Rahmi
"Besar pasak daripada tiang", peribahasa yang artinya pengeluaran lebih besar daripada pemasukan atau pendapatan. Ungkapan ini menggambarkan perilaku di mana seseorang membelanjakan uang melebihi apa yang dihasilkannya.
Dalam kehidupan saat ini sepertinya saya atau pun anda sering mengalaminya. Namun bagaimana jika pengeluaran sedikit sedangkan pemasukan pun sulit? Seperti itulah kira-kira yang terjadi di sebagian masyarakat.
Berikut data yang dipublikasikan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim yang dirilis April 2026, Kabupaten Paser tercatat memiliki rata-rata pengeluaran atau biaya hidup terendah di Kalimantan Timur. Hal ini menempatkan Paser pada posisi akhir dalam daftar rata-rata pengeluaran rumah tangga se-Kaltim yaitu sekitar 1,7 juta perbulan yang rata-rata berada di kisaran 2,1 juta perbulan. Adapun kota Bontang menduduki yang tertinggi yaitu sekitar 2,6 juta perbulan.
Selanjutnya berdasarkan data BPS Kaltim yang dirilis awal Februari 2026, jumlah penduduk miskin di Kaltim per September 2025 meningkat menjadi 5,19 persen atau sekitar 202,04 ribu orang. Dengan posisi Kutai Kartanegara memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi, yaitu 54,99 ribu jiwa. Kutai Timur berada di urutan berikutnya dengan 34,91 ribu jiwa. Selanjutnya Samarinda dengan 30,45 ribu jiwa.
Dari data di atas dapat diungkapkan bahwa pengeluaran rendah di Paser bukan berati masyarakat di sana dalam keadaan baik. Hal ini justru menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat masih terbatas karena rendahnya tingkat pendapatan dan peluang ekonomi.
Di sisi lain pembangunan yang belum merata juga mengakibatkan akses ekonomi masyarakat menjadi rendah, seperti lapangan kerja yang sulit dan akses transportasi yang belum optimal sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat menjadi rendah, pilihan belanja yang sedikit dan konsumsi yang menurun.
Secara umum hal ini juga menjadi cermin atas tingkat ketidaksejahteraan, keterbatasan dan kemiskinan di masyarakat masih menjadi hal yang terus terpelihara dalam sistem ekonomi kapitalisme sekuler. Kekayaan dalam sistem ini, menjadikan hanya terdistribusi pada elite tertentu. Besarnya ketimpangan sosial antara kaya dan miskin merupakan hal yang pasti akan ditemukan dalam masyarakat yang mengadopsi sistem Kapitalisme.
Lihat saja daerah yang kaya akan SDAE seperti Kukar dan Kutim justru tingkat kemiskinannya tertinggi. Artinya kekayaan SDAE tidak berkolerasi dengan kesejahteraan.
Sistem Kapitalisme sekuler membuat warga semakin miskin dan kaya semakin kaya. Sebab sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan oleh negeri ini membuat distribusi harta hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Kemiskinan merupakan problem struktural, bukan angka semata.
Islam Menyejahterakan Per-individu
Islam mewujudkan kesejahteraan per-individu secara real bukan rata-rata perkapita berdasarkan data. Islam mewajibkan sirkulasi kekayaan terjadi pada semua anggota masyarakat dan mencegah sirkulasi kekayaan hanya pada segelintir orang.
Jika terjadi kesenjangan maka negara harus memecahkannya dengan cara mewujudkan keseimbangan dalam masyarakat. Caranya dengan memberikan harta negara kepada orang yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya. Misalnya, memberikan tanah yang tidak difungsikan untuk dikelola warganya.
Setiap orang bebas dalam menjalankan aktivitas ekonomi dengan membatasi sebab dan jenis kepemilikan. Artinya, ada pembagian kepemilikan negara yang tidak boleh dikuasai/ dimiliki oleh individu, swasta atau asing misalnya SDAE. Dalam Islam, pengelolaan hasil SDAE oleh negara akan masuk dalam kas Baitul Mal yang menjadi pusat pendapatan negara. Arahnya adalah untuk menjamin kehidupan per-individu rakyat agar benar-benar mendapatkan sandang, pangan dan papan. Serta untuk mewujudkan jaminan bagi rakyat dalam bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, pertanian, industri, infrastruktur dan lainnya.
Dengan demikian, kesejahteraan dalam Islam tidak hanya masalah makan saja. Tapi mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat harus dipenuhi oleh negara. Dengan pengelolaan SDAE tersebut in syaa Allah akan menjadikan warga sejahtera per-individu bukan kolektif.
Prestasi kegemilangan sistem Islam bisa dilihat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau telah mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan hingga tidak ditemui satu pun penerima zakat karena rakyatnya hidup berkecukupan. Demikianlah prestasi sistem Islam menjamin kesejahteraan tidak hanya kolektif tapi juga individunya. Bagaimana tidak keberkahan bumi dan langit akan diraih jika taat kepada aturan Ilahi. Wallahu'alam.

No comments:
Post a Comment