Oleh: Jumiran (Pegiat Literasi)
Penderitaan muslim Gaza belum usai. Kini memasuki babak baru yang lebih licik. Kehancuran dan ribuan warga Gaza menjadi korban, AS dan Zion!s justru tampil membawah narasi perubahan dan perdamaian. Bahkan secara terbuka menyerukan penghancuran total serta pengusiran warga Gaza secara paksa. Dasar inilah, menjadikan AS menggagas sebuah ide baru yaitu rencana pembangunan New Gaza. Dalam pengumumannya, Gaza di proyeksikan menjadi kawasan modern, dengan gedung pencakar langit, pariwisata, bandara, pelabuhan dan pusat industri.
Saat yang sama pula, AS menggagas pembentukan Board of peace, sebuah badan pengawas multilateral yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan rencana Perdamaian Gaza dan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang diinisiasi oleh AS dan Isr*el. Board of peace for Gaza, dalam sejumlah pemberitaan disebutkan bahwa sebagai dewan perdamaian Gaza pasca perang. Secara formal, Board of peace di proyeksikan akan mengambil alih pengelolaan politik, keamanan dan rekonstruksi Gaza dengan melibatkan berbagai negara-negara muslim termasuk Indonesia.
Prabowo Subianto menyampaikan pesan optimisnya, bahwa akan tercapainya perdamaian di Gaza, usai penandatangan Board of peace (BoP). Tidak tanggung-tanggung, untuk menjadi keanggotaan tetap Indonesia harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit jumlahnya, yakni 1 miliar dolar ( 17 triliun rupiah). Tentu bukan angka yang sedikit, ditengah berbagai bencana Sumatra yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan, seharusnya dana tersebut dialihkan untuk perbaikan wilayah Sumatra. (Dilansir dari CNBC Indonesia, 3-2-2026).
Sejatinya, narasi Pembangunan New Gaza tidak lahir dari kesadaran moral atas penderitaan rakyat Palestina. Melainkan, hal ini merupakan Langkah politik pasca-genosida. Pada dasarnya, Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun Gaza baru yang berisi Gedung-gedung tinggi, wisata Pantai, bandara, pelabuhan, apartemen dan pusat industri.
Sebenarnya pola ini bukanlah hal baru dalam Sejarah global. Sejarah Pasca-Perang Dunia II, AS selalu meluncurkan bantuan untuk pemulihan Eropa. Dibalik Bahasa “bantuan” dan “solidaritas”, skema yang menanamkan dominasi politik dan ekonomi AS. Dampaknya, bantuan disertai syarat, pinjaman yang menciptakan ketergantungan dan kebijakan yang dibentuk selaras dengan kepentingan hegemoni AS. Maka jelas, pola ini Kembali diulang di Gaza, saat kehancuran total, dijadikan titik nol untuk membangun tatanan baru, yang sejatinya sepenuhnya tetap berada kendali AS.
Apalagi penjajahan ini di bungkus dengan Bahasa hukum dan kemanusiaan. Pencaplokan wilayah dikemas sebagai investasi. Selanjutnya, Gedung tinggi pencakar langit dipamerkan untuk mengalihkan perhatian dunia dari reruntuhan rumah, pengusiran massal dan pembantaian warga sipil.
Dalam kerangka inilah BoP perlu dikritisi. Karena sejatinya BoP tidak dibentuk untuk menyelesaikan persoalan Palestina. Justru, BoP ditujukan untuk menghancurkan Palestina seutuhnya, dan membangun tatanan kehidupan baru dibawah kendali penuh AS. Adapun. Keikutsertaan negara-negara muslim termasuk Indonesia, hanyalah pelengkap legitimasi.
Disisi lain, keikutsertaan negara-negara muslim dalam BoP merupakan penghianatan terhadap Muslim di Gaza. Negara-negara yang terlibat dalam agenda tersebut semakin memperlihatkan krisis buruk dalam sistem kepemimpinan politik Islam yang independen. Dibawah kekuasaan kapitalisme dan sekularisme, telah membentuk karakter pemimpin negeri muslim lebih tunduk pada tata aturan global kafir, daripada membela keadilan umat.
Sejatinya, Palestina tidak membutuhkan BoP atau rencana AS lainnya. Yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari kependudukan zionis. Sedari awal persoalan Palestina bukanlah sekadar masalah kemanusiaan atau kegagalan dalam tata kelola internasional, melainkan persoalan akidah, kedaulatan dan kepemimpinan. Tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin yang dirampas melalui penjajahan. Maka, tanah Palestina harus dibebaskan dari Zionis.
Sedangkan perdamaian hakiki, hanya akan diraih Palestina jika Zionis benar-benar keluar dari Palestina, dan satu-satunya jalan untuk mengusir Zionis adalah melalui jihad dan khilafah. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengkomando jihad Akbar seluruh kaum muslimin untuk pembebasan Palestina seluruhnya dari penjajahan Zionis.
Keberadaan negeri-negeri muslim haram bersekutu kepada para penjajah. Negeri-negeri muslim harus bersatu melawan negara kafir harbi fi'lan yang tengah memerangi muslim Palestina (Zionis dan AS). Negeri-negeri muslim harus bersatu, bersegera menegakkan khilafah sebagai agenda utama dan segera merealisasikannya dalam kehidupan bernegara.
Wallahu a'lam bisshawab.

No comments:
Post a Comment