Oleh : Inge Oktavia Nordiani (Pegiat Literasi)
Tidak terasa kaum muslimin telah melewati pertengahan Ramadan 1446 H. Bulan penuh keberkahan dan limpahan pahala. Rasanya sangat disayangkan bila tidak dilewati dengan batas maksimal diri. Di sekeliling kita masih banyak ditemui perilaku abai. Warung-warung kaki, fenomena 'ngepap' ke medsos menunjukkan kebanggaan tidak berpuasa dan lain sebagainya.
Sungguh manusia melampaui batas. Padahal Allah swt telah menutup pintu neraka dan membuka lebar-lebar pintu surga. Ibarat di dalam masjid yang ber-AC full, kita yang berada di luarpun dapat merasakan sejuknya ketika pintu dibuka tanpa harus masuk. Namun walaupun syaitan telah dibelenggu, ketika manusia masih mendewakan hawa nafsunya, maksiat pun terus bersemi di bulan suci ini. Penting bagi semua untuk senantiasa mengupgrade ke-Why-an berpuasa di bulan Ramadhan ini untuk dapat mengecash keimanan, sehingga dapat memperoleh gelar sebenar-sebenarnya takwa.
Di tengah kondisi alam dunia yang semakin dipenuhi hiruk-pikuk, perlu kiranya kita mengambil makna. Belajar dari kata hibernasi. Hibernasi adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan oleh beberapa spesies hewan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang keras seperti suhu dingin ekstrim dan kekurangan makanan, (Halodoc, 10 Juni 2025).
Ujian manusia mulai dari kemiskinan, tingginya harga bahan pokok, meningkatnya kerusakan dalam rumah tangga, pergaulan bebas bahkan bunuh diri dan pembunuhan, harusnya menyadarkan kita bahwa manusia itu lemah dan ada yang harus diperbaiki di sana. Apakah manusia tidak memahami dengan salah satu tanda akhir zaman yaitu adanya pembunuhan secara mudah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ini berada dalam genggamanNya, dunia ini tidak akan musnah sehingga orang-orang saling bunuh satu sama lain tanpa mengetahui apa penyebabnya. Demikian juga orang yang dibunuh, dia tidak tahu apa penyebabnya sehingga dia harus dibunuh.” Maka, ditanyakanlah kepada Beliau, “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab, “Itulah al-harj, yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama di neraka.” (HR. Muslim 2908).
Hibernasi bagi manusia hari ini adalah genting. Kemampuan bertahan memegang syariat, menekan hawa nafsu yang kebablasan sebagaimana menggenggam bara api telah disampaikan Nabi dalam sabdanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dalam hadis di atas Rasulullah saw secara implisit memotivasi manusia agar menjadi bagian dari penggenggam bara api. Sebab hidup hanya untuk beribadah kepada Allah sudah menjadi tujuan sejati hidup di dunia. Namun hibernasi dapat sempurna dilakukan jika masyarakat dan negara turut andil di dalam menganalisa akar permasalahan yang terjadi hari ini.
Kompleksnya permasalahan yang terjadi bukanlah sekedar masalah individu. Meminimalkan aturan Allah dalam berkehidupan telah terbukti membawa kesengsaraan. Oleh karena itu kembali pada solusi sistemik merupakan awal dari perubahan kualitas kehidupan. Rasulullah saw telah menyampaikan dalam sabdanya. Nabi Muhammad saw bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.” (HR. Malik; Al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).
Walhasil, momentum bulan Ramadhan ini menjadi atmosfer yang tepat untuk menghibernasi semua lini untuk meraih kebangkitan umat.[]

No comments:
Post a Comment