Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Maraknya kasus perundungan atau bullying di dunia pendidikan, baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, masih saja menghiasi negeri ini. Salah satu kasus terbaru adalah yang menimpa seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud) bernama Timothy Anugrah Saputra yang meninggal dunia dan diduga menjadi korban perundungan.
Viralnya kasus perundungan di atas menambah panjang rantai kekerasan yang dilakukan oleh pelajar di negeri ini. Dunia pendidikan kembali tercoreng. Kegagalan pendidikan sekuler makin mengemuka. Bukan kesalehan yang dihasilkan namun kesalahan demi kesalahan terus diproduksi generasi tiada henti.
Disengaja atau tidak, merundung tetaplah perbuatan buruk yang merugikan orang lain bahkan sampai menghilangkan nyawa. Hal yang lumrah pada akhirnya dalam dunia pendidikan sekuler, karena terpangkasnya agama.
Dalam konteks pendidikan, perundungan bukan hanya kekerasan fisik atau verbal yang terlihat, tetapi juga bentuk intimidasi halus, seperti pengucilan sosial, ejekan daring, atau tekanan psikologis yang sulit dibuktikan. Artinya, meski tampak tenang, lingkungan sekolah atau kampus bisa menyimpan kultur kekerasan tersembunyi.
Berbagai bahaya mengintai akibat perundungan. Secara psikologis dan sosial, korban bisa mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Dalam kasus berat, korban bisa mengalami gangguan mental sampai bunuh diri. Normalisasi kekerasan pun tak urung menjadi hal lumrah, terus saja berulang kali terjadi.
Akar Masalah Perundungan
Dalam sistem pendidikan saat ini, realitanya agama hanya disampaikan sebatas untuk memenuhi kurikulum. Agama diajarkan bukan untuk menjadikan siswa berbudi luhur dan berkepribadian baik. Ditambah pula keberadaan guru yang patut digugu ditiru yang mengajarkan kesalehan semakin sedikit. Atmosfer kapitalisme secara bebas membentuk jiwa-jiwa yang jauh dari agama, baik dari sisi pendidik maupun yang dididik. Kepuasan pribadi dan ketidak pedulian terhadap sesama semakin mewarnai pola pikir dan pola sikapnya.
Dalam sistem pendidikan saat ini siswa yang merupakan bagian dari generasi bangsa tidak memiliki standar dalam bersikap karena kehilangan figur keteladanan terbaik. Generasi ini mudah sekali terpengaruh dengan perilaku-perilaku buruk yang diwariskan dari senior-seniornya. Munculnya geng anak sekolah yang menggejala, yang nota bene geng-geng ini liar dan ganas, membuktikan sistem pendidikan sekuler tak mampu menghadirkan benteng terbaik untuk melindungi generasi dari keburukan perilaku. Maraknya kasus perundungan menunjukkan keburukan perilaku hasil didikan sistem pendidikan sekuler.
Senyatanya sistem pendidikan sekuler tidak memiliki perangkat kuat untuk mencegah perilaku tak bermoral (tidak terkecuali perundungan). Kurikulum merdeka yang juga memasukkan moderasi beragama dalam pengajarannya malah mengikis nilai Islam itu sendiri. Islam diajarkan sebatas agama ritual yang mengatur perkara ibadah mahdhah saja. Padahal anak-anak sangat membutuhkan penanaman akidah Islam yang kuat serta pengamalan aturan Islam dalam kehidupan mereka agar tidak mudah terombang-ambing oleh budaya dan pemikiran asing yang sangat bertentangan dengan Islam yang pada akhirnya menjadikan mereka pribadi yang liberal dan brutal.
Selain itu sistem sekuler pun telah menjadikan tontonan menjadi tuntunan. Dunia gawai di era digital tanpa sensor sistem telah menghadirkan informasi dan tontonan yang tidak layak. Pencarian jati diri bisa jadi didapat dari tontonan yang diindra, sehingga saat merundung menjadi bagian dari aktualisasi jati diri, kekerasan sebagai bagian perundungan pun diikuti. Penggunaan gawai yang kebablasan akhirnya membuat generasi mengakses informasi yang tidak seharusnya mereka ikuti.
Terlebih lagi dalam masyarakat sekuler kapitalis kehidupan sosial cenderung individualis, egois, apatis dan nir empati, membentuk generasi kurang memiliki kepekaan sosial dan empati terhadap teman-temannya. Generasi menjadi amoral tak beradab, tak berakhlak.
Semua itu terjadi karena sistem sekuler telah merenggut kesucian fitrah generasi, hingga hilang budaya amar ma'ruf nahi munkar, muncul budaya liar dan sadis. Dunia dijadikan tujuan utama, lalai aturan agama, abai terhadap perintah-Nya, melupakan kehidupan akhirat dan adanya siksa api neraka.
Oleh karena itu sudah saatnya memahami bahwa pendidikan agama tidak akan mampu menyelesaikan masalah jika sistemnya masih sekuler. Masalah pendidikan bukanlah sistem yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang sedang berjalan. Masalah perundungan tidak hanya membutuhkan evaluasi dari lembaga pendidikan, tetapi juga pada sistem yang sedang berjalan.
Islam Solusi Pasti Terkait Perundungan
Diakui atau tidak, sistem pendidikan hari ini semakin hilang arah. Kurikulum pendidikan yang berubah-ubah menunjukkan tidak stabilnya pemerintah dalam mewujudkan kepribadian siswa. Ditambah lagi kebijakan pendidikan yang ada belum menyentuh akar semua masalah yang ada, termasuk kasus perundungan. Saat ini pendidikan hanya fokus pada pembentukan soft skill dan mengarahkannya sesuai minat agar mudah memasuki dunia kerja.
Berbeda dengan Islam. Sebagai sebuah sistem kehidupan, Islam menempatkan pendidikan berdasarkan pada pendalaman terhadap apa pun yang Allah Rasul-Nya ajarkan untuk membentuk kepribadian Islam. Kurikulum yang ada dibuat selaras untuk terwujudnya kepribadian Islam.
Dalam sistem pendidikan Islam, penanaman akidah adalah utama. Adanya kesadaran hubungan manusia dengan Allah adalah kontrol terbaik atas semua perbuatan manusia. Rasa takut terhadap Sang Khalik akan mendorong ketakwaan individu dan menjadi landasan dalam berbuat, baik hubungan pada dirinya sendiri, hubungannya dengan sesama termasuk temannya, serta hubungannya dengan Sang Pencipta. Keimanan ini akan mengontrol mereka dalam melakukan berbagai aktivitas, hingga perundungan pun tak kan dijadikan dalam pilihan menu perbuatannya, mereka akan memahami hak dan kewajiban sesama penuntut ilmu.
Sistem pendidikan Islam membangun diri mereka agar selalu menghiasi diri dengan adab dan akhlak, baik adab terhadap ilmu, terhadap teman sesama penuntut ilmu, terlebih juga adab pada guru. Sejatinya realisasi sistem pendidikan yang aman dan nyaman secara hakiki bagi peserta didik ini tak mungkin bila sistem hidup sekuler masih tetap disukai.
Demikianlah lonceng peringatan kerusakan ini harus berhenti. Harus ada perjuangan untuk kembali pada sistem Islam yang sempurna dan paripurna. Tanpa perwujudan sistem Islam, rantai kasus perundungan sulit terputus, begitu juga kasus kerusakan lainnya pun senantiasa akan terus menghantui generasi.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment