Oktober 2023. Mereka juga membunuh para jurnalis yang meliput perang. Fakta di atas seharusnya menjadi pelajaran bagi pemimpin-pemimpin muslim bahwa Zionis adalah penjahat yang biadab dan harus dilenyapkan demi terciptanya perdamaian di Palestina khususnya dan di Timur Tengah pada umumnya.


Kekejian entitas Yahudi begitu nyata, tapi dunia terutama kaum muslim seolah mengabaikannya. Walaupun bantuan kemanusiaan terus dihimpun dan dikirim ke Gaza, hal itu tidak membuat penjajah hengkang. Akar masalahnya adalah Zionis ini merebut wilayah dan pemiliknya dihabisi secara sistemis. Karena itu solusinya adalah mengusir bangsa Israel. Jika warga Palestina tidak mampu melakukannya, otomatis tetangga-tetangga dekatnya harus membantu. Bukan dengan perundingan, tapi dengan mengangkat senjata karena mereka tidak paham bahasa perdamaian.


Namun sungguh ironi, tidak ada satu pun negeri muslim yang berani mengirimkan militernya untuk menolong Palestina. Para pemimpinnya hanya menyampaikan kecaman dan kutukan terhadap kekejian Zionis yang melakukan genosida atas penduduk Gaza. Mereka terbelenggu paham nasionalis yang menganggap masalah yang terjadi di masing-masing negara adalah urusan negara tersebut, tidak ada hubungannya dengan negara lain. Sikap ini jelas berbahaya dan  bertentangan dengan ajaran Islam yang mewajibkan umatnya menjaga silah ukhuwah Islamiah.


Fakta saat ini umat Islam tercerai-berai. Mereka dipisahkan oleh batas imajiner negara bangsa. Konflik Gaza yang berlarut-larut seharusnya membuat kaum muslim berpikir bahwa tidak ada solusi modern yang menyelesaikannya. Hanya ukhuwah Islamiah hakiki yang mewujud dalam persatuan kaum muslim sedunia yang mampu mengakhiri pembantaian di Gaza. Jika rasa bersaudara ini sudah hadir di benak umat, mereka mudah disatukan dan digerakkan untuk menolong penduduk Palestina. Hanya saja persatuan ini tidak akan terbentuk kecuali ada institusi pemersatunya yaitu Khilafah. Di mana Khalifah yang dibaiat nanti akan memberi komando tentara dan warga daulah untuk berjihad mengusir Zionis Yahudi.


Bantuan terhadap Palestina jangan direduksi sebatas logistik (makanan dan obat-obatan). Tidak juga bergantung pada hukum internasional yang berlaku saat ini. Gaza adalah tanggung jawab seluruh umat Islam dan jihad  akan mampu menghentikan penjajahan dan pembantaian terhadap penduduknya. Untuk itu kehadiran Khilafah sangat urgent.  Tanpa institusi ini, umat tidak memiliki junnah/pelindung, sehingga terus-menerus menjadi objek eksploitasi kekuatan global. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai yang orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR Muslim)


Oleh karenanya, penegakkan Khilafah harus menjadi agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat hari ini. Karena hanya dengan keberadaannya umat bisa disatukan. Kemudian khalifahnya akan memimpin tentara dan rakyat untuk berjihad membebaskan Palestina dan mengusir entitas Zionis. Untuk itu umat Islam harus kembali mengkaji agamanya secara menyeluruh bersama kelompok dakwah ideologis. Seperti yang Rasul contohkan, bersama harakah ini melakukan pembinaan (tatsqif), berinteraksi dengan umat (tafa'ul ma'al ummat), sampai kekuasaan itu diraih untuk bisa menerapkan syariah Islam. Menyeru dan memahamkan seluruh elemen masyarakat terhadap pentingnya kepemimpinan Islam merupakan aktivitas mendesak agar bisa segera menyelesaikan konflik di Gaza serta mewujudkan keadilan hakiki untuk seluruh kaum muslim di mana pun mereka tinggal.

Wallahu a'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update