Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rajab, Isra Mikraj: Momen Membumikan Hukum Langit

Tuesday, January 27, 2026 | Tuesday, January 27, 2026 WIB Last Updated 2026-01-27T07:30:37Z




Oleh Nani Sumarni 

Aktivis Muslimah


​Bagi mayoritas umat Islam, bulan Rajab dan peristiwa Isra Mikraj sering kali diperingati sebatas seremoni tahunan. Narasi yang berkembang biasanya hanya berkisar pada perjalanan mukjizat Rasulullah SAW ke Sidratul muntaha dan turunnya perintah shalat lima waktu. Namun, jika kita menggali lebih dalam secara historis dan ideologis, Isra Mikraj bukanlah sekadar perjalanan spiritual personal. Peristiwa ini adalah gerbang perubahan politik yang menjadi titik tolak transformasi peradaban manusia (dikutip dari Detik.com, 10 Januari 2026).

 

​Selama ini, hikmah Isra Mikraj sering kali dikerdilkan hanya sebatas perintah ibadah mahdah (ritual). Padahal, dalam literatur hadis, "shalat" sering kali menjadi kinayah (kiasan) bagi tegaknya otoritas hukum Allah.


Sebagaimana dalam Hadis Riwayat Muslim, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

​"Akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian ketahui (kebaikan dan kemungkarannya)..." Para sahabat bertanya: "Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?" Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat."


​Dalam konteks siyasah (politik Islam), frasa "mendirikan shalat" di sini dimaknai sebagai tegaknya aturan-aturan Islam secara keseluruhan oleh sang pemimpin.


​Fakta sejarah mencatat bahwa tak lama setelah peristiwa agung ini, terjadi Baiat Aqabah II—sebuah kesepakatan politik yang memberikan legitimasi bagi Rasulullah SAW untuk memimpin Madinah. Hal ini membuktikan bahwa Isra Mikraj adalah mukadimah bagi lahirnya sebuah entitas politik baru yang berlandaskan wahyu, bukan hawa nafsu manusia.


Rasulullah SAW pun menjelaskan fungsi pemimpin (Imam) sebagai perisai yang melindungi umat dari ancaman dan penjajahan melalui sabdanya:

​"Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya (mendapat perlindungan) dan berlindung dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).


​Bencana Global Akibat Pengabaian Syariat


​Tepat 105 tahun setelah runtuhnya Khilafah, umat Islam kehilangan perisai dan tatanan yang mampu menerapkan hukum Islam secara kafah. Kekosongan kepemimpinan Islam ini telah memaksa dunia tunduk di bawah sistem sekuler-kapitalisme yang eksploitatif.


​Padahal, Islam melarang terpecah-belahnya umat ke dalam sekat-sekat bangsa (nasionalisme) yang melemahkan kekuatan Muslim. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..." Rasulullah pun menguatkan hal ini dalam hadis riwayat Bukhari: "Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."


​Ketiadaan institusi yang menyatukan umat telah menyebabkan rentetan bencana struktural di hari ini:

1. ​Bencana Politik dan Ekonomi: Ketimpangan kekayaan yang ekstrem serta praktik penjajahan gaya baru.

2. ​Bencana Kemanusiaan: Penindasan sistematis terhadap Muslim di Palestina, Rohingya, Uighur, India, hingga Rusia dan Filipina Selatan.

3. ​Bencana Sosial: Runtuhnya tatanan moral akibat nilai-nilai liberalisme yang dipaksakan secara global.


​Tanpa hukum Allah yang membumi, keadilan hanyalah slogan di atas kertas. Demokrasi sekuler saat ini justru menjadi alat untuk melegalkan penentangan terhadap hukum sang Pencipta. Padahal, kewajiban untuk memutuskan perkara hanya berdasarkan wahyu Allah,

telah ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 49: "Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka..."


​Memulihkan Kemuliaan: Tugas Sejarah Umat Terbaik

​Mengingat Isra Mikraj berarti mengingat Palestina, titik awal perjalanan Mikraj Rasulullah SAW. Hari ini, tanah suci tersebut terbelenggu oleh entitas penjajah. Pembebasan Palestina, penyatuan negeri-negeri Muslim, dan penghentian kezaliman terhadap minoritas Muslim di seluruh dunia membutuhkan lebih dari sekadar doa; ia membutuhkan kekuatan politik nyata dan kepemimpinan yang berani.


​Umat Islam hari ini adalah pewaris keberanian para pahlawan besar. Kita adalah cucu dari Shalahuddin al-Ayyubi sang pembebas Al-Aqsa, cucu dari Muhammad al-Fatih penakluk Konstantinopel, dan cucu dari Khalifah Abdul Hamid II yang menjaga tanah Palestina dengan kehormatannya.


Potensi untuk mengembalikan kemuliaan Islam melalui tegaknya Khilafah Rasyidah adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan, sesuai dengan janji Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Ahmad:

​"...kemudian akan ada masa Khilafah yang mengikuti manhaj (metode) kenabian."


​Perjuangan menegakkan Khilafah bukanlah hal yang bersifat opsional, melainkan kebutuhan vital dan agung bagi keselamatan umat manusia. Saat ini, partai Islam ideologis terus bergerak siang dan malam untuk membimbing umat dan menyerukan kepada para pemilik kekuatan (ahlun nushrah), termasuk tentara Muslim, untuk bergerak membebaskan Palestina dan menyatukan kembali umat di bawah satu bendera.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update