Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

‘No King’ Bergema, Amerika Melemah Khilafah Semakin Dibutuhkan

Wednesday, April 15, 2026 | Wednesday, April 15, 2026 WIB




Oleh : Neny Nuraeny 

Pendidik Generasi 


Dilansir dari Metrotvnews, gelombang demonstrasi bertajuk “No King” yang terjadi pada 28 Maret 2026 menjadi potret kuat keguncangan internal Amerika Serikat. Sedikitnya 8 juta warga turun ke jalan di lebih dari 3.300 titik yang tersebar di seluruh 50 negara bagian, menjadikannya salah satu aksi protes terbesar dalam sejarah negara tersebut. Massa secara serentak menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah, khususnya keterlibatan dalam perang di Iran. Seruan “End This War” menggema di berbagai kota, menunjukkan meningkatnya keresahan publik terhadap arah kebijakan luar negeri yang dinilai semakin membahayakan.


Aksi besar ini tidak muncul tanpa sebab, melainkan dipicu oleh akumulasi berbagai persoalan yang menekan masyarakat. Intervensi militer yang berkepanjangan, kebijakan imigrasi yang kontroversial, serta lonjakan harga minyak dan kebutuhan pokok menjadi faktor utama yang memicu kemarahan rakyat. Di saat yang sama, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden merosot hingga 36%, mencerminkan krisis kepercayaan yang kian dalam. Fakta ini menunjukkan bahwa di tengah citra sebagai negara adidaya, Amerika Serikat justru tengah menghadapi tekanan sosial dan politik yang serius dari dalam negerinya sendiri.


Ambisi Global dan Retaknya Kepercayaan  Rakyat


Ambisi global yang ditunjukkan pemerintahan Donald Trump melalui kebijakan militernya semakin memperjelas beban besar yang harus ditanggung Amerika Serikat. Keterlibatan dalam konflik, termasuk eskalasi perang dengan Iran, bukan hanya memicu ketegangan internasional, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi dalam negeri. Biaya perang yang tinggi, lonjakan harga energi, serta tekanan ekonomi yang dirasakan rakyat menjadi bagian dari konsekuensi kebijakan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika tingkat kepuasan terhadap pemerintah merosot tajam, mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan yang dianggap gagal mengelola negara.


Di sisi lain, dukungan terbuka Amerika terhadap Israel dalam konflik Palestina serta upaya membangun aliansi dengan Eropa dan sejumlah negara Teluk untuk menghadapi Iran semakin mempertegas wajah hegemoni global yang selama ini dijalankan. Kebijakan ini tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga membuka mata banyak pihak termasuk warga Amerika sendiri tentang dampak nyata dari dominasi tersebut. Gelombang protes besar yang terjadi menjadi indikasi bahwa narasi besar tentang kekuatan dan stabilitas Amerika mulai dipertanyakan dari dalam. 


Dalam konteks ini, sikap sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim yang memilih bersekutu dengan Amerika turut menjadi sorotan, karena dinilai memperpanjang ketergantungan dan memperkuat pengaruh yang justru menuai penolakan luas di tingkat global.


Urgensi Penyadaran Politik Umat Islam


Realitas yang tampak dari gelombang protes “No King” tidak bisa dilepaskan dari dampak panjang hegemoni global yang dijalankan Amerika Serikat. Ketika jutaan rakyatnya sendiri turun ke jalan menolak perang dan kebijakan pemerintah, hal itu menjadi bukti bahwa sistem kapitalisme dan politik demokrasi yang diusungnya tidak hanya menimbulkan krisis di luar negeri, tetapi juga mengguncang stabilitas di dalam negeri. Selama ini, dominasi tersebut telah melahirkan berbagai konflik antar bangsa, termasuk di dunia Islam, di mana umat dan negeri-negerinya kerap menjadi objek kepentingan politik dan ekonomi global. Politik adu domba, intervensi, dan aliansi yang tidak adil telah memperpanjang penderitaan, sementara manfaatnya kembali pada kekuatan besar itu sendiri.


Dalam kondisi ini, penyadaran politik umat menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda. Umat Islam perlu memahami secara jernih bagaimana peta kekuatan global bekerja, sekaligus dibekali dengan pemahaman tentang politik Islam, sistem pemerintahan Islam, dan konsep kepemimpinan yang berlandaskan syariat. 


Kesadaran ini harus terus dikuatkan, tidak hanya pada level individu tetapi juga di tengah masyarakat secara luas, agar umat tidak lagi menjadi objek permainan kekuasaan global. Dari sinilah arah perjuangan menjadi jelas, yakni mengajak umat dan para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk bersatu dalam upaya menghadirkan kembali tatanan yang berlandaskan syariah Islam melalui penegakan Khilafah, sebagai alternatif atas sistem dunia yang dinilai telah melahirkan berbagai kerusakan dan ketidakadilan.


Wallahu alam bishawaab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update