Oleh: Kursiyah Azis ( Aktivis Muslimah)
Pembukaan perlintasan Rafah yang terletak di antara Gaza dan Mesir kembali menjadi sorotan dunia. Setelah berbulan-bulan Gaza terkepung oleh blokade dan serangan militer, gerbang ini sesekali dibuka untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk. Namun pembukaan itu berlangsung sangat terbatas, dengan jumlah truk bantuan dibatasi pula, alur distribusi diawasi ketat, bahkan sering kali tertunda oleh berbagai alasan teknis dan politik. Di tengah kondisi itu, rakyat Gaza tetap menghadapi kelaparan, kekurangan obat-obatan, dan kehancuran infrastruktur yang parah. Rafah dibuka, tetapi hanya setengah hati.
Sebagaiamana dilansir dari ANTARANews.com (6/2/2026) Juru bicara UNRWA, Jonathan Fowler, mengatakan bahwa pasokan kemanusiaan yang ditujukan untuk Gaza masih tertahan di Mesir dan Yordania, ia mencatat bahwa Zionis Israel telah memblokir akses masuk pasokan ke wilayah tersebut sejak Maret 2025, sehingga dengan demikian maka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beranggapan bahwa untuk mengakhiri bencana kemanusiaan yang semakin parah di Jalur Gaza diperlukan pembukaan tanpa batasan di semua penyeberangan untuk pengiriman bantuan. PBB memperingatkan bahwa membuka penyeberangan Rafah hanya untuk individu tanpa bantuan kemanusiaan, tidak akan mengubah situasi yang memburuk di lapangan.
*Dibalik Terbukanya Rafah, Ada Penjajah yang Semakin Betah*
Ironisnya, pada saat dunia sibuk membicarakan bantuan kemanusiaan yang masuk melalui Rafah, penjajahan terhadap Palestina justru terus berjalan tanpa henti. Wilayah-wilayah Palestina di Tepi Barat semakin tergerus oleh pembangunan permukiman ilegal. Serangan militer, pengusiran warga, dan perampasan tanah tetap berlangsung. Dengan kata lain, bantuan kemanusiaan yang masuk melalui Rafah seolah hanya menjadi penawar sementara bagi luka yang terus dibuat oleh penjajahan yang sistematis.
Situasi ini menunjukkan sebuah paradoks besar dalam politik global. Dunia internasional sering menampilkan diri sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan, tetapi dalam praktiknya gagal menghentikan akar persoalan. Bagaimana tidak, penjajahan terhadap Palestina terus berlangsung meskipun ditengah kondisi pembukaan rafah tengah berjalan. Bantuan makanan, obat-obatan, dan tenda pengungsian memang penting untuk menyelamatkan nyawa, tetapi bantuan tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah jika sumber penderitaan rakyat Palestina tetap dibiarkan berlangsung.
Pembukaan Rafah yang terbatas juga mencerminkan bagaimana isu kemanusiaan sering kali dipisahkan dari isu politik. Gaza diperlakukan seolah hanya menghadapi krisis kemanusiaan, padahal krisis tersebut lahir dari realitas penjajahan dan blokade yang berkepanjangan. Dengan membatasi persoalan pada distribusi bantuan, perhatian dunia menjadi teralihkan dari fakta yang sebenarnya, bahwa rakyat Palestina hidup di bawah tekanan militer dan perampasan wilayah yang terus berlangsung.
Dengan demikian maka jelaslah bahwa kondisi ini menunjukkan ketimpangan yang sangat besar dalam sistem politik global. Karena yang sering terjadi adalah, ketika sebuah negara melakukan ekspansi wilayah dan kekerasan militer terhadap rakyat yang terjajah, respons dunia sering kali terbatas pada kecaman diplomatik yang lemah. Sementara itu, berbagai kekuatan besar justru terus memberikan dukungan politik, ekonomi, bahkan militer yang memungkinkan penjajahan tersebut terus berlangsung dan betah berada di lingkungan para korban terjajah.
Sebagai akibatnya, rakyat Palestina terus berada dalam lingkaran penderitaan yang berulang. Ketika konflik memuncak, dunia menyerukan gencatan senjata dan membuka jalur bantuan kemanusiaan. Namun setelah situasi mereda, ekspansi wilayah kembali berjalan, permukiman baru dibangun, dan tekanan terhadap rakyat Palestina kembali meningkat. Siklus ini berlangsung berulang-ulang tanpa solusi yang nyata.
*Rafah Menunggu Pembebasan Hakiki*
Di tengah situasi tersebut, penting untuk kita menyadari bahwa bantuan kemanusiaan bukanlah solusi utama. Sebab bantuan hanya dapat meredakan penderitaan sementara, tetapi tidak akan pernah mengakhiri penjajahan. Selama akar masalah berupa pendudukan dan perampasan wilayah tidak dihentikan, tragedi kemanusiaan di Palestina akan terus terulang lagi, dan lagi.
Karena itu, dunia seharusnya tidak hanya berbicara tentang pembukaan Rafah atau jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza. Yang jauh lebih penting adalah menghentikan kebijakan ekspansi wilayah dan penjajahan yang menjadi sumber utama penderitaan rakyat Palestina. Tanpa langkah tegas untuk menghentikan penjajahan, setiap pembukaan Rafah hanya akan menjadi simbol kepedulian yang setengah hati yang justru semakin membuat para penjajah merasa nyaman.
Rafah mungkin memberi napas bagi Gaza, tetapi napas itu sangat pendek jika penjajahan tetap berjalan tanpa henti. Selama akar masalah tidak diselesaikan, rakyat Palestina akan terus hidup di antara bantuan kemanusiaan yang terbatas dan penjajahan yang terus meluas. Dunia harus memilih antara sekadar mengirim bantuan, atau benar-benar menghentikan ketidakadilan yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut.
Pembukaan perbatasan Rafah sering diberitakan sebagai langkah “kemanusiaan” untuk membantu rakyat di Gaza Strip. Namun faktanya, pembukaan itu kerap dilakukan secara terbatas, bersyarat, dan hanya untuk waktu tertentu. Bantuan yang masuk tidak sebanding dengan kebutuhan rakyat yang terus dibombardir oleh Israel.
Akibatnya, penderitaan rakyat Gaza tetap berlangsung meskipun pintu Rafah sesekali dibuka.
Pembukaan yang setengah hati ini menunjukkan bahwa solusi yang diambil dunia internasional masih bersifat tambal sulam. Akar persoalan sebenarnya bukan sekadar tertutupnya Rafah, melainkan penjajahan dan blokade sistematis yang dilakukan terhadap Gaza selama bertahun-tahun.
*Solusi Hakiki Hanya ada Di Sistem Islam*
Sejak diberlakukannya blokade ketat oleh Israel terhadap Gaza Strip pada tahun 2007, wilayah kecil ini berubah menjadi penjara terbuka bagi lebih dari dua juta penduduknya. Akses makanan, obat-obatan, listrik, hingga bahan bakar sangat dibatasi. Setiap konflik militer terjadi maka otomatis membuat situasi semakin parah.
Dalam kondisi seperti ini, membuka Rafah secara terbatas hanya meredakan sebagian kecil krisis, tetapi tidak mengakhiri penderitaan rakyat Gaza secara keseluruhan. Semestinya solusi hakiki harus menyentuh akar persoalan, bukan sekadar meredakan dampaknya. Dalam sistem Islam, cara untuk mengakhiri penderitaan rakyat gaza adalah; Pertama. Mengakhiri blokade Gaza secara total. Blokade yang menutup akses keluar-masuk Gaza harus dihentikan. Karena selama blokade masih berlangsung, krisis kemanusiaan akan terus berulang.
Kedua. Menghentikan penjajahan dan agresi. Selama pendudukan dan ekspansi wilayah oleh Israel masih terjadi, perdamaian sejati sulit tercapai. Dunia internasional seharusnya menekan agar penjajahan ini dihentikan secara total.
Ketiga. Persatuan dan keberpihakan dunia Islam. Negara-negara Muslim memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan diplomatik yang besar. Jika bersatu, mereka dapat memberikan tekanan nyata untuk melindungi rakyat Palestina.
Keempat. Membangun sistem politik global yang adil. Banyak pihak menilai bahwa sistem politik internasional saat ini sering berpihak pada kekuatan besar dan mengabaikan keadilan bagi rakyat tertindas. Oleh karena itu diperlukan tatanan yang benar-benar menegakkan keadilan dan melindungi hak bangsa yang dijajah.
Dengan demikian maka, pembukaan Rafah secara terbatas hanyalah solusi sementara yang tak memilika dampak positif jangka panjang. Selama akar masalah yaitu penjajahan dan blokade terhadap Gaza tidak diselesaikan, penderitaan rakyat Gaza akan terus berulang secara terus menerus.
Karena itu, solusi hakiki bukan sekadar membuka pintu bantuan, tetapi mengakhiri penjajahan dan memastikan kemerdekaan serta keamanan bagi rakyat Palestina. Namun semua itu hanya akan terwujid jika sistem islam yang menjadi pengatur kehidupan kita. Wallau alam.

No comments:
Post a Comment