Oleh.Delfiani
(Pegiat Literasi)
Gelombang panic buying BBM kembali menghantam sejumlah negara seiring memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama kepanikan. Masyarakat berbondong-bondong mengamankan pasokan energi, khawatir krisis akan semakin membesar dan tak terkendali.
Di Indonesia, pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat tetap tenang dan memastikan stok BBM dalam kondisi aman. Namun, pernyataan ini justru membuka pertanyaan mendasar mengapa setiap gejolak global selalu membuat kita berada di ambang kepanikan?
Negeri Kaya yang Rentan
Fenomena panic buying tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan energi. Indonesia, yang dikenal sebagai negeri kaya sumber daya alam, justru masih bergantung pada impor BBM. Ketika konflik global mengganggu distribusi minyak, dampaknya langsung terasa di dalam negeri.
Kenaikan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menjalar ke seluruh sendi kehidupan. Harga kebutuhan pokok meningkat, biaya transportasi melonjak, dan daya beli masyarakat tertekan. Dalam situasi seperti ini, kepanikan publik menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Lebih dari itu, kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional masih rapuh. Jaminan stok aman tidak serta merta menghapus kekhawatiran, karena akar masalahnya belum terselesaikan.
Energi dalam Cengkeraman Kapitalisme
BBM bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sarana utama yang menentukan stabilitas sebuah negara. Dalam sistem kapitalisme global, energi telah berubah menjadi alat kontrol dan dominasi.
Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan bagaimana perebutan pengaruh atas sumber energi menjadi bagian dari strategi geopolitik. Negara-negara besar menggunakan kekuatan militernya untuk menjaga kepentingan energi, sementara negara berkembang menjadi pihak yang paling terdampak.
Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menciptakan ketergantungan sistemik. Negara-negara yang memiliki kekayaan energi justru tidak memiliki kendali penuh atas pengelolaannya. Sumber daya diserahkan kepada korporasi, harga ditentukan pasar, dan rakyat menjadi korban fluktuasi.
Dalam kerangka ini, kedaulatan energi sejatinya hanyalah ilusi. Selama mekanisme pasar bebas menjadi acuan, selama itu pula negara tidak benar-benar berdaulat atas energinya.
Kedaulatan Energi dalam Perspektif Islam
Islam menawarkan sudut pandang yang berbeda secara mendasar. Energi, termasuk minyak dan gas, dikategorikan sebagai kepemilikan umum. Artinya, sumber daya tersebut adalah milik seluruh rakyat dan tidak boleh dikuasai oleh individu, swasta, atau asing.
Negara dalam sistem Islam berperan sebagai pengelola, bukan pemilik. Pengelolaan dilakukan untuk memastikan seluruh rakyat mendapatkan manfaat secara adil. Dengan demikian, energi tidak menjadi komoditas spekulatif, melainkan layanan publik yang harus dijamin ketersediaannya.
Prinsip ini secara otomatis menutup celah eksploitasi. Tidak ada ruang bagi privatisasi tambang besar, tidak ada dominasi korporasi, dan tidak ada ketergantungan pada pihak asing. Negara memiliki kendali penuh atas produksi, distribusi, dan harga energi.
Politik Energi Islam
Dalam sistem Islam, pengelolaan energi dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Pertama, seluruh sumber daya strategis ditetapkan sebagai kepemilikan umum. Kedua, negara mengelola langsung tanpa menyerahkan kepada swasta atau asing. Ketiga, hasil pengelolaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir pihak.
Selain itu, Islam akan membangun kemandirian energi dengan mengoptimalkan potensi internal negeri-negeri Muslim. Dengan cadangan energi yang sangat besar, dunia Islam sejatinya mampu menjadi kekuatan mandiri tanpa bergantung pada sistem global yang eksploitatif.
Distribusi energi juga diatur secara adil, sehingga tidak terjadi kelangkaan buatan maupun spekulasi harga. Negara memastikan setiap individu mendapatkan akses energi dengan harga terjangkau, bahkan gratis dalam kondisi tertentu.
Kesadaran Umat: Mengakhiri Paradoks Kekayaan
Realitas hari ini menunjukkan paradoks yang menyakitkan. Negeri-negeri Muslim kaya akan minyak dan gas, namun rakyatnya justru sering menghadapi kenaikan harga dan kelangkaan energi. Ini bukan karena kurangnya sumber daya, tetapi karena kesalahan sistem.
Kapitalisme telah menjadikan kekayaan umat sebagai komoditas global yang diperdagangkan demi keuntungan. Sementara itu, umat hanya menjadi konsumen yang harus menanggung dampaknya.
Kesadaran ini penting untuk membongkar narasi bahwa krisis energi adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Faktanya, krisis ini adalah hasil dari sistem yang rusak.
Dari Kepanikan Menuju Perubahan
Panic buying BBM hanyalah gejala dari persoalan yang lebih besar, yaitu rapuhnya kedaulatan energi dalam sistem kapitalisme. Selama akar masalah ini tidak diselesaikan, kepanikan serupa akan terus berulang setiap kali terjadi gejolak global.
Sudah saatnya umat Islam berpikir lebih mendasar dan sistemik. Kedaulatan energi tidak akan terwujud hanya dengan kebijakan teknis atau imbauan untuk tetap tenang. Ini membutuhkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya.
Penerapan syariat Islam secara menyeluruh bukan sekadar alternatif, melainkan solusi mendasar untuk mengakhiri ketergantungan dan eksploitasi. Dengan sistem ini, energi tidak lagi menjadi sumber krisis, tetapi menjadi pilar kemakmuran dan kemandirian umat.
Wallahu alam bissawab
No comments:
Post a Comment