Oleh: Suryani
Detik.com, BIMA – Dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial SH (26) dan KF di tangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang di sembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Sementara bandar alias pemasok barang haram tersebut masih diburu.
SUARASULTRA.com, KENDARI – Seorang remaja berinisial HS (19) tak berkutik saat di ringkus Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari dalam operasi dini hari , senin (30/3/2026). Dari tangan pelaku, polisi mengamankan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di sejumlah lokasi berbeda.
Analisis:
Fenomena keterlibatan seseorang terhadap pusaran barang haram seperti sabu khususnya bagi seorang remaja/pelajar merupakan alarm keras bagi ketahanan sosial suatu bangsa. Ini meninjau bagaimana rapuhnya sistem negara dan justru sistem tersebut menjadi pilar-pilar pendukung berbagai tindakan kriminal. Jika membahas tentang sistem, hampir semua negara telah menerapkan sistem sekuler- kapitalis.
Dalam paradigma sekuler, pemisahan nilai-nilai spiritual dari kehidupan publik seringkali menyisahkan kekosongan eksistensial seperti, keberhasilan seringkali hanya diukur dari kepemilikan materi dan gaya hidup hedon. Seseorang yang belum memiliki kemandirian finansial merasa tertekan untuk memenuhi standar tersebut, sehingga melihat peredaran sabu sebagai jalan pintas ekonomi.
Kemudian, agama tidak di jadikan sebagai landasan moral yang kokoh, seseorang kehilangan arah dalam membedakan antara pencapaian yang bermartabat dan tindakan kriminal yang tak terkendali.
Selanjutnya, pengabaian karakter, sekolah lebih berfungsi sebagai pabrik tenaga kerja daripada institusi pembentuk kepribadian. Pelajar mungkin cerdas secara intelektual, namun rapuh secara mental dan etika, sehingga mudah di manipulasi oleh sindikat narkoba untuk menjadi kurir.
Penegakkan hukum yang tidak menyentuh akar, sanksi yang tidak menimbulkan efek jera selama akar masalah sistemik dan moral tidak di perbaiki, maka hal tersebut akan terus tejadi pengedar akan di gantikan oleh pengedar lainya.
Kejadian pelajar menjadi pengedar sabu adalah manifestasi dari kegagalan sistem dalam menjaga kesucian generasi. Solusi yang dibutuhkan bukan sekedar sosialisasi bahaya narkoba, melainkan solusi yang menyentuh akar masalah sistem akibat sistem, yang mampu melahirkan reintegrasi nilai-nilai moral dan spiritual dalam kehidupan mulai dari kurikulum pendidikan, kebijakan ekonomi yang berkeadilan, hingga penegakkan hukum yang tanpa pandang bulu.
Tanpa adanya visi yang menempatkan manusia sebagai komoditas penghasil ekonomi, karena jika hal tersebut terjadi maka generasi akan terus terjebak dalam pusaran peredaran gelap yang menjanjikan kesenangan namu berujung kehancuran masa depan.
Kontruksi islam:
Untuk menekan sistem sekuler kita butuh penegakkan sistem islam, dalam pandangan islam perlindungan terhadap generasi merupakan bagian dari tujuan di syariatkannya hukum islam, khususnya dalam aspek menjaga jiwa dan menjaga akal.
Islam memandang pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, tetapi pembentukan syakhshiyah islam (kepribadian islam), di mana seseorang di tanamkan sejak dini kesadaran bahwa setiap perbuatan di awasi oleh allah. dengan ini, motivasi untuk tidak menyentuh narkoba bukan takut terhadap polisi, melainkan karena ketaatan kepada sang pencipta yakni allah SWT.
Sistem islam memastikan lapangan kerja tersedia, kebutuhan pokok terpenuhi, sehingga tidak ada desakan ekonomi yang menjerumuskan seseorang ke pusaran gelap.
Islam menawarkan solusi yang komprehensif, mencegah dari dalam dan iman, membentangi dari samping dengan keluarga dan masyarakat, serta memutus jalur dari atas dengan kebijakan negara yang tegas dan berpihak pada moralitas.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment