Oleh Sujilah
aktivis Muslimah
Apa yang terjadi terhadap muslim Palestina hari ini bukan sekadar konflik biasa. Dunia sedang menyaksikan bagaimana manusia diperlakukan seakan-akan tidak lagi memiliki hak hidup, hak aman, bahkan hak untuk dianggap sebagai manusia. Inilah yang disebut dehumanisasi: proses ketika suatu kelompok dipandang rendah, dicabut martabatnya, lalu penderitaan mereka dianggap biasa.
Dilansir dari media antaranews.com, pada 10 Mei 2026, sejak agresi Zionis pecah pada 7 Oktober 2023, Gaza terus berubah menjadi lautan duka. Sedikitnya 72.736 warga Palestina tewas dan 172.532 lainnya luka-luka. Mayoritas korban adalah warga sipil perempuan, anak-anak, dan lansia yang seharusnya dilindungi, namun justru menjadi sasaran di tengah hujan bom dan blokade berkepanjangan.
Rumah sakit lumpuh, obat-obatan langka, dan bantuan kemanusiaan sulit masuk. Banyak anak Palestina kehilangan tangan, kaki, bahkan masa depan mereka akibat amputasi dan trauma perang. Di saat yang sama, wilayah pendudukan terus meluas, sementara serangan demi serangan disiapkan untuk memperbesar kontrol atas tanah Palestina.
Di tengah dunia yang mengaku menjunjung kebebasan pers dan hak asasi manusia, pembungkaman informasi justru berlangsung secara terang-terangan. Para jurnalis yang bertugas menyampaikan fakta kepada dunia ikut menjadi sasaran. Gaza kini dikenal sebagai salah satu wilayah paling mematikan bagi pekerja media, dengan lebih dari 300 jurnalis dilaporkan tewas sejak Oktober 2023.
Tragisnya, penderitaan itu tidak berhenti setelah kematian. Sejumlah jenazah dilaporkan tidak dapat dimakamkan di tanahnya sendiri, bahkan ada makam yang dibongkar dan jasad dipindahkan secara paksa.
Warga Palestina kerap digambarkan secara tidak adil, dicurigai, disudutkan, bahkan diposisikan seolah penderitaan mereka adalah sesuatu yang wajar. Ketika suatu kelompok manusia terus-menerus dicitrakan buruk, maka kekerasan terhadap mereka akan lebih mudah diterima publik global. Inilah pola yang berulang dalam banyak tragedi kemanusiaan sepanjang sejarah: pembungkaman empati menjadi jalan bagi legitimasi penindasan.
Yang paling memprihatinkan, dunia internasional tampak gagal menghentikan tragedi ini. Kecaman demi kecaman disampaikan dalam forum global, tetapi tidak diikuti langkah nyata yang mampu menghentikan agresi. Resolusi lahir, perundingan dilakukan, namun bom tetap jatuh dan korban terus bertambah.
Pada titik ini, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar mengapa perang terjadi, tetapi mengapa dunia modern dengan seluruh institusi internasionalnya tampak tidak berdaya menghentikan penderitaan yang disaksikan secara terbuka?
Palestina dan Matinya Kepekaan Dunia
Secara sistemis, tragedi Palestina memperlihatkan rapuhnya tatanan politik global yang dikendalikan kepentingan negara-negara besar. Standar kemanusiaan sering kali berubah sesuai kepentingan geopolitik. Ketika kepentingan ekonomi, militer, dan aliansi strategis lebih dominan daripada nilai kemanusiaan, maka hukum internasional kehilangan daya paksa. Hak asasi manusia akhirnya hanya menjadi slogan yang diterapkan secara selektif.
Di sisi lain, dunia Islam juga memperlihatkan problem mendasar. Lebih dari 50 negeri muslim dengan populasi besar dan sumber daya melimpah nyatanya belum mampu menghadirkan kekuatan politik dan militer yang solid untuk melindungi rakyat Palestina. Negara-negara muslim berdiri sendiri-sendiri dalam bingkai nasionalisme sempit, sehingga ukhuwah Islamiyah lebih banyak berhenti sebagai slogan emosional, bukan kekuatan politik yang nyata.
Perpecahan kepentingan, ketergantungan ekonomi dan militer terhadap negara-negara adidaya, serta lemahnya kepemimpinan politik membuat respon terhadap Palestina sebatas kecaman diplomatik tanpa daya tekan yang berarti.
Akibatnya, Palestina hari ini bukan hanya menjadi simbol penderitaan rakyat yang terjajah, tetapi juga cermin krisis besar dunia modern: krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan krisis keberpihakan terhadap keadilan.
Ketika ribuan anak terbunuh namun dunia tetap berjalan biasa, ketika reruntuhan rumah menjadi pemandangan harian yang dinormalisasi media, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya Gaza melainkan nurani kemanusiaan itu sendiri.
Solusi Islam Ideologis untuk Pembebasan Palestina
Tragedi yang terus terjadi di Palestina membuat banyak umat Islam meyakini bahwa persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan kecaman internasional, bantuan kemanusiaan, atau perundingan politik yang berulang tanpa hasil nyata. Selama penjajahan masih berdiri dan umat Islam tetap tercerai-berai, penderitaan rakyat Palestina akan terus berlangsung.
Karena itu, dalam pandangan Islam, pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah yang hakiki, yaitu persatuan umat Islam di seluruh dunia dalam satu visi dan perjuangan. Persatuan ini bukan hanya sebatas rasa simpati atau solidaritas emosional, tetapi persatuan yang mampu melahirkan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk melindungi kaum muslim serta membela negeri-negeri Islam yang dijajah.
Persatuan umat ini hanya dapat terwujud melalui satu komando yakni penerapan Islam Kaffah, sebagai institusi pemersatu umat Islam. Karena syariat Islam memiliki tanggung jawab menjaga kaum muslim, menerapkan syariat Islam, serta mengerahkan seluruh potensi umat untuk menghentikan penjajahan dan genosida terhadap Palestina.
Dengan bersatunya kekuatan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, Palestina tidak akan terus menghadapi agresi sendirian. Tanah Palestina harus dikembalikan kepada rakyatnya, sementara warga Palestina berhak hidup aman, terjaga, dan mulia tanpa ancaman penjajahan dan kekerasan yang terus berlangsung.
Karena itu, agenda utama umat hari ini adalah memperjuangkan kembali persatuan politik umat Islam melalui Penerapan Islam kaffah, di bawah satu komando. Hanya dengan persatuan dan kekuatan umat yang nyata, jihad untuk membebaskan Palestina dapat dilakukan secara serius hingga penjajahan Zionis berakhir.
Wallahu’alam bissawab.
No comments:
Post a Comment