Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Membaca tentang peradaban Islam, penulis terpukau pada tulisan tentang kondisi di masa kekhilafahan Salah satunya terkait kesehatan. Pada masa itu muslimin telah membangun banyak rumah sakit. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah RS disediakan bagi orang-orang yang terkena penyakit lepra dan tunanetra. Ini tahap permulaan. Perkembangannya berikutnya lagi di masa pemerintahan Bani Abasiyyah. Di masa ini, banyak dibangun rumah sakit di kota Baghdad, Kairo, Damaskus, dll.. Di masa ini pertama kali adanya rumah sakit keliling. Istimewanya rumah sakit yang dibangun di masa pemerintahan Islam dibedakan antara bagian laki-laki dan wanita. Di dalamnya disediakan kamar-kamar khusus bagi setiap pasien.
RS adh-Dhudi di Baghdad. RS ini dibangun oleh Daulah bin Buwaihi pada tahun 371 H setelah ar-Razi, dokter yang amat terkenal waktu itu memilih tempatnya dengan cara meletakkan empat potong daging di empat penjuru Baghdad dalam semalam. Tatkala pagi tiba, ia mendapatkan daging yang terbaik baunya di tempat yang menjadi letak rumah sakit itu di kemudian hari. Di rumah sakit ini ditempatkan 24 orang dokter dan dibangun semua yang dibutuhkan rumah sakit, seperti perpustakaan ilmiah, apotek, dapur umum dan gudang-gudang.
Pada tahun 449 H, Khalifah al-Qaim Biamrillah memperbaruinya. Selain menambah jumlah dokter dan tenaga medis lainnya, fasilitas juga diperbagus. Di rumah sakit itu juga terdapat kolam besar yang berada di samping kebun yang penuh dengan aneka macam pohon buah-buahan dan sayur-mayur. Sehingga kesan rumah sakit itu nggak burem dan angker. Perahu-perahu berlayar mengangkut para pasien yang lemah dan miskin. Para dokter melayani mereka secara bergiliran pagi dan petang, juga malam hari. MaasyaaAllaah.
Belum habis kekaguman, pada masa kejayaan Islam, RS an-Nuri yang didirikan oleh Malik Adil Nuruddin asy-Syahid pada 549 H (1154 M), termasuk yang terbaik di seluruh negeri dan khusus diperuntukan bagi pasien yang kurang mampu (kalangan miskin). Di RS ini para dokter dan tenaga medis lainnya sangat baik dalam memerhatikan pasien.
Demikian pula Rumah Sakit Besar al-Manshuri (Bymaristan Qalawun) yang dibangun pada masa Khalifah Malik Manshur Saifuddin Qalawun pada tahun 683 H (1284 M). Setiap tahun beliau mewakafkan untuk rumah sakit tersebut 1.000 dirham. Di rumah sakit ini, sebagian dokter mata yang bekerja di rumah sakit tersebut mengatakan, setiap hari pasien yang masuk dan yang keluar berjumlah 4.000 orang. Setiap pasien yang sembuh dan yang ke luar dari rumah sakit tersebut selalu diberikan pakaian dan sejumlah uang untuk nafkahnya sehingga ia tidak perlu segera bekerja berat untuk mencari penghidupan.
Tak kalah mengagumkan, Rumah Sakit Marrakesh yang didirikan oleh Amirul Mukminin Manshur Abu Yusuf menjadi rumah sakit yang melayani pasien dengan perhatian penuh. Jika pasien sembuh, sedangkan ia miskin, maka ia diberi uang untuk biaya hidupnya selama belum kerja. Jika pasien itu dari kalangan kaya, maka uangnya dikembalikan kepadanya (alias gratis). Setiap hari Jumat, Amirul Mukminin mengunjunginya, menjenguk para pasien dan menanyakan keadaan mereka serta menanyakan perlakuan dokter dan perawat terhadap mereka.
Miris. Jika melihat kondisi negeri ini. Di saat terjadi penonaktifan BIP bagi para pasien BPJS, terpampang nyata betapa kondisi di masa Islam tegak dengan sistemnya, sangat berbeda jauh dengan layanan kesehatan di masa sekarang.
Sedih. Marah. Kecewa. Campur aduk rasanya saat seorang ibu mau melahirkan, saat seorang Bapak mau cuci darah sementara jarum sudah ditusukkan, ternyata BPJS mereka non aktif. Kalimat apa yang pantas untuk melampiaskan rasa pilu ini.
Kesehatan seakan menjadi ladang permainan. Ladang menunggu keabsahan untuk ditangani. Sistem tidak berpihak pada urgennya kedaruratan kesehatan manusia. Sistem hanya tunduk pada aturan yang tidak berpihak pada kondisi manusia yang butuh segera dibantu. Pengurusan manusia seakan tidak nyata. Butuh citra dulu baru niscaya. Lalu akankah kondisi ini terus seperti ini? Menunggu manusia wafat baru segera sirine gawat darurat berbunyi? Tentu tidak. Belum cukup kah gambaran jaminan kesehatan yang tergambarkan pelayanannya di masa Islam berjaya menjadi kerinduan yang urgen untuk diwujudkan? Seluruhnya tercermin karena Islam secara kaffah terealisasi. Maukah kembali?
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment