Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idul Fitri di Tengah Runtuhan: Derita Gaza yang Terlupakan di Tengah Gemuruh Politik Dunia

Monday, April 06, 2026 | Monday, April 06, 2026 WIB

 


Oleh : Ummu Fatih (Aktivis Muslimah)

 

        Idul Fitri, momen kemenangan dan kebahagiaan yang dinantikan seluruh umat Islam di dunia, menjadi momen yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan bagi jutaan warga Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang dilaporkan oleh Mina News, ribuan keluarga Gaza merayakan hari raya di bawah kanopi tenda darurat atau di antara reruntuhan gedung yang hancur akibat serangan militer Israel yang berlangsung terus-menerus. Takbir Idul Fitri yang seharusnya bergema dari menara masjid justru terdengar di tengah puing-puing bangunan, dengan sebagian besar masjid di wilayah tersebut sudah tidak layak digunakan atau bahkan lenyap total akibat pemboman.

 Sementara itu, seperti yang terlihat dalam konten yang diakses melalui tautan YouTube, warga Gaza yang masih mampu melakukan ibadah salat Idul Fitri harus melakukannya di lapangan terbuka yang dikelilingi reruntuhan, dengan kondisi sanitasi yang memprihatinkan dan kurangnya fasilitas dasar seperti air bersih untuk berwudhu. Ironisnya, seperti yang dilaporkan oleh Mina News.net, pasukan dan pemukim Israel justru dengan bebas melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Ibrahim di Kota Suci Hebron, sebuah tempat suci yang seharusnya menjadi hak bersama umat Islam, sementara warga asli Palestina bahkan kesulitan untuk mencapai lokasi tersebut akibat blokade dan pembatasan pergerakan. Dokumen yang diakses melalui Google Share juga mencatat bahwa hanya sekitar 10% warga Gaza yang mampu merayakan Idul Fitri dengan sedikit kemewahan, sementara sebagian besar hanya bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan bantuan organisasi kemanusiaan yang jumlahnya semakin terbatas akibat blokade yang diperketat.

         Derita yang dialami warga Gaza bukanlah masalah baru, melainkan sudah berlangsung puluhan tahun dan semakin memburuk dari hari ke hari. Data yang diakses melalui Google Share menunjukkan bahwa lebih dari 80% infrastruktur di Gaza telah rusak atau hancur total, dengan jutaan orang kehilangan rumah dan sumber mata pencaharian. Blokade darat, laut, dan udara yang dilakukan Israel sejak tahun 2007 telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat parah – kelangkaan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan air bersih menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari.

 Pada momen Idul Fitri tahun ini saja, seperti yang dilaporkan oleh Mina News.net, ribuan anak-anak Gaza tidak mendapatkan apa-apa selain makanan bantuan yang terbatas dan pakaian bekas, jauh dari kesempatan untuk merayakan hari raya dengan mainan atau pakaian baru seperti anak-anak di negara lain. Banyak keluarga yang harus merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran anggota keluarga mereka yang terbunuh atau tertahan di penjara Israel. Kasus-kasus penyakit akibat kurang gizi dan kondisi lingkungan yang buruk terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Semua ini menunjukkan bahwa duka dan nestapa warga Gaza seolah tidak memiliki akhir, dengan harapan akan kehidupan yang layak semakin surut seiring dengan kelalaian dunia internasional terhadap kondisi mereka.

          Perhatian pemerintah Amerika Serikat dan Israel saat ini lebih terfokus pada upaya untuk menekan kekuasaan Iran di kawasan Timur Tengah, sehingga masalah Palestina semakin terpinggirkan. Kebijakan kedua negara ini lebih mengutamakan kepentingan strategis dan ekonomi mereka di kawasan, seperti pengendalian sumber daya energi dan pengaruh politik, daripada memperjuangkan keadilan bagi rakyat Palestina.Serangan militer yang dilakukan Israel di Gaza seringkali hanya menjadi "tindakan sekunder" atau alat untuk mengalihkan perhatian dari konflik utama yang mereka geluti dengan Iran dan sekutunya di kawasan. Hal ini menyebabkan derita warga Gaza semakin terlupakan, dengan dunia internasional lebih sibuk mengikuti perkembangan konflik antara AS-Israel dan Iran daripada memperhatikan penderitaan jutaan orang yang terjadi setiap hari di Gaza.

         Salah satu ironi terbesar dalam konflik Palestina adalah sikap sebagian negara-negara Arab Teluk yang justru menjalin kemitraan dengan Amerika Serikat dan bahkan bekerja sama dengan Israel untuk menekan Iran.Padahal, rakyat Palestina yang merupakan saudara sesama Muslim sedang mengalami penderitaan yang luar biasa akibat penjajahan Israel.Beberapa negara Arab Teluk bahkan telah menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel, mengabaikan seruan untuk membela hak-hak rakyat Palestina. Mereka lebih fokus pada kepentingan ekonomi dan keamanan domestik daripada pada solidaritas umat Islam. Sikap ini menunjukkan bahwa solidaritas agama dan bangsa telah tergeser oleh kepentingan politik dan ekonomi sempit, sehingga derita Gaza semakin tidak mendapatkan dukungan yang seharusnya dari negara-negara Muslim lainnya.

         Ajaran Islam mengajarkan bahwa umat Islam adalah seperti satu tubuh – jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan kesakitannya.Kondisi Idul Fitri yang menyedihkan di Gaza seharusnya menjadi penderitaan bersama bagi seluruh umat Islam di dunia. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar umat Islam di negara-negara Muslim yang lebih makmur hanya merayakan Idul Fitri dengan kemewahan dan kemenangan, tanpa menyadari atau peduli dengan penderitaan saudara mereka di Gaza.Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa blokade di Gaza telah menyebabkan kematian ribuan anak-anak akibat kekurangan makanan dan obat-obatan, sementara mereka dengan bebas menghabiskan uang untuk pesta dan perayaan Idul Fitri.Hal ini menunjukkan adanya kehilangan rasa ukhuwah Islamiah yang sesungguhnya, di mana perhatian lebih difokuskan pada kesenangan pribadi daripada pada penderitaan saudara sesama Muslim.

         Perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukanlah prioritas bagi Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara tersebut lebih fokus pada upaya untuk memperkuat hegemoni kekuasaan mereka di dunia, terutama di kawasan Timur Tengah yang kaya akan sumber daya alam. Amerika Serikat telah lama menjadi sekutu utama Israel, memberikan dukungan militer dan politik yang besar untuk menjaga dominasi Israel di kawasan. Israel sendiri melihat Palestina bukan sebagai masalah yang perlu diselesaikan dengan adil, melainkan sebagai bagian dari rencana mereka untuk memperluas wilayah dan mengkonsolidasikan kekuasaan mereka. Kedua negara ini menggunakan berbagai alasan, seperti keamanan nasional dan perang melawan terorisme, untuk membenarkan tindakan mereka yang menindas rakyat Palestina, sementara sebenarnya mereka hanya ingin menjaga posisi kekuasaan mereka di dunia internasional.

         Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fath ayat 29: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir,tetapi berkasih sayang sesama mereka."

  Umat Islam harus selalu menunjukkan kasih sayang dan kemurahan hati kepada saudara sesama Muslim yang sedang dalam kesusahan, seperti rakyat Gaza. Sementara itu, terhadap mereka yang menindas dan menyakiti umat Islam, seperti penjajah Israel dan mereka yang mendukungnya, umat Islam harus bersikap tegas dan tidak tunduk. Prinsip ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk selalu berdiri tegak membela hak-hak saudara sesama Muslim yang teraniaya.

        Ukhuwah Islamiah adalah salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang mengikat seluruh umat Islam menjadi satu komunitas yang solid.

         Ukhuwah Islamiah mengharuskan umat Islam di seluruh dunia untuk merasakan penderitaan saudara mereka di Gaza sebagai penderitaan sendiri dan berusaha sekuat tenaga untuk membantu mereka. Hal ini termasuk memberikan bantuan kemanusiaan, menyuarakan dukungan, dan berjuang untuk membebaskan mereka dari penjajahan. Tanpa semangat ukhuwah Islamiah yang sesungguhnya, upaya untuk menyelesaikan derita Gaza akan sia-sia, karena perjuangan Palestina adalah perjuangan seluruh umat Islam.

 Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 123: "Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang yang kafir yang berada di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu .Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

         Perjuangan untuk membebaskan Gaza dan seluruh Palestina tidak akan pernah mencapai hasil yang maksimal jika negara-negara Muslim tetap terpecah belah dan tidak memiliki kepemimpinan yang terpadu. Ajaran Islam mengajarkan bahwa umat Islam perlu bersatu di bawah satu kepemimpinan khilafah yang berdasarkan ajaran Rasulullah SAW. 

         Khilafah akan menjadi pusat kekuatan umat Islam yang akan mengatur perjuangan untuk membebaskan Palestina, menyatukan upaya semua negara dan umat Muslim di dunia, serta memastikan bahwa perjuangan tersebut dilakukan dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam. Hanya dengan khilafah, upaya untuk membela Gaza dan mewujudkan perdamaian serta kemerdekaan Palestina akan bisa terlaksana dengan sempurna, karena khilafah akan bekerja berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan umat Islam secara keseluruhan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update