Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)
Sudah 78 tahun sejak tragedi Nakba pada 15 Mei 1948. Ketika rakyat Palestina terusir dari tanah mereka sendiri akibat penjajahan Zionis yang didukung kekuatan Barat, terutama Inggris. Namun hingga hari ini, luka itu ternyata belum selesai. Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan penderitaan yang terus berlangsung di depan mata dunia.
Peringatan Nakba tahun ini kembali diwarnai serangan brutal ke Gaza. Jutaan manusia di berbagai negara turun ke jalan menyuarakan solidaritas untuk Palestina. Namun di saat dunia sibuk mengutuk, bom masih terus dijatuhkan, anak-anak masih kehilangan orang tuanya, dan warga Gaza masih hidup di tengah blokade, kelaparan, serta ancaman kematian setiap waktu (kompas.com, 17/5/2026)
Bahkan laporan terbaru menunjukkan ribuan warga Palestina kembali menjadi korban agresi, sementara bantuan kemanusiaan sering dihambat dan para aktivis kemanusiaan justru ditangkap (suaraislam.id, 21/5/2026). Semua ini menunjukkan bahwa penjajahan terhadap Palestina masih berlangsung secara nyata dan sistematis.
Sebagai seorang pendidik generasi, melihat kondisi ini tentu menghadirkan keprihatinan mendalam. Anak-anak Palestina tumbuh dalam suasana perang, kehilangan keluarga, rumah, dan rasa aman. Namun ironisnya, di tengah penderitaan itu, mereka justru sering menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa.
Di sisi lain, tragedi Palestina juga menjadi cermin bagi generasi muda muslim di seluruh dunia. Apakah mereka memahami bahwa Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri, melainkan bagian dari persoalan umat Islam? Ataukah generasi hari ini justru semakin jauh dari rasa kepedulian terhadap nasib saudara seimannya?
Allah Swt. berfirman:
"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?" (QS An-Nisa: 75)
Ayat ini menunjukkan bahwa membela kaum tertindas bukan sekadar pilihan emosional, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan.
Akar Penjajahan yang Tak Pernah Diselesaikan
Tragedi Palestina terus berulang karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar diselesaikan. Dunia hanya sibuk membahas gencatan senjata, bantuan kemanusiaan, atau solusi dua negara, tetapi membiarkan penjajahan tetap berdiri.
Faktanya, berbagai lembaga internasional terbukti gagal menghentikan kezaliman. PBB, konferensi internasional, hingga organisasi regional hanya menghasilkan pernyataan tanpa tindakan nyata. Bahkan negara-negara besar justru menjadi pendukung utama penjajahan Zionis.
Kondisi ini memperlihatkan kegagalan sistem sekuler kapitalisme dalam menghadirkan keadilan dunia. Narasi HAM dan perdamaian yang selama ini digaungkan Barat tampak sangat kontradiktif ketika berhadapan dengan Palestina. Dunia seolah kehilangan nurani saat korban berasal dari kaum muslimin.
Lebih menyedihkan lagi, negeri-negeri muslim yang jumlahnya begitu besar justru tercerai-berai dalam sekat negara bangsa. Umat Islam yang mencapai miliaran jiwa tidak memiliki kekuatan politik global yang mampu melindungi Palestina secara nyata. Para pemimpin muslim lebih sibuk menjaga kepentingan politik dan hubungan diplomatik dibanding membela umat.
Akibatnya, generasi muslim hari ini tumbuh dalam kondisi kehilangan izzah dan rasa percaya diri sebagai umat terbaik. Mereka menyaksikan saudara-saudaranya dibantai, tetapi tidak melihat hadirnya kekuatan umat yang mampu menghentikan penjajahan.
Jika kondisi ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa tumbuh dalam dua bahaya besar. Kehilangan kepedulian terhadap urusan umat atau justru kehilangan harapan terhadap kebangkitan Islam itu sendiri.
Persatuan Umat dalam Naungan Islam Kaffah
Persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan dengan empati sesaat atau aksi simbolik tahunan. Palestina membutuhkan solusi yang menyentuh akar persoalan, yaitu mengakhiri penjajahan dan menghentikan sistem global yang menopangnya.
Islam memandang kaum muslimin sebagai satu tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)
Karena itu, pembebasan Palestina bukan hanya urusan rakyat Gaza, tetapi tanggung jawab seluruh umat Islam.
Dalam sejarah Islam, Palestina pernah hidup aman di bawah kepemimpinan Islam selama berabad-abad. Khalifah Umar bin Khaththab membebaskan Palestina dari kekuasaan Romawi. Shalahuddin Al-Ayyubi juga berhasil merebut kembali Al-Quds dari Pasukan Salib. Semua itu terjadi ketika umat Islam memiliki kepemimpinan yang menyatukan kekuatan politik dan militernya.
Inilah yang hari ini hilang dari umat Islam.
Islam kaffah menawarkan solusi mendasar melalui persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh. Kepemimpinan Islam tidak akan tunduk pada tekanan negara adidaya, tetapi menjadikan penjajahan sebagai musuh yang wajib dihapuskan.
Selain itu, pendidikan Islam juga harus melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap umat, memahami sejarah perjuangan Islam, dan memiliki keberanian membela kebenaran. Generasi muslim tidak boleh tumbuh hanya menjadi penonton tragedi kemanusiaan.
Sebagai pendidik generasi, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kesadaran bahwa Palestina bukan sekadar berita di layar media sosial. Palestina adalah bagian dari luka umat yang membutuhkan perjuangan nyata.
Karena itu, perjuangan membela Palestina harus diiringi dengan perjuangan membangun kembali kekuatan umat melalui penerapan Islam secara kaffah. Sebab selama umat Islam tercerai-berai dan hukum Allah tidak dijadikan dasar kehidupan, penjajahan akan terus menemukan jalannya.
Palestina mungkin sedang terluka hari ini. Namun umat Islam tidak boleh kehilangan harapan. Sebab janji Allah tentang kemenangan Islam adalah kebenaran yang pasti datang pada waktunya.
Wallahu a'lam bishshawwab
No comments:
Post a Comment