Oleh Wida Eliana
Ibu Rumah Tangga
Bencana alam, khususnya di Sumatra, makin menyingkap krisis kepemimpinan, banyak pemimpin tidak berkompeten, haus kekuasaan, arogan, nir-empati, dan gagal mengayomi rakyat. Dalam mitigasi bencana, penguasa tidak terbuka terhadap kritik, bahkan melarang media memberitakan kekurangan pemerintah; pejabat mengecilkan dampak bencana dan sibuk melaporkan kinerja, sementara fakta lapangan berbeda.
Pemerintah berdalih tidak mudah menangani bencana, Presiden menyatakan tidak punya “tongkat Nabi Musa”, padahal memiliki kekuasaan untuk menolong rakyat, termasuk menetapkan status bencana nasional.
Nyata Krisis Kepemimpinan
Krisis kepemimpinan ditandai langkanya negarawan sejati dan melimpahnya politisi yang mengejar kekuasaan. Krisis juga terlihat dari normalisasi pelanggaran etika, memperparah degradasi moral dan hilangnya keteladanan pemimpin.
Pemimpin seharusnya role model, namun justru melakukan hal-hal tidak beretika. Empati pemimpin semakin tipis, mereka tetap hidup mewah di tengah bencana, kemiskinan, dan rakyat sulit mendapat pekerjaan. Di sisi lain, korupsi meningkat dari pusat hingga daerah, termasuk korupsi dana desa.
Iman dan Takwa Kuncinya
Krisis kepemimpinan terjadi karena asas sekularisme, pemisahan agama dari kekuasaan, sehingga tidak ada kendali kuat atas pemimpin. Aturan dan etika mudah dilanggar, bahkan diubah jika membelenggu ambisi kekuasaan. Perubahan syarat usia capres-cawapres menjadi contoh manipulasi aturan demi kekuasaan.
Berbeda jika negeri dilandasi iman dan takwa, dengan rasa takut kepada Allah sebagai kendali. Kekuasaan adalah amanah, kelak menjadi kehinaan dan penyesalan bagi pemimpin yang tidak menunaikannya. Rasulullah saw. sangat menjaga keadilan, dan berharap tidak ada tuntutan kezaliman atas dirinya.
Pemimpin diperintahkan memudahkan urusan rakyat, bukan mempersulit atau menakut-nakuti. Iman dan takwa melahirkan pemimpin seperti Abu Bakar ra. yang menjaga kehalalan dan menolak hidup berlebih dari harta negara. Contoh lain ketakwaan Umar bin al-Khaththab ra. tampak dari kepeduliannya pada rakyat hingga hewan di wilayah kekuasaan. Beliau menegakkan keadilan bahkan kepada keluarganya sendiri dalam penggunaan fasilitas negara.
Adil dengan Hukum Islam
Keadilan sejati tidak cukup dengan moral pribadi, tetapi membutuhkan hukum dari Allah.
"Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itu adalah pelaku kezaliman." (QS al-Maidah).
Tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum Allah. Hukum selain syariah adalah hukum jahiliah, bersumber dari kebodohan dan hawa nafsu. Kepemimpinan yang baik mensyaratkan penerapan syariah Islam. Syariah tidak memberi keistimewaan pada pejabat dan keluarganya. Syariah melindungi kepemilikan umum agar dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Krisis kepemimpinan akan berakhir ketika Islam menjadi landasan kehidupan dan syariah diterapkan secara kaffah.
Wallahu a'lam bish shawab.
No comments:
Post a Comment