Nusantaranews.net, Limapuluh Kota - Penutupan Khalwat/Suluk di Ketinggian, Kecamatan Harau, Minggu (5/4/2026), tidak hanya menjadi penanda berakhirnya perjalanan spiritual para jemaah. Lebih dari itu, momentum ini berubah menjadi ruang penyampaian harapan besar terhadap keberlangsungan surau-surau suluk di Kabupaten Lima Puluh Kota yang masih menghadapi keterbatasan.
Di tengah suasana khidmat, prosesi Pengukuhan Gelar dan Tauliyah Silsilah Syekh H. Mahmud Abdullah berlangsung penuh makna. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol keberlanjutan ajaran dan tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai Islam yang damai.
Namun di balik kekhidmatan tersebut, terselip kegelisahan. Syekh Mulyadi Ketinggian secara terbuka menyampaikan kondisi sejumlah surau suluk yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Masih banyak surau suluk yang terbengkalai karena keterbatasan dana. Kami berharap ke depan ada perhatian lebih,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi sorotan utama dalam kegiatan yang juga dihadiri Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang. Kehadiran kepala daerah dinilai sebagai peluang strategis untuk menjembatani kebutuhan para penggiat suluk dengan kebijakan pemerintah.
Dalam sambutannya, Bupati Safni mengakui pentingnya menjaga tradisi suluk sebagai bagian dari jati diri masyarakat. Ia menegaskan bahwa nilai spiritual yang lahir dari suluk harus memberi dampak nyata dalam kehidupan sosial.
“Ini bukan hanya ritual, tapi pembentukan karakter. Nilai kejujuran, ketenangan, dan kepedulian sosial harus menjadi hasil nyata dari suluk,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dihadiri unsur kepolisian dan legislatif, yang memperlihatkan bahwa perhatian terhadap tradisi keagamaan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Kehadiran lintas sektor ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian nilai spiritual membutuhkan dukungan bersama.
Di sisi lain, tokoh adat yang hadir menekankan pentingnya keseimbangan antara peran ulama dan ninik mamak dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Sinergi keduanya dianggap menjadi kunci dalam menjaga harmoni antara nilai agama dan adat.
Penutupan suluk tahun ini pun meninggalkan pesan yang lebih luas: bahwa tradisi tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga perlu didukung secara nyata. Tauliyah yang diberikan kepada penerus silsilah menjadi simbol kesinambungan, sementara kondisi surau menjadi pengingat bahwa warisan spiritual juga membutuhkan perhatian fisik dan kebijakan.
Acara yang bertepatan dengan 16 Syawal 1447 Hijriah ini ditutup dengan doa bersama dan silaturahmi Idulfitri, namun gaung harapan untuk perbaikan surau suluk dipastikan akan terus bergema setelah kegiatan berakhir.(R.Sitepu)

No comments:
Post a Comment