Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perubahan Hakiki Generasi dengan Islam Kaffah

Thursday, January 01, 2026 | Thursday, January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-01T05:44:21Z

 

 


Oleh Ummu Muthya

Ibu Rumah Tangga 



Fakta saat ini pemuda menunjukkan kondisi yang memprihatinkan karena pemuda tumbuh di tengah sistem yang rusak. Kehilangan arah, jauh dari identitas hakiki sebagai muslim, orientasi ditentukan standar materi, dan mengejar popularitas dan kesenangan sesaat. Teknologi digital dan gawai bahkan menjadi pusat kehidupan dan mengabaikan misi hidup dan nilai perjuangan. 


Dalam situasi ini pemuda bukan hanya kehilangan peran sebagai agen perubahan, tetapi juga rentan menjadi korban kerusakan sistem. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan berita tentang pemuda yang melakukan bullying, terjerat pinjol dan judol, terjerumus free sex, kriminalitas, hingga aksi bunuh diri.  


Di sisi lain kaum ibupun mengalami degradasi peran yang serius. Hal ini disebabkan sistem kapitalisme yang ada menjadikan ibu tidak lagi diposisi ummu wa rabbatul bayt dan pencetak generasi peradaban. Berbagai kebijakan mendorong kaum ibu keluar dari peran strategisnya tersebut dan menyeret mereka ke ranah produktivitas ekonomi semata. Ini seolah-olah nilai seorang ibu hanya diukur dari kontribusi materi.


Peran ibu menurut rate mate care yang digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak telah menargetkan perempuan dalam angkatan kerja sebagai strategi pembangunan nasional. Akibatnya fungsi pendidikan, pengasuhan dan penanaman nilai Islam dalam keluarga semakin terabaikan, dan semakin pelik dengan hadirnya digital netral. Dimana kapitalisme-digital membentuk opini bahwa ibu dan generasi muda memiliki gap (kesenjangan).


Kesenjangan ini sejatinya sengaja dibuat agar dua generasi (tua-muda) tercerai-berai dan kehilangan ikatan nilai yang menyatukan. Oleh karena itu kapitalisme dengan paradigma materialistiknya hanya memandang ibu dan generasi muda sebagai objek komersial. Perhatian utama bukan pada keselamatan iman, akhlak, dan masa depan peradaban melainkan pada potensi pasar, konsumsi, dan keuntungan. Sementara kerusakan mental, krisis identitas, dan kehampaan spiritual dianggap sebagai efek samping yang wajar dari kemajuan.


Kapitalisme memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, termasuk di dunia digital. Kapitalisme tidak segan menjauhkan mereka dari pemikiran Islam kafah, bahkan sangat arogan dalam menumbangkan konten dakwah Islam ideologis di dunia digital.


Akhirnya, media sosial menjadi kecemasan tersendiri bagi ibu-ibu, khususnya terkait dampak informasi bagi anak. Mau tidak mau, para ibu zaman sekarang harus belajar dan menyiapkan diri mengenai tata cara mengasuh anak-anak yang merupakan generasi melek teknologi.


Selain itu, digital telah menetapkan berbagai ekspektasi yang tinggi bagi para ibu. Ibu muda sering merasa tertekan untuk mencapai validasi seperti yang tampak di media sosial. Mereka ingin selalu tampil sempurna dalam setiap aspek pengasuhan anak sebagaimana standar para selebritas atau figur publik. Hal ini juga dipengaruhi algoritma digital yang mengendalikan arah pandang dan cara berpiki terkait peran sebagai ibu. Algoritma bukan standar netral, karena algoritma dikendalikan ideologi kapitalisme. Algoritma adalah instrumen hegemoni digital yang digunakan oleh para kapitalis media global agar menjadi standar hidup baru bagi masyarakat di era digital saat ini.


Dalam kondisi seperti ini maka diperlukan pembinaan serius dan terarah, baik terhadap ibu ataupun generasi muda. Pembinaan ini harus mampu mengembalikan mereka pada fitrahnya sebagai muslim. Sekaligus membekali mereka dengan pemahaman Islam yang utuh sebagai solusi permasalahan kehidupan.  Akan tetapi pembinaan ini tidak mungkin diharapkan pada negara yang menolak Islam, atau menganggap Islam tak layak diterapkan (sekuler).


Negara sekuler sebagaimana negeri ini, justru membatasi peran agama pada wilayah privat dan ritual semata. Oleh karena itulah harapan hanya bisa disematkan kepada kelompok dakwah Islam ideologis, kelompok ini merupakan kelompok politik Islam yang berfungsi sebagai penjaga syariat dan pelopor kebangkitan umat. Kelompok ini bukan sekedar organisasi keagamaan atau sosial, melainkan entitas ideologis yang menjadikan Islam sebagai asas perjuangan dan tujuan perubahan firman Allah Swt:

  

"Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan menyuruh kepada amar makruf, mencegah dari yang mungkar, merekalah orang orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104)


Ayat ini menjadi landasan kelompok Islam ideologi yang terorganisir memiliki visi, perubahan yang konsisten menyeru dan mencegah segala bentuk kemungkaran, adapun kemungkaran saat ini adalah kemungkaran struktural yang dilakukan oleh para penguasa, karena mengabaikan penerapan aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Kelompok ini memiliki tujuan yang jelas, dengan azas yang jelas yang berasaskan akidah Islam. Bergerak secara kolektif atau berjamaah, dakwahnya bersifat politis yakni menyeru kepada penerapan seluruh aspek pengurusan urusan umat sesuai syariat islam.                                                                                                                                                                                                                                                   


Kelompok ini bergerak tanpa kekerasan,  berorientasi pada perubahan pemikiran atau fikriyah, syaksiyah Islam dan sistem serta tidak menjadikan kepentingan pragmatis sebagai tujuan metode dakwah yang dijalankanya meneladani Rasulullah saw yakni dakwah pikriyah dan siyasiyah, membina pemahaman Islam yang lurus ditengah umat. Mendakwahkan Islam ditengah umat, termasuk mengoreksi pemikiran rusak, mengoreksi kebijakan zalim penguasa, hingga terbentuk opini umum, bahwa hanya ideologi Islam yang layak diterapkan.


Kelompok ini pula yang pernah didirikan Rasulullah saw di Mekkah, di tengah sistem jahiliyyah yang mengatur masyarakat. Selain itu kelompok dakwah ideologis ini yang memperjuangkan Islam, bukan sekedar perbaikan moral individu, namun penerapan Islam secara menyeluruh. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang termanifestasi dalam institusi khilafah, Khilafah satu-satunya sistem yang mampu menjaga agama. Mengatur urusan dengan syariah serta melindungi peran ibu dan generasi sebagai pilar peradaban. 


Metode pembinaan yang dijalankan kelompok dakwah ini pun, terstruktur dan berkesinambungan. Ibu dan generasi muda dibina dalam lingkaran dakwah, dipahamkan dengan akidah yang kokoh, ditumbuhkan kepribadian Islamnya, dan ditanamkan kesadaran sebagai pengemban dakwah. Pembinaan ini tidak berhenti pada aspek spiritual, tetapi melahirkan individu yang berpikir tajam, peduli umat dan siap berjuang. 


Hasil dari pembinaan ini lahirnya individu berkepribadian Islam juga ibu yang sadar perannya sebagai pendidik generasi, dan pemuda yang siap menjadi pelopor perubahan. Alhasil mereka tidak akan terjebak dalam pragmatisme kapitalisme, tetapi bergerak dengan visi yang jelas, yakni menjaga syariat dan mengantarkan umat menuju kebangkitan Islam yang hakiki. 


Maka perubahan hakiki yang dibutuhkan saat ini adalah tegaknya Islam kafah melalui perjuangan dua generasi. Para ibu dapat mengoptimalkan perannya sebagai madrasatul ula yang mampu mencetak generasi terbaik, sedangkan  generasi muda mengeksplor potensi yang dimiliki dan memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara totalitas dengan memanfaatkan teknik digital.


Wallahu A'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update