Oleh: Reka Nurul Purnama
Dunia diramaikan dengan aksi AS melakukan penyerangan terhadap negara berdaulat yaitu Venezuela. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi melalui media sosial pribadinya sendiri, AS telah menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya (CNN Internasional).
Peristiwa ini menuai banyak kecaman termasuk dari kalangan pakar hukum internasional. Prof. Iman Prihandono, Guru Besar FH Universitas Airlangga, mengatakan tindakan AS tidak memiliki dasar legitimasi dalam hukum internasional dan termasuk dalam kategori agresi. Hukum internasional hanya mengakui dua alasan pembenar untuk tindakan terhadap negara lain, yang pertama adalah tindakan pertahanan diri sebagai respons atas serangan sebelumnya dan yang kedua adalah berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyetujui tindakan ini. Meskipun AS menyebutkan perdagangan orang dan narkoba sebagai alasan, Prof. Iman menegaskan bahwa mekanisme hukum internasional melalui perjanjian multilateral dan regional sudah ada untuk menangani masalah tersebut tanpa kekuatan bersenjata. (Hukumonline.com)
Kekayaan alam Venezuela memang luar biasa. Venezuela memiliki 303 miliar barel cadangan minyak per 2025, sebagai peringkat #1 di dunia, menyumbang 17,17% dari total cadangan dunia. (www.worldometers.id)
Meski cadangan besar, pemulihan sektor minyak Venezuela terhambat infrastruktur rusak, biaya produksi tinggi, dan sanksi AS. Produksi minyak Venezuela telah menurun sekitar 70 persen sejak akhir 1990-an.
Statistical Review of World Energy yang diterbitkan Energy Institute menunjukkan negara-negara dengan produksi minyak terbesar. Amerika Serikat berada di posisi teratas sebagai produsen minyak dunia dengan produksi lebih dari 20 juta barel per hari, walaupun cadangan minyaknya hanya sekitar 45 miliar barel. Kondisi ini tidak lepas dari pola industri minyak serpih AS yang mencatat cadangan jangka pendek dan terus memperbaruinya lewat aktivitas pengeboran berkelanjutan.
Sementara itu, Venezuela dengan cadangan minyak mencapai 303 miliar barel justru hanya mampu memproduksi 960 ribu barel per hari. Dengan kondisi tersebut, rasio cadangan terhadap produksinya melebihi 800 tahun, menjadi yang tertinggi di dunia. (CNBC Indonesia)
Apa yang dilakukan AS terhadap Venezuela setidaknya menggambarkan sesuatu yang sangat menyeramkan yaitu kendali AS terhadap negara lemah begitu nyata terjadi. Menurut cendekiawan Muslim, Ustadz Ismail Yusanto, mengatakan bahwa intervensi asing dalam bentuk paling nyata adalah intervensi militer, yakni ketika militer negara asing masuk ke situ. Itu sangat mungkin terjadi ketika negara yang diserang dalam posisi sangat lemah. Lemah secara ekonomi, lemah secara politik, dan yang paling utama adalah lemah secara ideologi.
Hal ini menguatkan fakta bagaimana Venezuela tidak bisa maksimal dalam produksi minyaknya padahal memiliki cadangan terbesar di dunia, dikarenakan intervensi AS di dalamnya sejak lama. Dari kejadian ini kita melihat siapa sebenarnya yang mengendalikan geopolitik dunia dan siapa yang dikendalikan. Venezuela adalah salah satu negara lemah yang dijatuhkan martabatnya di depan dunia, sayangnya AS adalah negara yang kebal hukum internasional dan hal ini semakin membuat "takut" pemimpin di negara-negara yang "lemah".
Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wajdi mengatakan bahwa serangan AS juga mengokohkan Trump Corollary atau versi baru doktrin Monroe, yang bertujuan untuk menegaskan dominasi AS di Benua Amerika dan mencegah pengaruh pesaing global seperti Cina dan Rusia. (Muslimahnews).
AS secara telak melakukan pukulan kepada negara-negara yang dianggapnya sebagai pesaing global, dengan mematikan mitra mereka, yaitu Venezuela. Kembali lagi AS ingin menunjukkan pengaruhnya sebagai negara super power di dunia dengan kekuatan penjajah global, di mana kepentingan ekonomi minyak dan geopolitik menjadi alasan sah untuk menyerang negara lain.
AS dengan ideologi kapitalisme yang mementingkan eksploitasi kekayaan alam negara lain melalui dominasi politik dan militer akan semakin memperburuk penderitaan rakyat di dunia khususnya di wilayah konflik seperti Timur Tengah dan Asia. AS kembali menegaskan bahwa negaranya bukanlah sebuah negara yang membawa perdamaian dan pemersatu dunia, sebagaimana yang disampaikan Trump saat pelantikan sebagai presiden AS jilid dua. Justru sebaliknya AS adalah negara yang menciptakan huru-hara dan perpecahan di dunia.
Negara imperialis seperti AS hanya menjadikan negara-negara lain sebagai objek jajahan, terutama negara yang lemah ekonominya, politiknya, dan ideologinya. Maka dari itu, AS selamanya akan menjadi negara yang kuat, sedangkan kondisi dunia global akan semakin terhimpit dan terkoyak-koyak oleh kebijakan AS yang sewenang-wenang.
Sudah saatnya, kita sebagai umat Islam tidak tinggal diam melihat kedzaliman dan kejahatan AS terhadap dunia. Sebagai umat terbaik, sikap umat Islam terhadap AS adalah jelas, yakni meyakini AS adalah negara Muhariban fi'lan, yang secara nyata memerangi umat Islam dengan menggelontorkan senjatanya kepada zionis untuk genosida muslim di Gaza. Hubungan dengan negara Muhariban fi'lan adalah hubungan perang, tidak ada hubungan ekonomi, politik, militer, atau menjadi bagian dari grup yang AS ciptakan sendiri. Sebagaimana AS, yang menetapkan sikapnya sebagai negara yang melegitimasi peperangan terhadap negara lain, atau menetapkan kebijakan politik luar negeri yang ofensif.
Maka Islam juga sudah memberikan pedoman dari zaman Rasulullah saw. dalam hal politik luar negerinya, yaitu Islam mendorong politik luar negeri yang ofensif dengan menetapkan jihad dan dakwah sebagai cara untuk menampakkan agama Islam di mata dunia. Islam sebagai negara yang universal, bisa menerapkan jihad dan dakwah ketika Islam bisa diterapkan dalam sebuah institusi negara sebagaimana dulu Rasulullah sebagai kepala negara di Madinah. Lalu setelah wafatnya Rasulullah, kepemimpinan umat Islam diganti Abu Bakar, lalu Umar bin Khattab, lalu Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib (Khulafaur Rasyidin).
Dominasi AS yang rakus, menumpahkan darah, dan sewenang-wenang, harus dilawan dengan negara yang kuat ekonominya, politiknya, dan ideologinya. Islam sebagai opsi terbaik, karena dulu Islam pernah menjadi institusi negara yang ditakuti Persia dan Romawi sebagai "negara adidaya" pada zamannya. Wallahu'alam.


No comments:
Post a Comment