Oleh. Delfiani
Pegiat Literasi
Indonesia kembali mencetak rekor dunia. Bukan dalam bidang sains, inovasi, atau pencapaian ekonomi, tetapi dalam hal yang seharusnya mengundang refleksi mendalam penggunaan ponsel untuk mengakses internet. Hampir seluruh penduduk usia dewasa kini hidup dalam genggaman layar, seakan dunia digital telah menjadi ruang utama kehidupan manusia modern. Pertanyaannya apakah ini wujud kemajuan digital, atau justru bentuk penjajahan gaya baru yang menggerus kesadaran kolektif bangsa?
Laporan Digital 2025 Global Overview mengungkap data yang mengejutkan. Sebanyak 98,7% penduduk Indonesia usia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, angka tertinggi di dunia. Durasi online harian masyarakat Indonesia pun mencapai 7 jam 22 menit, lebih tinggi dari rerata global. Dari segi perangkat, 63% masyarakat mengandalkan ponsel, hanya 37% yang menggunakan komputer. Adapun perempuan usia 16–24 tahun menjadi pengguna ponsel paling aktif dengan durasi hampir lima jam per hari. Data ini menunjukkan betapa eratnya keterikatan masyarakat terhadap teknologi digital, khususnya ponsel.
Kapitalisme Digital: Mengubah Pengguna Menjadi Produk
Sayangnya, fenomena ini jarang dibaca secara kritis. Tingginya penggunaan teknologi bukan sekadar tren modernitas, melainkan hasil operasi sistemik dari kapitalisme digital. Dalam sistem ini, manusia tidak lagi sekadar pengguna, mereka adalah komoditas. Setiap detik yang dihabiskan di layar berarti data yang dipanen, perhatian yang dijual, dan keuntungan yang mengalir untuk korporasi global pemilik platform digital.
Algoritma bekerja tanpa henti mengatur apa yang kita lihat, pikirkan, dan konsumsi. Pengguna secara perlahan bergeser dari makhluk berkesadaran menjadi objek yang dikendalikan pola algoritma. Pikiran, waktu, bahkan emosi direkayasa agar mereka terus terhubung bukan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi untuk mempertahankan profit industri digital.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mengalami digitalisasi yang bersifat konsumtif, bukan produktif. Masyarakat tenggelam dalam hiburan instan, scroll tanpa henti, dan percakapan dunia maya yang sering kali dangkal. Sedikit sekali yang menggunakan teknologi untuk belajar, meneliti, atau mengembangkan kompetensi diri.
Akibatnya, generasi muda tumbuh menjadi generasi yang fasih menggunakan aplikasi, tetapi tidak kompeten dalam berpikir kritis. Mereka kreatif membuat konten, tetapi miskin visi peradaban. Mereka terhubung ke seluruh dunia, tetapi kehilangan koneksi dengan diri sendiri, keluarga, dan nilai-nilai yang membentuk kepribadian mulia.
Invasi Peradaban Barat Melalui Layar
Yang lebih mengkhawatirkan, ketergantungan digital ini sesungguhnya bagian dari invasi peradaban Barat yang terjadi tanpa suara. Mereka tidak perlu datang dengan senjata atau pasukan. Cukup menguasai ruang digital, maka mereka menguasai pikiran dan gaya hidup masyarakat.
Melalui layar ponsel, nilai-nilai liberal, hedonisme, budaya instan, dan individualisme mengalir deras. Remaja lebih hafal nama selebritas dunia maya daripada ulama atau tokoh peradaban Islam. Mereka lebih akrab dengan wacana bebas daripada akhlak. Lebih lama menatap layar daripada menatap wajah orang tua. Krisis peradaban ini nyata, dan semakin membahayakan jika tidak segera disadari.
Mengapa Islam Hadir Sebagai Jalan Penyelamat?
Dalam kondisi seperti ini, solusi tidak cukup berhenti pada edukasi literasi digital atau imbauan untuk gunakan ponsel secara bijak. Yang dibutuhkan adalah sistem hidup yang menata arah, visi, dan tujuan penggunaan teknologi. Islam hadir dengan solusi peradaban yang menyeluruh, bukan parsial. Islam memandang teknologi sebagai alat peradaban, bukan candu yang membunuh potensi manusia.
Di bawah sistem Islam, negara memiliki kewajiban mengatur agar teknologi benar-benar membawa kemaslahatan, mengembangkan teknologi secara mandiri untuk riset, pendidikan, dan kemajuan umat bukan bergantung pada raksasa teknologi global.
Menerapkan pendidikan berbasis aqidah yang membentuk kepribadian Islam dan kemampuan mengendalikan diri dalam penggunaan teknologi.
Menjalankan hisbah untuk menjaga ruang digital dari konten destruktif seperti pornografi, judi online, dan budaya liberal.
Mengarahkan teknologi untuk memperkuat umat, bukan memecah-belah atau merusak mental generasi muda.
Peradaban Islam di masa lalu telah terbukti memadukan spiritualitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masyarakat yang seimbang, cerdas secara intelektual dan kuat secara moral.
Saatnya Kembali pada Kompas Islam
Data Digital 2025 seharusnya menjadi alarm keras bagi bangsa ini. Ketika masyarakat semakin tenggelam dalam dunia maya, mereka sebenarnya sedang kehilangan pijakan di dunia nyata. Jika ketergantungan digital ini terus dibiarkan, generasi mendatang akan tumbuh rapuh, mudah diarahkan, dan kehilangan jati diri sebagai umat terbaik.
Karena itu, perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar pembatasan gawai, melainkan perubahan mendasar dalam sistem yang mengatur kehidupan. Kita membutuhkan kompas peradaban yang jelas, Islam sebagai jalan hidup, dan teknologi sebagai alat untuk memuliakan kehidupan, bukan menghancurkannya.
Umat ini terlalu mulia untuk sekadar menjadi konsumen layar. Umat ini diciptakan untuk memimpin peradaban. Dan itu hanya mungkin jika Islam kembali menjadi ruh kehidupan dan pengatur arah teknologi.
No comments:
Post a Comment