Oleh Lailiatus Sa’diah
Aktivis Muslimah
Insiden kepala sekolah yang menampar siswa dan foto remaja merokok di depan guru bukan sekadar kisah viral. Ia adalah potret suram dari sistem pendidikan yang kehilangan nilai dan arah hidup. Dalam dua pekan terakhir, publik dikejutkan oleh dua peristiwa yang mencerminkan krisis moral di dunia pendidikan.
Pertama, insiden di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. Kepala sekolah, Dini Fitri, menegur seorang siswa yang kedapatan merokok di belakang sekolah. Namun, teguran itu disertai kontak fisik hingga berujung laporan polisi. Menurut laporan Detik News, “teguran lisan yang keras itu juga disertai kontak fisik,” meski akhirnya kasus diselesaikan secara damai antara pihak sekolah dan keluarga siswa. Menariknya, insiden ini bahkan memicu aksi mogok sekolah oleh sekitar 630 siswa sebagai bentuk protes terhadap tindakan kepala sekolah. (Detik.com, 18 Oktober 2025)
Kedua, di Makassar, foto seorang siswa yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di meja guru menjadi viral di media sosial. Gurunya, Ambo, mengaku enggan menegur karena takut dianggap melanggar hak asasi manusia. “Zaman sekarang serba salah, dikerasin dikira menindas, dibiarin dibilang tidak mendidik,” ujar Ambo dikutip dari Suara.com. (Suara.com, 18 Oktober 2025)
Situasi ini diperparah oleh laporan World Health Organization (WHO) yang menyebut 15 juta remaja usia 13–15 tahun di dunia menggunakan rokok elektrik atau vape, dengan risiko sembilan kali lebih besar dibanding orang dewasa. (Inforemaja.id, 2025)
Fenomena ini tidak bisa hanya dilihat sebagai pelanggaran disiplin atau kenakalan remaja. Ia merupakan refleksi dari sistem pendidikan yang kehilangan arah moral. Guru kini terjebak di antara dua kutub: jika menegur keras, dianggap menindas; jika membiarkan, dituduh tidak mendidik. Wibawa pendidik runtuh bukan karena lemahnya otoritas, tetapi karena sistem pendidikan sekuler-liberal yang menyingkirkan agama dari ruang pembentukan karakter.
Remaja tumbuh dalam budaya yang menuhankan kebebasan, tapi miskin arah. Merokok di depan guru dianggap bentuk ekspresi diri, padahal akar persoalannya adalah hilangnya kesadaran spiritual tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Negara pun cenderung abai. Pendidikan lebih fokus pada kurikulum akademik dan angka kelulusan, sementara pembinaan adab dan akhlak hanya menjadi pelengkap. Ketika moral tidak lagi menjadi prioritas, kebebasan berubah menjadi kebablasan.
Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian yang bertakwa, bukan sekadar pengajaran ilmu. Guru dalam pandangan Islam adalah pilar peradaban, orang yang dimuliakan karena tugasnya membentuk akhlak generasi penerus.
Krisis moral di sekolah hari ini bukan sekadar kegagalan individu, tetapi kegagalan sistemik yang berakar pada paradigma pendidikan tanpa nilai. Ketika agama dipisahkan dari pendidikan, hasilnya adalah generasi cerdas tapi tidak beradab, pandai tapi tidak tahu arah hidup. Sudah saatnya guru kembali dimuliakan, adab kembali diajarkan, dan pendidikan dikembalikan ke fitrahnya, membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Pendidikan Islam tidak hanya menuntun pikiran, tapi juga menumbuhkan hati. Hanya dengan cara inilah sekolah dapat kembali menjadi benteng akhlak dan cahaya peradaban, bukan sekadar tempat menimba ilmu duniawi. Dan hal tersebut hanya dapat diwujudkan dengan menerapkan sistem Islam dibawah kepemimpinan seorang khalifah.
Di bawah kepemimpinan seorang khalifah, guru kembali berdiri di puncak kemuliaan. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga akhlak, penuntun peradaban, dan penerus risalah para nabi. Negara Islam menempatkan mereka di tempat yang semestinya dihormati, disejahterakan, dan dilindungi wibawanya.
Dalam sistem itu, pendidikan bukan sekadar urusan angka dan ijazah, melainkan ladang amal untuk menumbuhkan iman dan membentuk manusia bertakwa. Hanya dengan kepemimpinan yang menegakkan syariat, guru akan kembali berwibawa, sekolah akan kembali beradab, dan generasi muda akan kembali mengenal makna hidup yang sejati. Maka sudah saatnya kita menatap arah yang benar, mengembalikan pendidikan kepada Islam dan memuliakan guru di bawah naungan kepemimpinan khalifah pemimpin yang menegakkan ilmu, iman, dan kemanusiaan dengan cahaya wahyu.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment