Oleh: Yunita Sari,S.Pd (Relawan Opini Andoolo)
Dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Pemerintah Indonesia melontarkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco (Dosen Unair), menegaskan keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan (kebutuhan industri). Kamis(23/4/2026)
Hal ini memicu respons dari berbagai kampus. Kampus UMM dan UNISMA menyatakan menolak untuk penutupan prodi tak sesuai pasar, karena kampus bukan pabrik pekerja. Adapun kampus UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup Prodi. Sedangkan kampus UGM telah rutin mengevaluasi Prodi dan terbuka untuk menutup / membuka /merger Prodi. UIN Malang juga ikut menyoroti wacana kebijakan ini dengan statement bahwa penutupan prodi bukan solusi, melainkan perlu adanya pembaruan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan masa kini. Serta perlu adanya reposisi dan transformasi program studi, terutama bagi prodi yang mengalami penurunan minat.
Fakta diatas, terlihat sangat jelas bahwa dunia Pendidikan yang mengadopsi pemahaman Liberalisme-Sekuler menyebabkan perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Dengan adanya pemisahan agama dari kehidupan, menjadikan dunia kampus tidak lagi berfokus untuk menghasilkan para ilmuwan hebat tetapi justru menjadi tempat pencetak pekerja yang sesuai minat industri kapitalis. Dalam sistem kapitalisme hari ini, negara tidak merasa memiliki tanggungjawab dan memilih untuk lepas tangan terhadap kebutuhan SDM rakyatnya. Negara hanya menjadi wadah regulasi untuk kepentingan industri yang dimiliki segelintir orang yang memiliki modal.
Pendidikan yang seharus nya mencetak pelajar yang memiliki kepribadian Islamiyah serta berakhlak mulia sekaligus menjadi mutiara dan harapan bangkitnya peradaban umat, namun justru karakter ini dibekukan oleh sistem kapitalisme hari ini. Komoditas pasar menjadi tolak ukur dunia Pendidikan sehingga kurikulum Pendidikan akan senantiasa berubah menyesuaikan permintaan dari industri. Sehingga mahasiswa menjadi budak korporasi yang semakin jauh dari Islam serta semakin jauh dari harapan umat agar menjadi tombak kebangkitan peradaban Islam.
Dalam Islam, Negaralah yang memiliki kebutuhan untuk mencetak Ahli di bidang apa, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyatnya, karena Tugas Pokok Negara dalam Islam Adalah melayani rakyatnya. Sehingga dunia Pendidikan (termasuk Pendidikan Tinggi) Adalah tanggung jawab langsung negara, Negara yang menentukan mulai dari Visi-Misi Pendidikan, Kurikulum dan pembiayaan untuk SDM Pendidikan serta sarana prasarananya.
Dalam Islam Pendidikan harus dibangun diatas pondasi akidah Islam. Tujuan dari Pendidikan yaitu untuk mendidik generasi yang cerdas serta memiliki ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Negara wajib berperan aktif untuk menjaga akidah umat serta menjadikan syariat islam sebagai standar dari kurikulum yang dijalankan di dunia Pendidikan. Penerapan sistem Islam menjadikan Negara mandiri dalam mengelola Pendidikan Tinggi, tidak tergantung pada tekanan baik dalam negeri maupun luar negeri karena bersandar kepada Syariat. Fasilitas Pendidikan akan sangat diperhatikan oleh negara sehingga perguruan tinggi dapat melahirkan cendekiawan dan ilmuwan yang dapat berkontribusi untuk peradaban Islam bukan budak korporasi.
Terbukti selama 13 abad Penerapan sistem Islam dalam institusi negara telah mencetak generasi emas dan menghasilkan peradaban Islam yang gemilang. Cendekiawan muslim yang lahir dari Pendidikan berbasis syariat Islam serta menjadi tonggak peradaban Islam yang gemilang, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabbir Ibnu Hayyan, Fatimah Al-Fihri, serta banyak ilmuwan muslim lainnya ini membuktikan bahwa dalam Islam keberadaan negara dalam memenuhi kebutuhan umat akan Pendidikan adalah sebuah urgensitas. Negara tidak boleh lalai dan membiarkan umat untuk sibuk dengan urusan dunia dan hidup dalam kemaksiatan. Sebab, tugas seorang pemimpin adalah mengurus rakyat nya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpin nya. Wallahu a’lam bisshawab[].

No comments:
Post a Comment