Oleh
Deni Marliani, S.Pd (Pegiat Literasi)
Dehumanisasi (hilangnya harkat dan martabat manusia) terhadap Muslim Palestina oleh Zionis sangat mengerikan, mempengaruhi yang hidup dan yang sudah mati. Derita di Palestina terus berlanjut tanpa solusi ideal. Kesepakatan yang ada hanya menguntungkan negara yang berkuasa. Dunia tampak acuh terhadap kebiadaban Zionis. Krisis kemanusiaan melanda banyak negara, khususnya negara Muslim, dengan jumlah korban tewas dan terluka meningkat setiap hari. Penyerangan brutal Zionis tidak henti-hentinya, termasuk membunuh anak-anak dan melanggar jenazah.
Dilansir dari antaranews.com (4/5/2026), Israel telah memperbesar area yang diduduki di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen dari total wilayah tersebut dan sedang bersiap-siap untuk kemungkinan dimulainya kembali tindakan genosida di kawasan kantong Palestina tersebut, menurut laporan dari Radio Angkatan Darat Israel, pada hari Minggu (3/5). Sebelum perjanjian gencatan senjata yang terjadi pada Oktober 2025, Israel menguasai sekitar 53 persen dari wilayah Jalur Gaza, sebagaimana dinyatakan dalam laporan penyiar tersebut. Di sisi lain, kelompok Palestina yang dikenal sebagai Hamas mengungkapkan bahwa angkatan bersenjata Israel menguasai lebih dari 60 persen dari wilayah pantai Palestina tersebut.
Jumlah orang yang meninggal dunia akibat serangan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72. 736, dan 172. 535 lainnya mengalami cedera, menurut laporan dari sumber medis setempat. Laporan tersebut menyebutkan bahwa rumah sakit yang masih berfungsi di seluruh Jalur Gaza menangani lima orang yang meninggal dan 15 yang terluka dalam 24 jam terakhir. Total jumlah warga Palestina yang tewas sejak dimulainya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025 telah mencapai 850, sementara jumlah korban yang terluka meningkat menjadi 2. 433 orang. Selain itu, sebanyak 770 jenazah juga telah ditemukan di bawah tumpukan reruntuhan. Tim medis setempat menyatakan bahwa sejumlah korban masih terperangkap di bawah bangunan runtuh dan di jalan-jalan karena ambulans serta tim penyelamat belum bisa mencapai mereka akibat kondisi di lapangan yang masih tidak aman.
Zionis Israel kembali melaksanakan serangan udara terhadap kawasan Jalur Gaza, Palestina, pada malam Jumat, 8 Mei 2026 menurut waktu setempat. Serangan ini menyebabkan kerusakan pada beberapa gedung tempat tinggal dan beberapa warga sipil, termasuk anak-anak, dilaporkan terluka. Penduduk Gaza, terutama perempuan dan anak-anak, seharusnya menjadi sasaran utama dalam usaha perlindungan. Israel terus melakukan serangan tanpa perhitungan dan melanggar banyak kesepakatan yang telah ditetapkan. Banyak anak Palestina yang menderita kehilangan anggota tubuh akibat konflik tersebut. MetroTVNews.Com (10/5/2026).
*Bebalnya Zionis dan Diamnya Penguasa Muslim*
Zionis tidak menghiraukan perjanjian gencatan senjata dan terus melancarkan serangan ke Gaza (dengan dukungan politik, militer, dan finansial dari AS) untuk memperluas kontrolnya dan melakukan pembantaian, sehingga jumlah korban, termasuk anak-anak, semakin meningkat. Untuk menghalangi media dalam melaporkan tindakan kejam mereka kepada dunia, zionis membidik jurnalis untuk dibunuh. Jalur Gaza kini telah menjadi lokasi paling berbahaya bagi jurnalis, bukan hanya suara mereka yang dibungkam, tetapi nyawa mereka juga terancam.
Dunia dan umat Muslim seharusnya tidak hanya terdiam menghadapi pendudukan Gaza. Masalah utama di Gaza disebabkan oleh kehadiran entitas Zionis yang menduduki tanah Palestina yang dimiliki oleh umat Muslim, sehingga keberadaan entitas ini perlu dihapus dari bumi. Serangan yang dilancarkan oleh Israel menargetkan masyarakat sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Meski hal ini jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia, tidak ada yang berani mengambil tindakan untuk menghentikannya. Tindakan kejahatan Israel tidak bisa dibiarkan dan hanya bisa diatasi melalui solusi damai. Kerusakan yang ditimbulkan sudah melampaui batas dan mesti dihentikan dengan perjuangan rakyat Muslim.
Penguasa di lebih dari 50 negara Muslim saat ini tidak berani mengambil langkah jihad untuk membebaskan Palestina, karena terjebak oleh nasionalisme yang telah mengurangi persatuan umat Islam. Negara-negara Muslim lainnya juga hanya terdiam tanpa berbuat apa-apa untuk mendukung rakyat Palestina. Barat telah berhasil memadamkan pemikiran umat Islam, sehingga kita perlu bangkit untuk menyebarkan pemikiran benar untuk menyadarkan umat mengenai sistem yang tidak adil.
*Jihad dan Khilafah, Solusi Hakiki Kemerdekaan Palestina*
Pembebasan Palestina memerlukan persatuan sejati antar umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan jihad. Persatuan ini hanya dapat terbangun melalui Khilafah, sebuah lembaga yang menyatukan umat. Khilafah akan menghentikan pendudukan serta tindakan genosida Zionis di Palestina dan mengembalikan tanah kepada pemiliknya, serta memberikan perlindungan kepada rakyat Palestina agar dapat hidup dengan martabat. Agenda utama umat Islam saat ini adalah mendirikan Khilafah, yang akan menggerakkan angkatan bersenjata di seluruh dunia Islam untuk berjuang membebaskan Palestina dan menghapuskan entitas Zionis.
Memerangi Israel yang telah membunuh umat Muslim adalah sebuah kewajiban. Tidak boleh ada usaha untuk bernegosiasi, menyerah, atau bahkan memberi jalan bagi Israel untuk menduduki negara-negara umat Muslim. Musuh yang memerangi Islam perlu dilawan karena mereka telah bersikap antagonis terhadap agama kita. Tidak ada cara lain untuk memerdekakan Palestina selain melalui perjuangan suci. Hal ini membutuhkan penguatan kolaborasi di antara komunitas Muslim di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, umat harus bersatu dalam menegakkan syariat Islam dan mengimplementasikannya dalam kehidupan yang sesuai dengan keridhaan Allah Swt.
Pentingnya kepemimpinan Islam sangat diperlukan untuk mempersatukan kekuatan umat Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu, perjuangan untuk mendirikan sistem Islam dan kepemimpinan Islam sangat krusial. Membangun kesadaran umat harus dipercepat, karena hal ini sangat penting untuk menyatukan umat dan memperkuat daya untuk mengusir penjajah dari tanah Palestina.
Sudah sepantasnya umat Islam berupaya mencari penyelesaian yang menyeluruh terhadap isu Palestina. Penyelesaian ini harus bersifat politik. Namun, bukan politik yang pragmatis dan penuh kepentingan pribadi, melainkan politik yang berbasis ideologi yang terus berjuang untuk mendirikan kepemimpinan politik Islam di berbagai wilayah tanpa terpengaruh oleh paham nasionalisme. Seorang pemimpin Muslimlah yang akan memimpin jihad bagi para pejuang terbaiknya melawan Zionis Yahudi dan menjaga martabat umat Islam di dunia. Di bawah kepemi mpinan Islam, umat Islam akan bersatu dalam satu visi, rasa, dan peraturan yang seragam demi merealisasikan kehormatan untuk seluruh umat dan semesta.
Kini saatnya kita menyadari, bencana yang menimpa umat saat ini adalah akibat penerapan sistem kapitalisme-sekularisme yang mengabaikan peraturan syariat sebagai pedoman yang menghadirkan keadilan dan kehormatan. Maka, tidakkah kita menginginkan sistem kehidupan yang membawa kehormatan itu kembali? Dengan begitu, tidak ada kehormatan yang sesungguhnya kecuali dengan mengembalikan berdirinya Daulah Khilafah ala Minhajin Nubuwah di antara umat saat ini. Mari kita sambut seruan ini dengan tindakan nyata. Wallahu'alam bissawab.

No comments:
Post a Comment